Persiapan Bahasa Jelang AEC

Liberarisasi ekonomi pada level regional ASEAN alias ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2015 menjadi medan perang ekonomi bagi Indonesia. Menjadi peran figuran ataukah pemeran utama dalam medan tersebut. Hanya usaha kita sebagai bangsa Indonesia yang bisa menentukan. Indonesia dan sembilan negara anggota ASEAN lainnya telah menyepakati perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA/AEC) pada KKT ASEAN ke-9 di Bali tahun 2003 silam. Nantinya tidak hanya arus perdagangan barang atau jasa yang dibuka, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional seperti dokter, pengacara, akuntan, dan profesi lainnya.

Banyak yang perlu dipersiapkan oleh bangsa Indonesia dalam menghadapi MEA, terutama dari segi budaya berbahasa. Bahasa menjadi salah satu faktor penting dalam setiap kegiatan komunikasi bisnis. Bahasa Melayu kini menjadi bahasa yang paling banyak digunakan di negara ASEAN setelah bahasa Internasional. 5 dari 9 negara di ASEAN, beberapa negara sudah mulai mengenal dan menggunakan bahasa Melayu. Kelima negara itu diantaranya Brunei Darusallam, Malaysia, Laos, Thailand bahkan Vietnam. Sejarahnya, bahasa Indonesia sendiri tidak terlalu berbeda dengan bahasa Melayu. Sehingga, banyak masyarakat dari negara lain yang berbondong-bondong ingin mempelajari bahasa Indonesia.

Peluang manfaat bahasa Indonesia ini ternyata sudah dimanfaatkan secara ’cantik’ oleh beberapa perusahaan di ASEAN. Sebut saja Bumrungrad International Hospital (Thailand), Air Asia, CIMB Niaga dan lainnya. Sasarannya jelas, konsumen Indonesia.

Tahun 2013, Universitas San Carlos (USC) di Filipina mendirikan pusat bahasa khusus bahasa Indonesia. Tujuan dari pendirian pusat bahasa yaitu agar mahasiswa USC dapat mengenal dan mempelajari bahasa ibu kita, yaitu bahasa Indonesia. Dapat dilihat, hal tersebut merupakan salah satu persiapan pemerintahan Filipina dalam menghadapi MEA.

Beberapa waktu silam, Universitas Jember (Unej) telah melakukan kerjasama dengan USC sebagai bentuk Internasionalisasi Program. USC mengirimkan 1000 mahasiswanya untuk mempelajari bahasa Indonesia ke berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia, tak terkecuali Unej. Jika bangsa Indonesia sudah fasih dengan bahasanya sendiri, maka sudah saatnya bangsa pribumi mulai mengasah kemampuan dengan mengenal bahasa Internasional, yaitu bahasa Inggris atau Mandarin.

Sejatinya, hal ini bukan untuk menimbulkan rasa takut akan bahasa kita direbut oleh negara lain. Namun, kita sebagai salah satu bangsa ASEAN yang akan menghadapi MEA juga perlu menentukan strategi dalam peningkatan sumber daya manusia (SDM). Peningkatan itu tidak bisa hanya mengandalkan universitas sebagai fasilitator. Diperlukan adanya kesadaran diri untuk memperbaiki kualitas yang dimiliki. Bayangkan bahwa besok MEA sudah berlangsung! Siapkah menghadapinya?

Semoga!

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *