Bersiap Untuk Global

Masa kuliah tingkat sarjana (S1) dan Diploma 4 (D4) semakin pendek saja. Pemerintah Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 49 tahun 2014 pasal 17, mewajibkan batas maksimal waktu studi kuliah tingkat S1 dan D4 adalah lima tahun dengan 144 SKS. Kebijakan ini mulai diberlakukan untuk mahasiswa baru angkatan 2014.

Kuota perguruan tinggi, tuntutan global, jumlah lulusan maksimal per tahun hingga alasan pembelajaran selama kuliah menjadi pertimbangan utama munculnya kebijakan ini. “Kuliah itu kan waktunya 8 semester, artinya bila ditambah dengan dua semester jadi maksimal 5 tahun. Kenapa perlu diperketat? Karena yang antre banyak,” kata Menteri Pendidikan RI, M. Nuh ,(wartaharian.co , edisi 17 September 2014).

Tak ada yang sempurna, tapi setidaknya penyempurnaan mindsetmahasiswa harus dilakukan, agar implementasi kebijakan tak abal-abal. Ada kekhawatiran kebijakan ini menghasilkan lulusan yang tak matang pengalaman jika dilaksanakan, karena di satu sisi mahasiwa harus lulus cepat, dan di lain sisi harus berpengalaman saat lulus. Stigma predikat cumlaudeper semester masih melekat di kalangan mahasiswa, jadi fokus kualitasnya masih di sisi akademiknya saja. Padahal saat ini, peluang kerja tersedia bagi mereka yang tak hanya mahir dalam dunia akademisnya melainkan lengkap dengan sisi soft skill-nya.

Sekedar melirik ke negara tetangga, beban mata kuliah yang di berikan tidak banyak , sehingga tatap muka di kelas lebih sedikit. Tapi, beban mata kuliah praktek lapangnya lebih dominan. Tak heran lulusannya lebih siap perang. Bukan ingin mengagungkan negara lain, tapi kesadaran terhadap masa depan generasi penerus bangsa harus digugah. Hal ini dimaksudkan agar tak dipecundangi karena menjadi korban Neo-Imperialisme yang hanya menjadi penonton saat negaranya dikeruk kesempatan kerjanya dan sumberdayanya karena tak mampu bekompetisi.

Tahun 2015 tinggal menghitung bulan. Asean Economics Community (AEC) akan menyapa Indonesia. Tantangan dunia kerja semakin kompetitif. Pengalaman kerja, bahasa asing, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, keahlian bernegoisasi, keberanian mengambil resiko bisnis, hingga multitallent seolah menjadi tuntutan wajib untuk setiap insane pemburu kerja di Indonesia. Wahai para maha-siswa bergegaslah, jika tak ingin terpeleset ke jurang pengangguran intelektual’. Satu-satunya yang bisa diselamatkan sekarang adalah mengubah stigma “Pokoknya Lulus” menjadi “Lulusan Berkompetitif” . Jadi sekalipun IPKnya tak cumlaude tapi masih unggul secara kompetitif di bidang lain (soft skill). Setidaknya pihak perguruan tinggi sudah menyediakan fasilitanya, semisal UKM dan pelatihan sertifikasi.

Tak akan ada masalah jika Permendikbud harus dilakukan, selama implementasi  teknisnya digodog dengan matang sesuai kondisi mahasiswa yang ada. [Redaksi]

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *