Wajah Baru Semester Pendek

Wajah Baru Semester Pendek

“SEMESTER antara itu ya semester pendek,” celetuk Pembantu Rekrtor 1 (PR1) Universitas Jember (UJ), Zulfikar, mengenai penjelasan semester antara. Semester Pendek (SP) berganti wajah menjadi Semester Antara (SA). Tak cuma berubah namanya, tapi konsepnya juga sedikit berbeda dari segi alokasi waktu pelaksanaan dan subtansi pelaksanaan kegiatannya. Jika sebelumnya SP hanya berisi kegiatan remedi mata kuliah selama jeda pergantian semester genap ke gasal saja, maka di dalam konsep SA, remedi mata kuliah berpeluang dilaksanakan dilaksanakan setiap jeda pergantian semester kuliah regular.

Menurut buku pedoman akademik 2014/2015, UJ memberikan waktu di dua semester antara untuk pelaksanaan kegiatan akademik seperti perkuliahan, kuliah kerja nyata, atau remedi untuk kuliah yang belum terselesaikan khususnya yang mengembangkan pembelajaran dengan blok matakuliah atau blok kompetensi. Sehingga SA juga berpeluang untuk akselerasi mata kuliah. Menanggapi hal tersebut, PR I UJ, menawarkan 2 pilihan dalam pelaksanaan SA yaitu remediasi dan akselerasi. Sistem remediasi atau perbaikan nilai, merupakan karakteristik yang melekat pada SP di FE UJ.  Remediasi berarti memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengulang mata kuliah yang sudah ditempuh dan dirasa nilainya kurang memuaskan sehingga perlu perbaikan. Sedangkan sistem akselerasi memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengambil mata kuliah yang belum ditempuhnya dengan tujuan lebih mempersingkat masa studi perkuliahan.

Mengenai teknis pelaksanaan SA di UJ bersifat opsional, sehingga bukan hak universitas untuk menentukannya. Sebagai pihak yang paling berwenang dalam bidang akademik di tingkat universitas, ia telah melimpahkan segala kewenangan pelaksanaan kepada masing-masing fakultas. “Yang menentukan ada-tidaknya SA  adalah fakultas dan diselenggarakan oleh masing-masing program studi, universitas hanya memberi ruang,” jelasnya. Ia menjelaskan bahwa fakultas berhak memilih antara menyelenggarakan SA atau tidak. Selain itu fakultas berhak menentukan apakah SA tersebut menggunakan sistem remediasi saja atau ditambah dengan sistem akselerasi. “Semua tergantung kebutuhan dan kesiapan fakultas, seperti ketersediaan dosen” tegasnya.

Di FE UJ sendiri pemanfaatan kegiatan untuk SA nanti masih akan menganut sistem yang lama alias remedial. “Belum ada pengarahan dari PR I, makanya sementara  ya masih pakai remedial itu. Seh (masih.red) rundingan sama pak Dekan,” terang Istifadah selaku Pembantu Dekan I (PD I ) FE UJ. Menurutnya jika ada wacana ke arah akselerasi dirinya masih perlu pembicaraan lebih lanjut dengan masing-masing program studi.

Sejauh ini terkait sosialisasi di kalangan mahasiwa FE hanya sejauh pengumuman jadwal kuliah akedmik melalui situs resmi UJ saja. “Untuk semester antara aku tahu dari pihak dekanat, karena sering ke sana. Cuma rancu-nya semester antara itu bisa nempuh mata kuliah yang belum ditempuh atau mata kuliah yang sudah terlewat? Soalnya di buku akademik itu bisa nempuh mata kuliah yang sudah ditempuh,” ujar Beny mahasiswa Manajemen angkatan 2011 dengan penuh  tanya.

“Hlo kan bu Istifadah wes ngomong pas Ekonomi Syariah, nak pengen ngulang matakuliah maneh sing nilaine elek iso pas SA (Bu Isitifadah sudah mengatakan pada saat matakuliah Ekonomi Syariah, jika ingin mengulang matakuliah lagi yang nilainya jelek bisa pada saat SA, red).”, ujar Hesti, salah satu mahasiswa manajemen 2012. Sementara mahasiswa jurusan D3 admin keuangan angkatan 2014 menyebutkan bahwa ia mengetahui SP melalui informasi dari kakak tingkat bukan pada saat sosialisasi Pengenalan Kehidupan Kampus (PK2) universitas”.

Berbicara tentang akselerasi mata kuliah, sepertinya UJ masih perlu melirik Universitas lain. UJ memang belum menerapkan sistem akselerasi dalam SP sebelumnya. Universitas Padjajaran (UNPAD) telah menerapkan semester antara dengan sistem remediasi dan akselerasi. Dikutip dari website resminya, mahasiswa yang boleh mengikuti akselerasi adalah mereka yang memiliki IPK minimal 3,35 pada mata kuliah berprasyarat tanpa nilai D. Begitupun pada UNAIR, UNTIRTA, dan beberapa universitas lain.

Pada dasarnya setiap kebijakan SA yang dibuat  bukan tanpa pertimbangan. Kebijakan ini berangkat dari kekhawatiran terhadap tingginya angka mahasiswa UJ yang tidak bisa lulus kurang dari 4 tahun. Padahal tuntutan Permendikbud No.49 tahun 2014 mewajibkan masa studi untuk tingkat sarjana dan D4 maksimal hanya 5 tahun saja. Hal ini berbeda dengan kebijakan sebelumnya yang masih memberi kelonggaran masa studi maksimal 7 tahun “Biasanya hanya ada 1 SA (semester pendek, red), kini saya berikan 2 SA dalam 1 tahun akademik untuk mempercepat mahasiswa dalam upaya lulus kurang dari 4 tahun,” terang Zulfikar saat ditemui di ruangannya. “Dengan memberikan kesempatan lebih kepada mahasiswa untuk memperbaiki nilai tentu akan mempercepat kelulusannya.” [Reza, Aprillia, Nadia, Esterina]

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *