Resensi Buku: Waktu Aku Sama Mika

Resensi Buku: Waktu Aku Sama Mika

Judul : Waktu Aku Sama Mika

Penulis : Indi

Penerbit : Homerian Pustaka

Halaman: 145

Kertas: HVS 700 gram

Tanggal Terbit: Maret 2010 ( cetakan ke III)

ISBN: 978-979-17454-5-1

Peresensi: Satriani R. Palupi

“Sugar, kamu tau enggak kenapa nama aku Mika?”

Aku menggeleng

 

“Dulu, mama nggak mau aku lahir. Jadi mama coba bunuh aku. Kamu tau aborsi? Mama coba bunuh aku.. Tapi nggak berhasil. Hehehe.. Makanya mama kasih nama aku Mika.

Asal katanya dari miracle… Keajaiban… “

 

Aku tatap Mika lama…

Mika, aku pikir nama kamu asalnya dari kata Malaikat.

Soalnya, kamu udah jadi malaikat pelindung buat aku”

 

-Indi-

 

Sosok lelaki 22 tahun, bertubuh kurus dengan aroma Dethol, berwajah tirus, dan sangat menyukai rokok bercitarasa menthol. Lelaki itu bernama Mika. Mika suka menggigit bibir bawahnya hingga berdarah saat dia gelisah. Hal itu terkadang membuat Indi sedikit geram untuk sekedar menyentuh bibir Mika yang luka. Tapi Mika melarangnya. Dia tak mau jika Indi akan seperti dia, karena dia ODHA (orang dengan HIV/AIDS).

Mika bukanlah sosok imajiner. Dia nyata, hadir dalam setiap halaman diary kebahagian Indi dalam keadaan fisiknya yang tak sempurna saat itu. Indi yang saat itu berumur 15 tahun mengalami Skoliosis akibat kelainan pertumbuhan, sehingga menyebabkan tulang belakangnya sedikit bengkok. Dia harus memakai penyangga besi tulang belakang selama 23 jam per hari sampai usia dewasa. Alhasil Indi sering mengeluh kesakitan karena merasa syarafnya terjepit dan dipaksakan lurus.

Indi juga merasa minder saat sekolah. Ia merasa dirinya lain. Ini membuat Indi susah bergaul dengan teman-teman sebayanya. Indi sangat kesepian terutama saat pelajaran olahraga, ia dilarang mengikutinya karena sangat berbahaya. Di tengah kesepiannya, ia mendapat sebuah hadiah novel Peter Pan dari Mika. Tak disangka Mika merupakan alumni SMA tempat Indi bersekolah. Lewat sebuah pesan kecil yang sering dikirimkan Mika untuk Indi, Mika memberikan informasi tentang setiap sudut sekolahnya. Indi dan Mika semakin akrab. Tapi mereka harus menerima kenyataan, orang tua Indi menentang hubungan mereka. Belum lagi, indi sering mendapat perlakuan buruk orang-orang di sekitarnya karena berpacaran dengan ODHA.

Novel “Waktu Aku Sama Mika” ini merupakan hasil kumpulan diary Indi saat berpacaran dengan Mika. Gaya bahasanya sangat ringan dan mengalir. Sehingga mampu membawa pembaca ke dalam sosok Indi. Namun karena alurnya mengikuti bahasa diary yang memakai satu sudut pandang, plot konfliknya kurang kurang terasa dalam. Tak hanya menyuguhkan romantisme, tapi Indi juga mengulas sisi lain penderita AIDS.

Novel ini telah mencapai best seller hingga mencapai cetakan ketiga. Tahun 2013, First Media Production menggandeng Investasi Film Indonesia mengangkat rangakaian novel Indi yang bercerita tentang Mika dalam sebuah film berjudul MIKA.

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *