KOSTUM BARU SEBUAH UNIVERSITAS

KOSTUM BARU SEBUAH UNIVERSITAS

Istilah WCU sudah terdengar sejak tahun 2009, saat Bambang Sudibyo masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas). Sejak itu, berbagai universitas di Indonesia berlomba-lomba umendapatkan gelar WCU. Universitas Jember (UJ) sendiri baru mencanangkan dirinya sebagai universitas berkelas dunia pada tahun 2014.

Perkembangan globalisasi menjadi salah satu alasan universitas saling berebut  menyandang WCU. Berbagai senjata dipersiapkan dalam menyambut ekonomi pasar bebas dengan membangun sistem pendidikan bermutu yang mampu bersaing dengan negara lain. Oleh karena itu, dikenalah istilah WCU untuk menyetarakan standar lembaga pendidikan di dunia.

Siapkah UJ menuju WCU?

Tak hanya berucap, namun juga bertindak. Begitu pula yang harus diterapkan UJ untuk memperoleh anggapan WCU dimata masyarakat. Secara umum kriteria WCU meliputi keunggulan penelitian (excellence in research), sarana prasarana penunjang pendidikan, internasionalisasi program, prestasi mahasiswa, dan penggunaan teknologi.

Dilihat dari pemeringkatan jurnalnya tahun 2014, UJ menduduki peringkat 57 dari 100 universitas di Indonesia.2 Produktivitas penelitian di setiap fakultas sangat berpengaruh terhadap kedudukan UJ di dunia internasioal. Salah satu strategi yang digunakan yaitu dengan memberikan reward berupa insentif oleh Dinas Pendidikan Tinggi (Dikti).3

Sebagai pendukung proses aktivitas di perguruan tinggi, UJ juga memperbaiki sarana prasarana. Perbaikan tersebut dapat dibuktikan dari pembangunan yang gencar dilakukan mulai beberapa bulan terakhir. Seperti halnya yang terjadi di Fakultas Ekonomi (FE). Sejak bulan November 2014, FE mulai merombak ruang POMA menjadi ruang jurusan Pascasarjana guna memfasilitasi mahasiswa yang ingin meneruskan pendidikannya di Strata Dua (S2). Mahasiswa S2 juga menjadi salah satu kriteria sebuah universitas berkelas dunia. Bahkan UJ tidak hanya memfasilitasi program studi S2 yang sudah ada (monodisplin), tetapi juga memfasilitasi program studi S2 yang tidak memiliki fakultas di UJ (multidisiplin).

Kalo itu monodisiplin itu memang harusnya ada di fakultas, yang di running betul di pascasarjana (universitas, red) itu adalah multidisiplin”, jelas Moh. Hasan, selaku rektor UJ.

Tidak hanya mahasiswa S2, mahasiswa S1 juga sangat membutuhkan tambahan fasilitas jika melihat orientasi WCU lebih ditekankan pada kompetisi secara global. “Kecukupan ruang untuk proses belajar mengajar masih belum mencukupi, jamnya saja masih ada yang jam 5 pagi”, ujar Soedaryanto, salah satu dosen FE UJ.

Untuk memperkenalkan sebuah universitas di dunia internasional dibutuhkan adanya internasionalisasi program. Salah satu dari internasionaliasi program yang ada di UJ yaitu kelas dengan standar internasional. Beberapa fakultas di UJ sudah memiliki program kelas internasional seperti FE dan Fakultas Kepeguruan Ilmu Pendidikan (FKIP). Hanya saja belum ada sistem yang jelas untuk mengatur hal tersebut, sehingga kurikulum yang digunakan berdasarkan kebijakan dari setiap fakultas. Bahkan dekan FE memiliki angan-angan untuk menciptakan bilingual class di semua jurusan, tidak hanya di manajemen dan ilmu ekonomi studi pembangunan (IESP). “Makanya saya minta pengertiannya dari temen-temen di Jurusan Akuntansi untuk diadakan juga (kelas internasional, red),” ujar Fathorrozi, selaku dekan FE.

Selain kelas internasional, pertukaran mahasiswa (student exchange) maupun pertukaran dosen (lecture exchange) juga mampu mendongkrak nama baik UJ. Berbagai kerjasama dilakukan untuk mendapatkan kepercayaan dan partner ilmu di dunia pendidikan. Fathorrozi, mengatakan bahwa jika persamaan kurikulum tidak terpenuhi maka bentuk kerjasamanya berupa universitas to universitas, seperti yang belum lama ini dilakukan oleh FE dengan University of San Carlos. “Dosen kita diundang kesana dan dosen sana kita undang kesini, jadi ngajar matakuliah yang sama”, tambahnya.

Tidak hanya dosen, mahasiswa UJ juga telah banyak melakukan kunjungan ke universitas di berbagai negara tetangga seperti Korea, Filiphina, Singapura, Jepang, China, London, dan negara-negara lainnya. Namun sebaliknya, masih sedikit mahasiswa luar negeri yang melakukan kunjungannya ke UJ, seperti yang dituturkan Moh. Hasan, “ hanya saja untuk konteks ini akhirnya lebih banyak kita yang kesana, belum mereka yang kesini. Tapi kurikulum sudah di set up bareng, jadi saat mereka mau kesini, kita sudah siap”.

Jika melihat dari berbagai pertimbangan mengenai WCU, maka orientasi dari WCU dapat dilihat dari output yang dihasilkan. Tenaga pendidikpun menjadi tolak ukur kualitas mahasiswa lulusan UJ. Menurut Kusmanto (2007), beberapa kriteria WCU diantaranya adalah 40 persen tenaga pendidik bergelar Ph.D. Sedangkan di UJ, hanya beberapa fakultas yang memenuhi standar tersebut. Perbaikan kualitas dosenpun diberikan dengan cara memberikan fasilitas berupa tunjangan tugas belajar. “Jika ketika tugas belajar, dosen tidak dianggap melakukan tugas Tri Dharma, ini merugikan”, ujar Hari Soekarno, dosen Manajemen FE UJ.

Penilaian WCU yang berlangsung di UJ

Tidak ada definisi dan penilaian yang pasti dari istilah WCU. Bermacam-macam kriteria yang ditetapkan oleh universitas. Mekanisme perankingan universitas berkelas internasional menggunakan beberapa versi penilaian seperti Times Higher Education (THE),Quacquarelly Symonds (QS), dan Webometric. UJ sendiri menggunakan versi Webometric sebagai tolak ukur, pemeringkat berdasarkan eksistensi di dunia maya. Sehingga UJ dinilai tidak hanya dari jumlah pengunjung atau desain dari website, tetapi juga dilihat dari kualitas secara global versi web univesitas.

Masing-masing universitas memiliki pandangan tersendiri untuk menilai kemampuan sumber dayanya. Lalu, akan dibawa ke arah mana hasil output yang ada di UJ? Apakah hanya untuk eksistensi melalui dunia maya ataukah benar-benar menginginkan output yang berkualitas dan mampu bersaing di dunia internasional?. [ ]

 

Sumber: http://news.okezone.com/read/2012/01/28/373/565109/rektor-baru-unej-siap-songsong-wcu

2 Sumber: http://www.ekonomi-holic.com/2014/02/daftar-universitas-terbaik-di-indonesia.html

3 Panduan Pengusulan Intensif Publikasi di Jurnal Terakeditasi Nasional dan Jurnal Internasional terindex scopus atau yang setara.

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *