Sepiring Nasi Goreng Made in Indonesia yang Mengenyangkan

“Terima kasih untuk bakso, nasi goreng, emping, krupuk. Semuanya enak!” ungkapan terima kasih terucap dari presiden Amerika Serikat, Barrack Obama saat mengunjungi Indonesia 10 November, 4 tahun lalu. Semua yang dibilang enak oleh Obama juga menjadi favorit saya terutama nasi goreng. Bagi saya nasi goreng itu istimewa tapi sangat simple dari segi bahan dan pembuatannya, dan yang tak kalah penting sangat mengenyangkan karena berbahan dasar nasi. Tapi dari segi rasa dan kepraktisan, saya lebih suka membelinya saja. haha.

By the way, nasi goreng sepertinya sedang populer, bisa jadi gara-gara Obama. Tak sampai di situ, seorang wanita Belanda bernama Louisa Johanna Theodora van Dort juga menciptakan lagu berjudul “Geef Mij Maar Nasi Goreng” untuk mengekspresikan kerinduannya pada Indonesia setelah mengungsi ke Belanda akibat konflik Irian Barat di tahun 1957. Rasa Nasionalisme dalam diri saya muncul gara-gara si nasi goreng.

Nasi goreng sebenarnya muncul dari beberapa sifat dalam kebudayaan Tionghoa, yang tidak suka mencicipi makanan dingin dan juga membuang sisa makanan beberapa hari sebelumnya. Makanya, nasi yang dingin itu kemudian digoreng untuk dihidangkan kembali di meja makan. Karena sudah mengalami peranakan alias peleburan, maka berbagai versi masakan nasi goreng yang ada di Indonesia menjadi hak milik Indonesia. Tinggal menambahkan beberapa kata di belakangnya agar berkesan lebih Indonesia. Mungkin kata ‘ala Indonesia’ atau ‘made in Indonesia’.

Dari sudut etimologis kata ‘ala’ berarti khas, namun jika ‘made in’ berati asal pembuatan. Kalau menganut paham kata pertama, berarti tak ada tuntutan nasi goreng dibuat oleh orang Indonesia dengan bahan-bahan asli Indonesia. Seperti kenyataannya, sekarang, saya makan nasi goreng di negara agraris yang komposisi: beras, bawang putih, merica, cabai sampai garamnya beli dari negara lain. Singkatnya, sensasi orang Indonesia yang tinggal di luar negeri mungkin tak jauh beda ketika makan nasi goreng di negeri sendiri.

Terlalu remeh-temeh jika masalah masakan saja diperdebatkan, toh pada pada akhirnya pakai nama masakan yang mana saja, tetap akan dimasukkan dalam perut. Tapi masalah perut manusia tentunya bukan hal remeh. Ini menyangkut soal kebutuhan dasar sebagai manusia yaitu pangan. Menurut sebuah LSM internasional, Oxfam (2012)[1],

“ Sekitar 100 juta orang di dunia masuk ke dalam jurang kemiskinan akibat gejolak harga pangan tahun 2008. Kenaikan berlanjut hingga 2011 membawa 44 juta orang lainnya mengalami hal yang sama. Dilansir hampir 1 miliar warga dunia tidur dalam perut lapar di tahun 2010

 

Keadilan pangan di ‘Rumah’ Sendiri

Salah satu yang sering menjadi langganan jajan impor Indonesia adalah beras. Alasannya klasik, menurut Menteri Perdagangan sebelumnya, produktivitas beras dalam negeri belum bisa memenuhi kebutuhan pangan nasional. Indonesia kebutuhan berasnya tinggi karena menurut kebudayaan mayoritas orang Indonesia , “Belum bisa dibilang makan, kalau belum makan nasi”. Belum lagi kebiasaan makan ini menganut ritme 3 kali sehari.

Menurut data statistik BPS, jumlah penduduk Indonesia di tahun 2013 sekitar 245.280.000 jiwa, dengan jumlah penduduk miskin sebesar 28.553.930 jiwa  Atau 11, 25%[2]. Berdasarkan pengetahuan kuliner yang saya peroleh dari beberapa buku resep, 1 kg beras dapat dipakai untuk memenuhi 10 porsi makan orang dewasa dalam sekali waktu. Dari jumlah tersebut setidaknya pemerintah harus menyediakan sekitar 73.584 ton beras perharinya untuk seluruh penduduk. Itu juga belum temasuk hitungan sembako yang lain, lauk-pauk dan kebutuhan bahan pangan  tambahan seperti cabai dan merica.

Produktivitas padi (bentuk gabah kering giling atau GKG) sampai pada tahun 2013 mencapai 70.866.571 ton. Penyusutan jumlah bobot GKG menjadi beras sekitar 32,76 %[3] atau sekitar 26.404.884,35 ton, sehingga jumlah beras yang dihasilkan yaitu 44.461.686,65 ton (62.74%). Artinya kebutuhan beras tersebut hanya mampu memenuhi 604,2 hari ke depan, atau sekitar 1,6 tahun. Jadi sebenarnya tak ada alasan untuk jajan beras ke luar negeri selama 1 tahun.

Impor beras, solusi yang ditawarkan oleh Menteri Perdagangan dalam mestabilkan harga beras. Tapi, sepertinya hal ini bukan satu-satunya solusi. Harga beras semakin melambung bisa jadi gara-gara ‘tangan nakal’ lain di dunia pasar, semisal pelaku kartel dan tengkulak. Ini juga harus menjadi perhatian. Bukan hanya itu, pemerintah juga harus memperhatikan kelangsungan usaha di sektor pertanian, agar tak ditinggalkan generasi muda yang beralih ke sektor properti, agar nantinya lahan produksi pertanian tak habis beralih fungsi.

Nah, kalau semua orang sudah punya beras hasil ladang sendiri tentu rasa bangganya bakalan berbeda, mungkin makin cinta pada produk made in Indonesia. Daripada jajan di luar negeri, belum tentu sehat untuk orang Indonesia karena tidak tahu pengawasan prosesnya. Sekarang, semuanya sudah punya beras di rumah masing-masing. Kalau begitu, ayo kita masak beras made in Indonesia-nya, lalu bikin macam-macam nasi goreng bersama!

[1] Oxford for Famine and Relief (Oxfam) yaitu LSM internasional independen dengan konfederasi 17 organisasi di 92 negara termasuk Indonesia. Oxfam Indonesia telah berdiri sejak 1957 dengan misi utama “Memerangi kemiskinan meliputi wilayah Indonesia bagian barat hingga timur”. November 2012 lalu, Oxfam meluncurkan kumpulan catatan harian mahasiswa berjudul “Dari Desa Untuk Kita” di workshop room perpustakaan UI. Hal ini sebagai sebagai peningkatan kesadaran di kalangan muda dan komunitas tentang kondisi pangan dan desa.

[2] Data BPS tentang jumlah dan prosentase penduduk miskin Maret 2014.

[3] Berdasarkan riset BPS mengenai rendemen beras pada padi.

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *