Sinergi untuk Menyambut MEA

Pekan lalu, tanggal 17 Januari 2015, Menteri Riset dan Teknologi Muhammad Nasir mengadakan kunjungan singkat ke Universitas Jember (UJ). Ia  menggagas misi untuk mengumpulkan rektor perguruan tinggi se-Indonesia dalam forum rektor Indonesia bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia. Tujuannya agar rektor menandatangani Memorandum of Understanding(MoU) untuk menggunakan hasil penelitian bagi dunia usaha.

Mungkin mahasiswa tingkat akhir akan berfikir bahwa skripsi “pendahulu”nya menjadi sebuah pajangan berdebu di ruang baca fakultas, atau jurnalnya hanya sebagai peramai web repository universitas. Tentunya subbab “Manfaat” pada bab pendahuluan skripsi bukanlah sebagai rentetan basa-basi saja, namun selayaknya dapat direalisasikan dan bermanfaat bagi masyarakat. Dari hal tersebut, Muhammad Nasir sudah selayaknya merasa tergugah. Hasil riset perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi tumpukan kertas, apalagi sebagai penghuni bisu perpustakaan. Salah satu Tri Dharma perguruan tinggi tersebut harus mampu berkontribusi nyata bagi ekonomi kreatif. Strategi ini sepertinya disusun sebagai amunisi perang dalam arena Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

Sinergi 4 Pilar

Gagasan hilirisasi penelitian pada dunia usaha ala Muhammad Nasir merupakan secuil implementasi dari modelQuadruple Helix. Sebagai konsep, Quadruple Helix Innovation Theory merupakan model kolaborasi dan sinergisitas empat sektor, yaitu : pemerintah (government), pebisnis (business), universitas (academica), dan masyarakat atau komunitas kreatif(civil society) yang berperan sebagai penggerak tumbuhnya inovasi dan kreativitas.[1] Model ini merupakan pengembangan dari model Triple Helix, dimana kolaborasi hanya dilakukan antara 3 pihak, yaitu pemerintah, akademisi, dan pebisnis.

Konsep Quadruple Helix ini, masyarakat atau komunitas diikutsertakan sebagai subyek aktif dalam pengembangan inovasi bersama dengan universitas, pemerintah, dan pebisnis. Peran universitas disini adalah menghasilkan ide kreatif melalui penelitiannya, karena universitas merupakan “rumah” para kaum intelek yang kaya akan gagasan. Pemerintahpun harus tanggap dalam merangsang pertumbuhan investasi bisnis serta menciptakan iklim usaha yang kondusif, sehingga pebisnis mampu dengan lancar mengkomersialkan hasil inovasi tersebut untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Contohnya, Stanford University dengan Silicon Valley di US. Kedua entitas ini bekerja sama dan pemerintah US memfasilitasinya dengan cara menyediakan lingkungan yang kondusif, mulai dari masalah regulasi hingga akses permodalan. Hasilnya, sejumlah perusahaan besar seperti Hewlett & Packard, Fairchaild Semiconductor, dan  raksasa dunia mesin pencari Google Inc. tumbuh subur di sekitar daerah tersebut.[2]

Tak kalah pentingnya, masyarakatpun berhak secara aktif memberikan sumbangsih ide-ide brilliannya. Mayoritas, penghasil ide-ide inovatif dari berbagai daerah juga datang dari beragam komunitas kreatif di daerahnya. Sebagai contoh, di kota kelahiran saya, Jember, seorang masyarakat sipil biasa bernama Dynand Fariz beserta komunitasnya sukses menciptakan karnaval fashion terbesar di Indonesia dan dunia ber-title Jember Fashion Carnival (JFC).

Tantangan Quadruple Helix

Berdasarkan Global Competitiveness Report tahun 2014, Indonesia duduk di peringkat ke-34 dari 144  negara, ditinjau dari kapasitas inovasinya. Ini merupakan keunggulan komparatif yang tak bisa dipandang sebelah mata, karena Indonesia bahkan mengungguli negara berekonomi lebih maju seperti Spanyol di peringkat ke-36 dan Hongkong peringkat ke-39. Namun, ironisnya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi di Indonesia mencapai 1,2 juta orang.

Data tersebut mencerminkan belum adanya sinergi yang maksimal antara universitas dan pasar kerja. Sedangkan dalam tataran ideal, kampus seharusnya menjadi motor penggerak penciptaan lapangan kerja. Bukan sekedar menghasilkan para pencari kerja dan hanya sebatas menjadi ”mesin” yang memproduksi sebanyak mungkin sarjana.

Selain itu, anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk membiayai penelitian masih terbilang minim, yaitu sekitar 0,09% dari total APBN (Jawapos, 18/1/2015). Jika dibandingkan dengan negara tetangga, angka tersebut amatlah kecil. Singapura mengalokasikan sebesar 2,6%, Malaysia 1%, dan Thailand 0,25%. Dana merupakan penghambat yang cukup mendominasi untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas di Indonesia.

Di lain sisi, sektor ekonomi kreatif sebagai sektor ke-7 terpenting dari 10 sektor ekonomi nasional memiliki kontribusi yang sangat signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (rata-rata 7,8% per tahun dan menyerap 7,4 juta tenaga kerja). Pertumbuhan ekonomi kreatif masih menghadapi banyak permasalahan yang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Satu yang paling mendominasi adalah  lemahnya  kemampuan  sumber  daya manusia  terutama  kreativitas  dan  kapabilitas inovasi,  sehingga  berdampak  pada  lemahnya keunggulan bersaing dan kinerja usaha.[3].

Beberapa Langkah Revitalisasi

Mengenai minimnya dana penelitian, pemerintah mau tidak mau harus mengucurkan dana lebih jika ingin penelitian di Indonesia memiliki progres yang cemerlang. Sebaliknya, jika memang dana yang dianggarkan cekak, penelitian yang didanai pun harus lebih implementatif, inovatif, dan mampu mendukung ekonomi kerakyatan. Pemerintah sebagai regulator dapat menyiapkan insentif pajak untuk menstimulus pertumbuhan industri kreatif di Indonesia.

Dari sisi perguruan tinggi, gagasan ala M. Nasir menurut saya merupakan gerakan yang brilian. Ini yang dinamakan dengan sekali dayung dua pulau terlampaui. Dengan begitu, sebuah inovasi dan kreasi yang dihasilkan tidak hanya terhenti pada prototype saja, namun mampu dielaborasi pebisnis untuk kemaslahatan rakyat. Sungguh, diperlukan komitmen yang kuat dan rencana yang matang antar ke4 belah pihak untuk bisa bersinergi dengan baik. Pembinaan dan pendampingan yang berkelanjutan diperlukan agar mereka dapat memainkan perannya masing-masing dan saling menguatkan satu sama lain. Jika iklim inovasi bersahabat, dunia ekonomi kreatif pun berkembang subur sehingga mampu menyerap semakin banyak tenaga kerja, tak terkecuali pengangguran intelektual.

 

[1] Sutapa, Mulyana.Peningkatan Kapabilitas Inovasi, Keunggulan Bersaing dan Kinerja melalui Pendekatan Quadruple Helix: Studi Pada Industri Kreatif Sektor Fashion. Jurnal Manajemen Teknologi Vol 13 No. 3 2014

[2] http://dikjur.blogspot.com/2012/08/triple-helix.html

[3] 3Murniati, Dewi.Peran Perguruan Tinggi dalam Triple Helix.Seminar Nasional “Peran Pendidikan Kejuruan dalam Pengembangan Industri Kreatif” Jurusan PTBB FT UNY 21 November 2009

 

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *