Asupan Soft Skill Bagi Mahasiswa

“…Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku dengan sangat baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat. Saya duduk di dalam kelas, rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang hebat” (Erica Goldson, 2010)

Begitulah kira – kira arti dari sepenggal pidato yang dilontarkan lulusan terbaik Coxsackie-Athens High School, New York pada tahun 2010 lalu. Pidato seorang siswi setara sekolah menengah ─di Indonesia─ ini cukup ramai diperbincangkan tahun lalu. Erica mengatakan bahwa dia bangga menjadi lulusan terbaik di sekolahnya, tetapi di sisi lain dia merasa takut untuk melanjutkan hidupnya. Ketika teman – teman sebayanya sibuk mencari hobi, Erica hanya bergulat dengan semua mata pelajaran dalam sebuah pekerjaan bernama ‘belajar’ demi mengejar sebuah kelulusan semata. Sehingga ketika dia lulus, dia bingung langkah apa selanjutnya yang harus diambil? Bahkan dia kebingungan mengenai hobinya sendiri.

Pidato yang di-share oleh teman – teman di kampus tahun lalu ini menggugah hati bahwa belajar tak melulu harus ‘pandai’ di bidang akademik saja, agar kita tidak tumbuh menjadi generasi teoritis atau menjadi seorang praktisi saja. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa nilai di bidang akademik merupakan salah satu tolak ukur dalam menilai kemampuan teknis kita.

Seperti yang kita tahu, kegiatan belajar di kelas merupakan kegiatan pengembangan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmu yang kita minati. Hal ini dipelajari secara formal karena semua profesi yang kita pilih nantinya membutuhkan suatu keahlian (hard skill).

Sedangkan kemampuan lain yang diperlukan kita sebagai seorang mahasiswa berkaitan dengan soft kill yakni keterampilan seseorang dalam hal berhubungan dengan orang lain, keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri untuk memaksimalkan proses bekerja dan belajar. Dengan memiliki kemampuan hard skill dan soft skill yang baik, tentunya kita mampu menjadi seorang manusia yang berkualitas.

Saat ini tuntutan akan penguasaan soft skill bukan merupakan hal yang baru lagi bagi seorang mahasiswa. Sebagai seorang Maha-Siswa, kita dituntut untuk memiliki kemampuan lebih yang dipersiapkan untuk jenjang selanjutnya di dunia kerja. Dalam dunia kerja yang diperlukan bukan hanya kemampuan akademik dan teori yang tinggi saja, tapi yang lebih penting lagi adalah kemampuan bersosialisai dan berkomunikasi dengan sesama pada lingkungan kerja, mengingat lulusan yang dihasilkan di Indonesia sendiri cukup tinggi setiap tahunnya.

Kemampuan dalam pengembangan soft skill itu sendiri tidak hanya terbatas pada kemampuan bersosialisasi dan komunikasi saja. Banyak aspek yang dapat dikembangkan oleh seorang mahasiswa sebagai nilai plus-nya sendiri, misalnya kemampuan untuk dapat bekerja sama dalam melaksanakan tugas, kemampuan bekerja di bawah tekanan, kemampuan berkomunikasi secara lisan maupun non lisan, mampu mengorganisir tugas ,dan masih banyak lagi.

Universitas merupakan wadah yang disediakan pemerintah maupun swasta untuk pengembang kemampuan akademik dan non akademik mahasiswanya. Sudah tentu universitas di sini ikut andil dalam memfasilitasi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan soft skill-nya, misalnya saja di Universitas Jember terdapat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang siap menyalurkan minat dan bakat mahasiswa dalam berbagai bidang. UKM menjadi wadah mahasiswa dalam berorganisasi di lingkungan kampus, di sini mahasiswa dapat mengembangkan kemampuannya untuk memanajemen waktu, kemampuan leadership, berpikir kritis dan lain sebagainya. Dalam UKM pula, mahasiswa akan bertemu dengan lingkungan yang lebih luas sehingga kemampuan berkomunikasi dan adapsi dengan lingkungan barunya semakin berkembang.

Lain halnya dalam pembentukan soft skill yang dilaksanakan di bidang akademik. Menganut  konsep pembelajaran baru yang diterapkan saat ini─Student Centered Learning (SCL) artinya pusat pembelajaran terletak pada mahasiswa, sehingga akan menular pada mahasiswa lainnya untuk terlibat dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilakunya. Sehingga pada akhirnya mahasiswa dituntut untuk aktif, kreatif, berani berpendapat, dan melatih kemampuan analitis.

Di Fakultas Ekonomi Universitas Jember tentunya telah kita rasakan bersama – sama rentetan tugas kelompok yang diberikan dosen. Hal ini semata – mata untuk membiasakan diri  menjadi orang yang dapat  bekerjasama dalam suatu kelompok. Tugas yang datang bertubi – tubi pun memiliki sisi positif agar kita dapat bekerja di bawah tekanan dan memanajemen waktu.

Namun disayangkan, wadah yang diberikan oleh universitas ini ternyata tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh mahasiswa itu sendiri. Masih banyak mahasiswa yang menganggap bahwa terlibat dalam putaran kegiatan mahasiswa dibidang non akademik itu membuang – buang waktu dan nantinya menjadikan mahasiswa malas kuliah. Hal ini kembali lagi pada polemik nilai kuliah “Harus Bagus dan Lulus Tepat Waktu”. Padahal masih banyak jalan menuju Roma toh Rek?

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *