Awal Mula Aku Menyukai Tarian Tradisional

LANGKAH ku tak berhenti seperti lajunya kereta api di pagi hari . Berjalan menyusuri jalan setapak yang selalu membuat hati ini terasa ingin bermain. Tak terasa langkah kaki ku ini meleset dari jalan setapak. Karena keasyikannya aku dengan suasana indah dipagi yang cerah.

Hamparan sawah yang mulai menguning menjadi pemandangan yang sudah tak asing lagi didepan mataku. Kini mulailah detik-detik para petani akan melakukan kegiatan yang selama ini sudah ditunggu-tunggu. Kegiatan apa lagi kalau tidak memanen padi.

Memanen padi yang selalu menjadi kegiatan seorang petani padi setiap musim hujan tiba. Membuat aku yang melihat semua kegiatan itu menjadi selalu bertanya-tanya. Apakah mereka tidak merasa jenuh atau bosan dengan kegiatan yang sama disetiap kali panen tiba?

Itu kah yang dimaksud dengan kesetiaan seorang pekerja kepada pekerjaannya. Tapi, mungkin itu hanya salah satu alasan diotak ku yang sengaja lewat dan muncul karena sifatku yang sedikit bosan dengan kegiatan yang hanya itu-itu saja.

Harmiana Oryza nama yang diberikan oleh ayah ketika aku lahir. Nama yang menjadi kunci dari sebuah kenangan yang tak akan terlupakan. Karena ketika aku lahir ayah mendapatkan suatu penghargaan tentang artikelnya. Yang membahas tentang proses penanaman padi dengan cara modern.

Setiap kali panen tiba, ada yang berbeda di desa ku ini. Ada tradisi yang menjadi hiburan tersendri bagi aku dan terutama bagi masyarakat desaku ini. Maklum lah sebagian besar masyarakat disini bekerja sebagai petani.

Tradisi yang selalu dijaga didesaku ini yaitu disetiap panen tiba akan diadakan sebuah acara syukuran. Semua ini bertujuan untuk berterima kasih kepada sang pencipta untuk rezeki yang telah didapat.

Semua itu akan diungkapkan lewat sebuah tarian yang biasanya disebut dengan tarian “Labako”. Tarian ini mempunyai arti dan makna sangat kental, apalagi bagi penduduk petani. Tarian yang berceita tentang bagaimana kegiatan petani mulai dari menanam sampai dan berbagai kegiatan yang lainnya.

Aku pun mulai merasa ingin mempelajari tarian tersebut. Tapi aku bingung harus memulai dari mana? Sedangkan aku yang tak begitu tau dengan gerak tari ini. Aku putuskan untuk mencari seseorang yang ahli dengan tari ini.

Ketika aku berjalan-jalan sore, terdengar suara alunan music yang khas dari salah satu rumah penduduk. Aku pun mulai mendekat, semakin dekat langkahku ini semakin jelas pula suara alunan alat-alat tradisonal tersebut.

Ternyata orang yang tak asing bagiku berada diantara para penari. Lasmi dia seorang yang selalu menjadi teman bermainku sejak kecil dan sekarang dia menjadi pengajar tari didesa ku ini. Sungguh sangat terkejutnya diriku ini melihat dia sangat lemah gemulai menarikan tarian yang sedang ku lihat sekarang.

“hai Lasmi”, sapa ku padanya.

“kamu. .Yza kah?”

“iya ini aku, teman kecil mu dulu”

“tak kusangkah kamu secantik ini sekarang”

“ahh . . tidak begitu juga Las, aku tetap Yza yang dulu”

“ngomong-ngomong ada apa kamu tiba-tiba menuju rumahku”

“gini aku sepertinya mulai tertarik dengan tarian yang kamu tarikan barusan Las”

“kamu pengen ikut latihan Yza?”

“sepertinya begitu”

“yah sudah ikut saja biar nanti aku yang akan privat kamu mulai dari dasar”
“beneran nih Las”

“iya beneran Yza”

“makasih banyak yah”

Kurang dari 3minggu aku sudah menunjukan perkembangan yang sangat pesat. Aku mulai hafal setiap gerakan ditarian ini. Dan aku mulai menyukai tarian tradisonal. Padahal sejak aku masih disekolah dasar aku masih memandang sebelah mata tentang tari tradisonal.

Kini aku mulai menyukainya bukan hanya tarian Labako tapi tarian-tarian yang diajarkan oleh Lasmi padaku. Kini kegiatan ku bertambah bukan hanya sekolah dan membantu orang tua tetapi juga berlatih menari dirumah Lasmi setiap sore hari. Meskipun tidak setiap hari tapi aku senang bisa mencintai dan melestarikan kebudayaan kota ku tercinta ini.

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *