Budaya Literasi : Gampang-Gampang Susah

Budaya Literasi : Gampang-Gampang Susah

PERGURUAN tinggi dianggap sebagai salah satu wadah untuk menimba ilmu yang selevel lebih tinggi dari sekolah menengah atas. Anggapan tersebut tidak luput dari proses pembelajaran, dimana dosen dan mahasiswa yang dituntut berperan aktif didalamnya. Keaktifan tersebut salah satunya di pengaruhi oleh budaya literasi yang tidak lepas dari dua hal yaitu budaya membaca dan menulis. Namun,  kenyataannya budaya literasi yang ada di Fakultas Ekonomi Universitas Jember (FE UJ) berbeda dengan budaya literasi yang seharusnya terbentuk di perguruan tinggi.

Pentingnya budaya literasi

“Jika perkuliahan tanpa literatur yang jelas, tanpa membaca, darimana kita dapat pengetahuan?”, ujar Septiyan, ketua umum Kelompok Studi Penelitian Ekonomi (KSPE). Membentuk budaya literasi dalam perkuliahan sangat sulit tetapi dilain sisi hal tersebut juga sangat penting. Sudah menjadi hal klasik jika buku dianggap sebagai jendela dunia. Tetapi permasalahan yang sama selalu di alami FE dalam beberapa kurun waktu terakhir yaitu kurangnya minat mahasiswa untuk membaca buku. Hal ini seakan dipertegas dengan rendahnya tingkat kunjungan mahasiswa ke ruang baca.

Fasilitas berupa ruang baca harusnya memberikan kemudahan untuk mahasiswa ataupun dosen dalam melatih kebiasaan membaca dan menulis. Namun, kenyataannya sangat berbeda dengan kondisi ruang baca di FE saat ini. “Lokasi ruang baca yang tidak strategis (di pojok atas Bank Jatim, red) dan koleksi bukunya sebagian besar masih edisi lama”, kata Icha, mahasiswa jurusan IESP  angkatan 2011. “Saya juga baru mengetahui lokasi ruang baca, ketika sudah memasuki semester 4”, tambahnya.

Efek rendahnya minat baca mahasiswa tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran di ruang kuliah. Awal perkuliahan dosen selalu memberikan rekomendasi buku yang akan digunakan, tetapi pada pelaksanaannya mahasiswa selalu mengandalkan materi dalam bentuk softcopy atau hardcoppy yang diberikan dosen. Dampaknya mahasiswa menjadi pasif pada saat perkuliahan berlangsung, dikarenakan mahasiswa kurang memiliki referensi terhadap mata kuliah tersebut.

Bukan hanya mahasiswa yang dituntut untuk aktif, dosenpun harus memberikan contoh yang baik untuk turut menciptakan budaya literasi. “Dosen dikatakan profesional, jika memiliki kemampuan menulis, karena tugas dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga melakukan penelitian, publikasi dan pengabdian kepada masyarakat.”, ujar Hadi Paramu selaku ketua koordinasi penerbitan bidang ekonomi bisnis UPT Penerbitan. Keaktifan dosen tersebut sebagai tuntutan dari berkembangnya dunia pendidikan di perguruan tinggi, sesuai dengan surat edaran Dirjen Dikti No.152/E/T/2012. Disebutkan bahwa untuk lulus program magister, harus telah menghasilkan makalah pada jurnal ilmiah nasional diutamakan yang berakreditasi Dikti. Sedangkan untuk lulus program doktor harus telah menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal internasional.

 

Peran akademisi

Sangat disayangkan, jika permasalahan mengenai rendahnya budaya literasi di perguruan tinggi dibiarkan membudaya. Merubah budaya yang sudah melekat itu bukanlah perkara mudah, perlu ada konsep yang matang untuk membentuk budaya literasi. Salah satu konsep yang diusung oleh Cinthia, juara 3 Mawapres 2013, yaitu harus ada koordinasi mulai dari jurusan, fakultas, sampai universitas. Dimulai dari para dosen setiap jurusan yang harus berkonsolidasi mengenai standar buku apa yang akan digunakan. Standar tersebut ditentukan agar tidah ada perbedaan antara dosen satu dan dosen lainnya. Lalu dari jurusan, informasi tersebut disampaikan pada pihak fakultas yang berfungsi sebagai mediator kepada pihak universitas. Peran universitas disini sebagai lobbying pada pihak penerbit untuk pengadaan buku referensi baru yang berguna sebagai tambahan koleksi pustaka.

Memang mahasiswa terkesan tidak dituntut untuk menulis dan menghasilkan karya. Namun sejak adanya surat edaran Dirjen Dikti tahun 2012, mahasiswa semester akhir diharuskan membuat tugas akhir dalam bentuk skripsi dan artikel ilmiah yang diterbitkan pada jurnal ilmiah. Dua hal tersebut akan lebih mudah jika dilatih lebih awal. Salah satunya, latihan dalam bentuk penugasan di kelas yang akan membiasakan mahasiswa untuk menuliskan ilmu yang didapat.

Membahas perkembangan zaman,  sebenarnya mahasiswa maupun dosen sudah diberi kemudahan untuk mengembangkan dan menyalurkan kemampuannya melalui media sosial. Segala informasi tersedia di media tersebut, namun segala kebebasan pasti ada batasannya. “Ketersediaan sumber informasi internet yang melimpah membuat kecenderungan seseorang untuk mengambil jalan pintas (plagiasi, red) yang pada akhirnya karya yang dihasilkan tidak memiliki karakter si penulis.”, ujar Tatang Ari, dosen manajemen.

Media sosial merupakan sarana prasarana yang dapat menjadi media alternatif untuk membangkitkan semangat berbudaya literasi. Misalnya saja, membentuk komunitas diskusi mahasiswa dari berbagai universitas se-Indonesia melalui jejaring sosial, dan tidak menutup kemungkinan komunitas tersebut dapat berkembang hingga skala internasional. Dari komunitas tersebut, mahasiswa dapat melatih daya fikir dengan membaca dan mengeluarkan argumennya. Semua akan terbiasa jika dimulai dari hal yang dipaksa. [Nadia, Reza, Ani]

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *