Bulan dalam Kehampaan

MENGAPA hujan selalu indentik dengan sesuatu yang menyedihkan? Tapi menurut kamusku, hujan adalah tetesan air yang mampu menyadarkan manusia akan pentingnya sebuah kehidupan. Setiap tetes hujan mampu menghapus ribuan penat yang berkembang dalam otakku tiap detiknya. Inilah yang disebut dengan keteduhan di bawah tetesan hujan untuk manusia super sibuk seperti diriku.

Bintang Setya Pambudi. Berharap nantinya nama Bintang akan terpampang di halaman utama surat kabar, sebagai wartawan berdedikasi tinggi layaknya bintang yang selalu bersinar terang di malam hari. Sudah 3 tahun aku menjadi wartawan professional untuk berita kriminal, kasus demi kasus kuulas lewat kekuatan insting dan tinta hitamku. Namun, tak ada yang berkesan mendalam sampai akhirnya menemukan sebuah Bulan dalam perjalanan karirku.

Bulan. Seorang narasumber yang kutemui di saat langit mencurahkan seluruh tangisannya. Dia adalah narapidana yang didakwa atas kasus pembunuhan. Awal pertemuan di dalam jeruji besi membuatku terkagum dengan hiasan kedua mata sendu yang dimiliki Bulan. Rambut hitamnya tergerai indah meskipun tidak jelas alur setiap helainya, mungkin karena sudah lama tidak bersentuhan dengan sisir. Gadis itu terduduk disudut ruangan, dengan pandangan menerawang jauh entah kemana. Apa yang sebenarnya dalam fikiran gadis ini?.Jujur, aku takut memulai langkah untuk mendekatkan diri, banyak wartawan seperti diriku yang menjadi korban amarah dari gadis berkulit kuning langsat ini. Amarah yang tidak jelas apa sebabnya, seperti orang yang kehilangan akal sehat alias gila. Namun, inilah prinsip hidup yang ku pilih sebagai pemburu berita. Dalam satu tarikan nafas kakiku melangkah masuk ke sebuah ruangan gelap, sunyi, pengap, bau busuk akibat makanan basi, hanya ada sebuah tikar bambu dan piring-piring kotor yang berserakan. Bagaimana gadis ini tetap hidup dalam ruangan yang menjijikan? Aneh.

“Selamat pagi, maaf sebelumnya perkenalkan nama saya Bintang, wartawan dari…” belum sempat aku menyelesaikan basa basiku, gadis itu mendekatkan wajahnnya tepat di depan wajahku. Aku tertegun, seakan kedua bola matanya yang coklat telah menyihirku menjadi batu.

“Ma-maaf, sa-saya hanya ingin menjalankan tugasku sebagai wartawan. Tidak sedikitpun berniat jahat padamu.” perkataanku seperti pedang yang membelah keheningan. Harus aku akui, Bulan gadis pertama yang berhasil membuatku grogi dan gagap saat melaksanakan pengabdianku sebagai wartawan.

Tak sepatah kata terucap dari bibirnya, namun air mata yang menetes seakan menjadi jawaban atas keadaan hatinya saat ini. Dari tangisan itu dan apa yang aku lihat, Bulan sangat berbeda dengan gambaran seorang pembunuh. Mungkin, untuk saat ini dewi fortuna tidak berpihak kepadaku. Bukan Bintang jika mengibarkan bendera putih sebelum berperang. Besok aku berjanji akan kembali kesini untukmu. Bulan.

Bayangan Bulan mengikuti setiap langkahku hingga dalam mimpipun masih sulit melepaskan potret wajahnya yang lembut dari benakku.

“Akankah aku jatuh cinta pada Bulan? Seorang narapidana dengan tuntutan hukuman seumur hidup. Apa sekarang aku sudah mulai gila? Jika iya, Bulanlah cinta pertamaku. Tapi mengapa harus Bulan?” celotehku di tengah malam membuat cacing di perut ikut berceloteh. Akhirnya aku berinisiatif mengolah mie instan dan secangkir kopi hangat tanpa gula. Seperti inilah kehidupan lelaki bujang tanpa keluarga dan tinggal di sebuah apartemen yang terbilang mewah. Nasib malang, hidup sendiri, tidur sendiri bahkan makanpun sendiri.

Kicauan burung memecahkan lamunanku, matahari sudah terbangun sedangkan aku masih belum bermimpi sedikitpun. Saatnya aku menepati janji pada Bulan. Adat sebelum bekerja yaitu menyiapkan beberapa properti selayaknya wartawan dan sebuah bekal roti untuk diperjalanan sebagai antisipasi jika jalanan mulai membosankan karena budaya di perkotaan. Macet. Memo berhasil mengantarkanku sampai tujuan dengan selamat, meskipun harus memakan waktu sekitar 120 menit dengan kecepatan penuh. Yah, memang Memo motor butut namun selalu setia menemani sejak aku duduk di bangku perkuliahan.

Sipir yang berjaga saat itu seperti mempunyai kontak batin denganku. Pasalnya, tanpa aku mengucap sepatah katapun ia langsung mengambil kunci bernomor 743. Sebab beberapa hari terakhir tahanan misterius yang menjadi buruan para wartawan hanyalah Bulan. Sampai saat ini tidak satupun wartawan yang mendapatkan informasi mengenai kasus yang menjeratnya kini. Bahkan Bulan menjadi tahanan VIP, dalam artian sel yang ia tinggali terpisah dengan tahanan yang lain. Namun, jika dipandang dari segi fasilitas dan kenyamanan, ruangan Bulan termasuk tingkat yang terburuk dari semua sel yang ada. Letaknya pun jauh terpojok, terbebas dari keramaian aktivitas tahanan.

Duduk memojok sepertinya menjadi favorit Bulan, aku saja yang duduk di sepeda selama dua jam perjalanan sudah merasa bosan, sedangkan Bulan sudah berhari-hari duduk melamun memandangi sebuah foto. Foto? Aku belum pernah melihat foto itu sebelumnya. Mungkin terselip di suatu tempat saat aku berkunjung kemarin. Rasa penasaran mengalir dalam darahku, dengan bertahap dan tetap waspada aku mendekat.

“Rahmat? Kamu masih hidup? Aku sudah lama menunggu kedatanganmu. Keluarkan aku dari belenggu ini dan kembali melanjutkan ikatan kasih kita yang sempat terputus.” rengek manja Bulan dengan memperlihatkan cincin di jari manisnya. Cicin tersebut sepertinya pemberian dari laki-laki bernama Rahmat. Lalu siapa itu Rahmat?

“Maaf, saya Bintang. Siapa itu Rahmat? Mengapa anda berada disini? Apa benar anda membunuh Narto?” mekipun pertanyaanku terdengar terburu-buru, tapi ini kesempatan emas bagiku karena Bulan mulai mengeluarkan suaranya.

“Tapi mengapa wajah kalian sama?” ucapnya dengan lembut sambil mengulurkan foto yang sejak awal berada di genggamanya.

Aku tersentak kaget saat melihat wajah seorang lelaki di foto yang memang mirip denganku mulai dari hidung, mata, kecuali tanda lahir di dahi yang tidak aku punya. Orang tuaku tidak pernah membahas mengenai saudara kembar padaku, akulah putra satu-satunya dari keluarga Pambudi.

“Ini memang mirip denganku, tapi tanda ini tidak ada di dahiku. Aku juga tidak pernah foto di dekat sawah seperti ini. Ini bukan diriku.”

“Berarti memang kamu bukan Rahmat yang aku tunggu.” suaranya mulai melemah, sepertinya ia kecewa dengan jawabanku.

“Ceritalah, mungkin saja aku bisa membantumu. Aku yakin kamu hanyalah korban disini.” pintaku pada Bulan.

Dengan seksama aku mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Bulan. Sebelumnya aku sudah mempersiapkan rekaman dalam saku baju. Sebagai wartawan rekamanlah yang nantinya menjadi bukti dan membantuku mengingat beberapa kasus di hadapanku. Tanpa aku sadari kisah Bulan mampu membuatku terdiam membisu selama kurang lebih satu jam. Biasanya aku selalu membalas narasumber dengan serbuan pertanyaan, tapi dengan Bulan aku seolah hanyut dalam kisahnya.

Menjadi sandaran keluarga tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan, bahkan seluruh hidupnya telah pupus termakan oleh waktu. Semua itu berawal ketika ayah Bulan menghembuskan nafas terakhir  akibat tertibun reruntuhan bahan tambang saat bekerja. Tidak sanggup mendengar kabar yang menyayat hati, ibu Bulan jatuh sakit hingga maut turut menjemput. Tinggallah Bulan sendiri dengan dunia kehampaan.

Takdir membuat Bulan memutar kendali roda kehidupan. Tidak ada satu hartapun yang tersisa setelah kematian kedua orangtuanya. Kehidupan di kota semakin mencekik Bulan secara perlahan, menuntut ia untuk bekerja sedangkan sekolahnya belum sempat terselesaikan. Padahal dalam waktu dekat ia harus melunasi biaya ujian nasional. Jika melebihi batas waktu yang sudah ditentukan, maka resiko yang harus di tanggung Bulan adalah ijazah SMA nya akan ditahan pihak sekolah.

Berbagai tuntutan hidup seperti itulah yang menjadi alasan Bulan mengangguk saat dibujuk Narto untuk bekerja menjadi pelayan di sebuah bar dengan iming-iming kehidupan layak. Narto adalah tetangga Bulan yang kerap dikenal sebagai sampah masyarakat karena tidak jelas asal usulnya, keluarganya, dan arah hidupnya. Lantas keraguan demi keraguan kian bermunculan seperti burung yang sedang terbang berputar-putar dalam benak Bulan, tetapi pelayan memang pekerjaan yang pantas untuk gadis seumuran Bulan dan belum lulus di tingkat sekolah menengah atas.

Namun, kenyataannya Bulan bekerja menjadi pelayan dalam arti yang berbeda. Kupu-kupu malam. Hatinya terus memberontak karena ia tidak ingin memberikan kehormatan sebagai wanita hanya untuk seseuap nasi atau bahkan ia rela tidak lulus daripada harus menyesal kehilangan harga diri. Ketika hendak melarikan diri, Bulan disergap oleh Narto dengan pisau di genggamannya. Saat berdalih, tanpa sengaja Bulan menusukkan pisau tepat di punggung Narto. Secepat mungkin Bulan berteriak meminta pertolongan. Namun, keadilan tidak berpihak padanya, warga setempat menuduh Bulan telah melakukan pembunuhan. Karena ketakutan Bulan bersembunyi dari kejaran warga. Jiwa Bulan bergejolak, antara benar dan salah. Memang ia yang membunuh Narto, tapi ia lakukan itu di sengaja ketika melindungi diri. Keesokan harinya Bulan menyerahkan diri pada pihak kepolisian. Sejak saat itu akhirnya Bulan menyandang sebutan narapidana dengan tuduhan pembunuhan dan hukuman seumur hidup.

Itulah kisah Bulan yang kupaparkan pada Rahmat, tunangan Bulan pada saat menghadiri prosesi pemakaman. Awalnya kami sama-sama tertegun saat berhadapan langsung, bagaikan pinang yang dibelah dua. Rahmat benar-benar menyesal telah ikut menuduh Bulan sebagai pembunuh seperti warga yang lain. Bahkan Rahmat sempat membuang cicin pertunangannya dihadapan Bulan.

“Harusnya aku lebih percaya pada Bulan, orang yang aku sayangi. Harusnya aku melindunginya, menemani hari-hari terberatnya di penjara.” teriaknya dengan menghantamkan wajahnya pada batu nisan.

Terlintas bayangan Bulan di saat suaranya yang mulai melemah. Antara iba atau kasih aku rasakan saat memandang kedua bola mata sendu di bawah alis yang tebal dan sebutir air menggantung di pelupuk mata Bulan. Mungkin ini akan menjadi cerita yang aneh seorang wartawan seperi diriku jatuh hati saat menjalankan tugas di dalam penjara.

Sejak Bulan menggambarkan kisahnya dalam suara, aku selalu ingin bertemu Bulan meski sekedar untuk menatap wajahnya. Namun, hari itu bumi seakan dilanda badai hujan, angin kencang dan petir yang menyentak bumi. Apakah ini yang disebut “cinta itu buta”? Tidak peduli keadaan dapat membunuhku, tapi keinginan untuk melihat Bulan melebihi segalanya. Sesampainya di penjara yang aku temui hanya jasad Bulan terlelap di dalam peti. Polisi menemukan Bulan tergantung dengan dugaan bunuh diri.

Seketika hatiku hancur seperti kaca yang pecah berkeping-keping. Sebelum aku meninggalkan penjara, sipir yang selalu mengantarkanku memberikan sebuah kotak titipan Bulan untukku. Kotak tersebut sebenarnya bukan untuk Bintang, melainkan untuk Rahmat. Di dalamnya hanya sepasang cincin pertunangan, foto, dan selembar surat. Sampai saat ini aku tidak berani membuka bahkan membaca isi surat tersebut. Tetapi sekarang adalah waktu yang tepat untuk kuberikan pada Rahmat.

Rahmat sayang.

Meskipun aku telah pergi, tetapi cintaku padamu tidak akan berhenti sampai di tarikan nafas terakhirku. Jujur, sulit untuk menerima sebuah kenyataan. Berulang kali aku meyakinkan hati yang pengecut ini jika semuanya adalah takdir hidupku, terpenjara walau sebenarnya aku tak ingin berpisah denganmu. Aku mengerti bagaimana perasaan kecewamu padaku, untuk itu aku mengakhiri kisah ini, agar kelak kamu akan mengingatku sebagai Bulan yang selalu bersinar di hatimu.

Kekasihmu, Bulan

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *