Mempertanyakan Internasionalisasi Fakultas

Mempertanyakan Internasionalisasi Fakultas

Mengingat Student Exchange (SE) masih dalam tahap rintisan di FE dan Lecture Exchange (LE) diharapkan tetap terjalin antara FE dengan USC, maka diperlukan pula mahasiswa dan dosen yang berkapabilitas. Dalam hal ini pihak FE mengadakan Kelas Bilingual (KB) yang bisa menjadi wadah bagi mahasiswa yang nantinya bisa diandalkan untuk mengikutistudent exchange. “Mahasiswa di Kelas Billingual dipercaya lebih berani mengikuti SE, karena dalam kegiatan belajar mengajarnya mereka sudah dibiasakan dengan Bahasa Inggris”, tutur Istifadah selaku Pembantu Dekan I (PD I). Perkembangan dalam KBpun dianggapnya baik, dengan banyaknya sertifikat yang dimiliki dan mahasiswa berprestasi yang dihasilkan dari KB. “Maka diharapkan KB nantinya bisa menjadi kelas Internasional”, tambah Fathorrozi.

Namun, menurut Hadi Paramu selaku dosen KB Manajemen, perkembangan di KB tidaklah kelihatan. “Mahasiswa KB cenderung pasang surut semangatnya, maka perkembangannyapun tidak kelihatan, oleh karena itu perlu diadakannya evaluasi”, ungkapnya. “Adanya dosen yang masih menggunakan Bahasa Indonesia dalam mengajar adalah salah satu kendala bagi kita untuk mengoptimalkan skill Bahasa Inggris yang kita punya”, komentar Bima mahasiswa KB Manajemen 2012. Semangat yang pasang surut ini mempengaruhi proses belajar mereka, khususnya dalam penguasaan Bahasa Inggris. Sehingga dianggap masih kurang untuk bisa menyaingi USC yang juga belajar Bahasa Indonesia dalam menghadapi AEC(Asean Economy Community) 2015 nanti. “Ini yang perlu di antisipasi”, tambah Hadi Paramu.

Mengenai kunjungan 22 mahasiswa FE ke USC, Ardhian Hadi selaku ketua panitia memberikan pendapatnya. “Banyak manfaat yang didapat sepulang dari sana, selain mereka bersedia membuat projek lagi, kita juga mendapat bantuan untuk bisa melaksanakan penelitian bareng mereka”, sahut mahasiswa KB Manajemen 2012 ini. Manfaat yang ada, cenderung seperti personal benefit, jika mahasiswa yang belum sempat mencicipi belajar di negara partner ini tidak mendapatkan transformasi ilmu dari mahasiswa yang ikut program SE tersebut. “ Untuk itu kami ingin mengadakan sharing per jurusan, tentang kegiatan kita disana dan keinginan untuk kedepannya, sesuai yang sudah kita laporkan ke pihak universitas dan fakultas”, tambahnya.

Evaluasi dan Dampak Kerja Sama

Dalam bekerjasama, tentunya dibutuhkan adanya evaluasi agar bisa diketahui kekurangan yang dimiliki sehingga bisa diadakannya perbaikan, dan manfaat yang di dapat pun bisa sesuai dengan yang diharapkan. “Kita sudah  menyebar kuesioner untuk partner kerjasama termasuk USC. Sehingga mereka bisa menilai kinerja pelayanan kita terhadap mereka (USC, red)”, jelas Zulfikar. Namun, kurangnya komunikasi yang baik antara pihak fakultas dengan dosen yang pernah diberangkatkan menjadi kendala dalam evaluasi ini. “Seharusnya ada diskusi khusus antara pimpinan fakultas dengan kita (dosen LE, red), mungkin kita bisa membantu mencarikan solusi tentang bagaimana seharusnya kita bertindak” kata Aditya selaku dosen KB yang juga pernah di berangkatkan dalam program LE. “Bukan karena apa, tapi kita yang pernah kesana, jadi tahu bagaimana keadaan disana” tambahnya. “Kita (dosen LE, red)  juga mengadakan presentasi dihadapan rektor, dekan, dan staf lainnya, tentang kegiatan kita dan respon mereka (USC) terhadap kehadiran kita, agar kita bisa menyesuaikan dalam bersikap”, Jawab Hadi Paramu saat ditanyai tentang evaluasi kerjasama.

Dampak ini sebenarnya tergantung dari cara menanggapi kerjasama Internasional ini. Jika mereka tidak dapat memanfaatkan jalur kerjasama yang sudah ada dengan baik, maka bisa jadi Filipina lebih maju dari Indonesia dalam AEC. “USC itu sudah memperhitungkan, jika AEC jadi dilakukan akhir 2015 berarti mereka harus menyiapkan semua yang dibutuhkan jauh hari sebelum AEC ini benar-benar dimulai, termasuk tentang bahasa”, ujar Hadi Paramu. “Dimana mayoritas bahasa ASEAN adalah bahasa Melayu, jadi mereka (Filipina, red) yang merupakan bahasa minoritas berusaha untuk belajar bahasa melayu. Kesempatan mereka belajar ya pada saat kerjasama ini berlangsung”, tambahnya. Menyelam sambil meminum air, begitulah perumpamaan yang mungkin bisa dipakai.

Dekan FE juga menambahkan pendapatnya mengenai dampak kerja sama ini. “Dengan kerjasama ini kita akan terbiasa berhadapan dengan orang asing, karena dalam AEC hal ini juga sangat diperlukan”, jelas Fathorrozi. Kerjasama ini dianggapnya memiliki kontribusi positif. “Dengan kerjasama ini kita bisa mengetahui adanya kekurangan dan kelebihan (Unej dan USC, red), jadi bisa saling membantu”, imbuhnya.

 

 

Nayla Rizqi K

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *