Pergeseran Fisik dan Fungsional Ruang Baca

Pergeseran Fisik dan Fungsional Ruang Baca

Fasilitas ruang baca (RB) sangat berpengaruh pada slop peningkatan minat mahasiswa untuk mengunjunginya. Dalam meningkatkan minat dan kenyamanan mahasiswa, FE akan mengadakan perehaban ruang baca pada tahun ini. Rencana perehaban tersebut dibenarkan oleh rektor bahwa RB memang akan direhab terkait adanya S2 dan S3. Namun, pada dasarnya FE sebelumnya tidak merencanakan hal itu, karena sejauh ini fokusnya hanya pada pembangunan kelas. ”Untuk penganggaran, ekonomi lebih konsentrasi ke pembangunan fisik”, ungkap Wasito selaku Pembantu Dekan II (PD II). “Perombahannya tidak sejak dari dulu, karena kebijakan universitas”, tambahnya.

Perehaban RB lebih mengarah pada penambahan referensi untuk pascasarjana yang kembali di FE. Terkait penambahan referensi, untuk saat ini masih tidak ada penambahan buku. “Untuk pengupgradean buku terakhir itu saat mendapat sumbangan dari Pak Agung sebanyak 10 buku tahun 2014”, tutur Yoyok. Berbeda dengan FE, Fakultas Hukum (FH) melakukan pengadaan buku dimulai sejak tahun 2010. “Untuk yang disini sekitar 500 buku”, tutur staf RB FH saat diklarifikasi mengenai penambahan buku dalam kurun waktu terdekat. Menanggapi hal tersebut, Wasito selaku PD II menyebutkan bahwa kelemahan FE hanya tidak bisa menambah buku sampai saat ini.

Menyinggung pengadaan buku di RB, mahasiswapun masih belum tergerak untuk menyumbang beberapa buku yang dimilikinya. Terutama mahasiswa yang sudah menyandang sarjana. Berbeda dengan FH yang mewajibkan sistem penyumbangan dua buku bagi mahasiswa yang sudah lulus. Tidak hanya buku yang harus diperhatikan, bahkan beberapa skripsi mahasiswa angkatan tahun 2006 sudah tidak bisa terbaca. Sedangkan pada FMIPA jurusan Matematika, terdapat 405 skripsi mulai tahun 2003-2015 masih bisa terbaca.

Sebelumnya FE memiliki dana yang berasal dari Perkumpulan Orang tua Mahasiswa (POMA), akan tetapi sejak tahun 2008 dana tersebut tidak diperkenankan kembali. Berkenaan dengan perehaban, penganggaran dana yang ada saat ini berasal dari dana rutin. Fathorrozi menjelaskan bahwa dana rutin tersebut adalah dana dari universitas yang turun ke beberapa fakultas tertentu terkait munculnya S2 dan S3. Alokasi dana untuk perahaban kini sudah tersedia seperti yang diungkapkan oleh Wasito, “dananya dari Jakarta keseluruhan buat rehab 200 juta”.

Alur pencairan dana dimulai dari pengajuan oleh fakultas. Setelah ada pengajuan, fakultas akan mendapatkan verifikasi dari universitas dan kemudian diikuti dengan pengawasan dari pusat. Hal tersebut dilakukan hingga mendapat izin untuk mengembangkan fasilitas. Pengembangan yang tidak hanya diperuntukkan pada RB, tetapi juga pada hal-hal yang bersifat penting dan bisa dikembangkan.

Setelah ada dana untuk perehaban, fungsi RB akan lebih mengedepankan pemanfaatan teknologi. Bahkan dalam penambahan koleksi untuk thesis akan menjalar ke dalam bentuk softcopy. Namun, untuk skripsi tetap berada di RB. Pengalihan fungsi RB selaras dengan perkembangan information technology (IT) didukung oleh PD II. “Sekarang itu semuanya dalam bentuk teknologi, buku tidak harus dalam bentuk fisik”, tutur Wasito. Mengenai perkembangan IT yang akan dilaksanakan saat ini, FE menerapkan adanya online book. Salah satu web dari online book tersebut yaitu science directdengan masa berlaku yang terbatas, berkisar mulai Januari hingga Maret 2015.

Selain ditinjau dari berberapa hal diatas, menurut Faturrozi aspek yang akan ditunjang berkenaan dengan perehaban adalah penambahan wifi, rak-rak buku, dan ruang digital. Melihat sisi perubahan kearah digital, peran RB akan terperangi, bahkanhand book sebagai referensi kuat akan perlahan menghilang. “Kalau akan menggunakan referensi dalam bentuk soft copy, tentunya akan lebih sulit untuk dipelajari. Menurut saya, itu akan mudah hilang filenya, dan untuk belajarnya kurang efektif soalnya kan kita harus menghadap monitor terus menerus”, ujar Shelvianti, mahasiswi kesekretariatan,

Pengelolaan RB yang sekarang ini masih belum dikatakan optimal, terkait dengan penjelasan staf bahwa RB akan tutup saat ada keperluan pribadi. Selain hal tersebut, keberadaan RB hanya sebagai pajangan sesuai dengan pernyataan rektor bahwa RB lebih baik dibiarkan daripada ditutup. Di samping itu, melihat pada FH bahwa staf menyatakan memiliki PDIH (Pusat Dokumentasi Ilmu Hukum) untuk segi pengelolaan. Menyikapi hal tersebut Wasito merencanakan keefektifan RB lebih diperhatikan. Dalam mendukung perehaban akan diberikan pelatihan pada SDM. Sehingga nantinya tidak hanya  pengelolaan, tetapi pengawasan akan lebih ditingkatkan untuk menjangkau fungsional RB.

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *