Ngatur Jadwal Manajemen

Ngatur Jadwal Manajemen

25 Februari 2015, pada jam perkuliahan ke nol seorang dosen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Jember (FE UNEJ) disibukkan mengatur jadwal di dua kelas yang diampunya. Alhasil, ia harus bernegosiasi dengan mahasiswanya untuk mengatur jadwal ulang. Namun sangat disayangkan, jadwal yang berbeda antar mahasiswa menjadi penghalang dan tidak membuahkan hasil. Sehingga proses perkuliahan saat itu ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.

 “Membuat jadwal itu dasarnya dari ploting. Ploting itu yang buatjurusan. Nah, pada saat ploting yang pertama itu sudah di-set sama jurusan, setelah selesai dioper ke akademik”, ujar Betariyono selaku operator jurusan Manajemen. “Di tengah perjalanan pemrograman itukan ada penambahan kelas, penambahan matakuliah, nah itu otomatis kan geser, gesernya itu kalo geser satu pasti geser semua”, tambahnya. Maka penambahan matakuliah juga akan menjadi tantangan tersendiri bagi pihak jurusan dan pihak akademik. Penambahan matakuliah ini disebabkan oleh penawaran matakuliah di semester genap masih ada beberapa dari matakuliah semester ganjil. Hal tersebut karena adanya permintaan dari mahasiswa yang tidak ingin membuang sisa Satuan Kredit Semester (SKS).

Sesuai dengan aturan buku Pedoman Akademik Pendidikan Universitas Jember, daftar matakuliah semester genap dan ganjil sudah dibagi ke dalam paket-paket tersendiri. Namun, hingga saat ini, implementasi dari hal tersebut susah. Mahasiswa biasanya men-comot matakuliah di semester selanjutnya untuk memenuhi jatah 24 SKS. “Banyak mahasiswa yang meminta (matakuliah semester ganjil, red) karena merasa SKS yang di tempuh kurang”, ujar Marmono selaku sekretaris jurusan Manajemen saat ditemui di ruangannya. “Susah membuat jadwal yang mepet. Pertama, dari Senin sampai Sabtu menjadi dari Senin sampai Jumat itu sudah sebenarnya sebuah prestasi.…”, tambahnya.

Dampak perubahan jadwal turut dirasakan mahasiswa yang harus bernegosiasi ulang menentukan jadwal karena dosen pengajarnya kres. Menanggapi hal tersebut, Betariyono menyarankan untuk melakukan penyelesaian di lapang pada waktu pertemuan kuliah. Setelah masa perubahan usai, perubahan satu jadwal akan berdampak pada jadwal-jadwal matakuliah yang lain.  Sehingga besar kemungkinan akan ditemukan lagi jadwal yang kres antar dosen jika dirubah. Jadwal yang tidak sesuai dengan pemrograman sistem berakibat bagi ketersediaan ruang kelas yang dipakai. Tentu saat bernegosiasi bukan hanya jadwal yang ditentukan perubahannya, tetapi juga calon kelas baru yang akan digunakan. “Kalo dosen mau ganti jadwal di hari lain bakal bingung, soalnya tiap mahasiswa kan beda jadwal yang ditempuh”, tutur Via, mahasiswa Jurusan Manajemen 2012.

Selain masalah jadwal akibat penambahan matakuliah yang ditawarkan, dosen pengampu juga mengalami perubahan di minggu kedua. Hal ini terkait dengan pemerataan beban kerja dosen dengan jumlah matakuliah yang diampu. Beban kerja tiap dosen ini berkisar antara 12 – 16 SKS pada setiap semester sesuai dengan kualifikasi akademiknya.

Sehingga pihak jurusan mengubah kembali rencana yang sudah dipersiapkan sejak tanggal 17 Desember 2014 saat plotingawal. “Kalo menurutku sih gak masalah, asalkan jangan berkelanjutan sampai semester berikut-berikutnya..Soalnyaberdampak pada perkuliahan minggu pertama belum ada dosen, karena belum fixnya (jadwal, red) itu”, ujar Marisa, mahasiswa Jurusan Manajemen tahun 2012.

Pergerakan Kemajuan Sistem

Kemajuan teknologi mengembangkan Sister menjadi Sister For Student (SFS) yang dapat diakses melalui handphoneberbasis Andorid. Namun, aplikasi yang disahkan tahun 2015 ini masih dalam masa transisi. Tujuan diciptakan SFS untuk mempermudah mahasiswa melakukan pemograman atau aktivitas yang berhubungan dengan Sister hanya melaluihandphone. Tapi, kebebasan itu masih harus dipantau, karena pada masa pemrograman KRS masih mengalami hambatan. Salah satunya yaitu kuota yang sudah di-set masih bisa di-jebol oleh mahasiswa. Sehingga kuota peminat melebihi kuota yang disediakan.

“Ada. Ya kan kuota yang dibuka 17, tapi di jumlah mahasiswanya itu ada 27 anak”, ujar Darwin Eka, mahasiswa Jurusan IESP 2013. Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh Putri Maria, mahasiswa IESP 2013 melalui media sosialnya, “Pak Untung (pihak operator jurusan IESP, red) bilangnya di-hack”.

Uniknya lagi, untuk perubahan kelas dan pembatalan matakuliah dapat dilakukan tanpa persetujuan dari Dosen Pembimbing Akademik (DPA). “Ternyata tinggal klik batal langsung bisa ganti-ganti dan DPA-nya gak tau. Setelah di-cek gak ada. Ternyata itu (Sister, red) tidak nge-link ke Android. Nge-link nya ke PC”, ujar Betariyono.

Sebuah permasalahan kecil memang sering dianggap wajar. Namun jika terus dibiarkan menempel, semakin lama akan menjadi jamur yang nantinya akan sulit dihilangkan. Mulai dari pengelolaan sistem, pengguna sistem dan pelaksana. “Kalau di manajemen, mahasiswanya memang banyak, orangnya (sumber daya manusia, red) juga banyak. Mungkin kompleksitasnya juga lebih tinggi. Tetapi bisa ditelusuri dengan cara audit”, ujar Hadi Paramu selaku dosen Manajemen. “Menelusurinya bukan mencari orang yang salah, tetapi audit itu melihat apakah alurnya sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur, red) apa tidak. Lalu mencari solusinya”, tambahnya. [Aprillia, Esterina, Nadia, Yogi]

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *