Dua Puluh Delapan Oktober

Mungkin kata pengantar ini tidak cukup untuk membalas sejuta lirik yang engkau lantunkan padaku. Dinginnya embun pagi menggantung pada dahan pintu yang selalu terbuka untukmu. Kupandang lekat setiap angin yang menerobos celah-celah jendela kamarku. Akankah engkau mendengar hembusan hasratku, bahwa aku menunggu kehadiranmu saat ini, esok dan entah sampai kapan aku akan terus menunggu.

Sejujurnya, sejak engkau meninggalkanku satu minggu yang lalu, aku masih belum mengerti. Mengapa Tuhan menciptakan air mata?. Lalu mengapa aku ingin sekali meneteskan air mata itu dihadapanmu dan memohon agar engkau kembali dalam pelukanku?. Terkadang apa yang kuharapkan adalah hal terbodoh karena itu semua sangat mustahil untuk menjadi nyata. Aku bukan Tuhan yang mampu dengan sekejap menghidupkan apa yang telah hilang. Aku bukan Tuhan yang mampu membalikkan waktu hingga semuanya melangkah mundur. Aku hanya potret manusia atau bahkan tak pantas disebut manusia.

Jam dinding berdetak dibenakku. Harusnya setiap jarum jam itu berdetak, aku akan tersadar dari seribu anganku yang tak bertuan. Namun, aku tetap terdiam seperti patung di dalam sebuah ruangan hampa yang mulai pengap dan bahkan akupun tak mampu untuk bernafas. Semakin lama, kerinduan ini membunuhku dengan perlahan. Mungkin ini yang aku inginkan. Melepaskan kehidupanku sebagai manusia dan menjelajahi alam yang berbeda hanya untuk melampiaskan segala kerinduanku.

Perlahan mataku mulai kabur, kepalaku semakin berat, dan semuanya menjadi gelap tak bercahaya. Mati….

* * *

                “Jangan pernah berniat untuk menjemputku. Suatu saat Tuhan yang akan menuntunmu pada singgasana keabadian dan mempertemukan kita dengan kebahagiaan. Jika kamu tak mampu lagi menahannya, maka menangislah. Karena Tuhan menciptakan air mata untuk menghapus segala kerinduan dan penat yang memberontak dalam hatimu. Ingatlah sayang, meskipun ayah tak mampu lagi memelukmu, kasih sayang ayah akan hidup dalam setiap langkah dan nafasmu. Berjanjilah akan selalu tersenyum untuk ayah. Berjanjilah…”

* * *

“Ayahhhhhh!!!!!!!!”

Semua hanya mimpi. Tapi ayah ada dalam mimpi itu. Ayah benar-benar hadir dan memelukku. Ucapannya, senyumannya, itu semua benar-benar nyata. Sangat nyata. Iya, ayah datang menemuiku. Terimakasih ayah, hari ini, di hari ulang tahunmu, aku berdoa semoga engkau akan selalu tersenyum untukku. Bukan hanya hari ini, esok, esok lusa, dan seterusnya aku akan berdoa untuk ayah.

Aku terdiam sejenak, menutup mata, mengucapkan doa dari dalam hati, lalu kutiup semua lilin dihadapanku. “Selamat Ulang Tahun Ayah, semoga engkau selalu bahagia bersama Tuhan.”

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *