Pascasarjana Kembali Pulang

Topik World Class University (WCU) masih hangat diperbincangkan dunia pendidikan tinggi di negeri ini, setidaknya dalam beberapa tahun belakangan. Menyandang gelar sebagai universitas bertaraf internasional merupakan intensi bagi institusi pendidikan tinggi di negeri ini. Bagaimana tidak, upaya yang digalakkan oleh universitas akan ekuivalen dengan manfaat di masa mendatang. Salah satu keuntungan yang akan dirasakan perguruan tinggi yang berhasil menggaetgelar WCU adalah meningkatnya pandangan positif masyarakat terhadap universitas tersebut.

Tak dapat dipungkiri, munculnya gagasan menuju universitas bertaraf internasional akhirnya menimbulkan kegaduhan pula dalam ranah perguruan tinggi. Setiap universitas seakan berlomba-lomba untuk dapat sekadar nyantol dalam pemrangkingan internasional. Demi mencapai kegiatan tersebut, mereka bergerilya untuk memenuhi kriteria yang diterapkan salah satu pemrangking internasional. Hal ini dilakukan agar universitasnya dapat masuk dalam peringkat lembaga penilai universitas bertaraf internasional.

Begitu pula Universitas Jember (UJ) yang turut merespon globalisasi dengan langkah bersiap menuju WCU. Upaya menuju WCUpun digalakkan untuk peningkatan kualitas pendidikan dalam rangka menyambut ekonomi pasar bebas yang tinggal seumur jagung. Tak hanya berakhir di bibir saja, berbagai strategi telah disusun UJ dalam rangka memetik predikat universitas bertaraf internasional. Langkah utama yang akan menjadi gebrakan UJ menuju WCU dengan menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas unggul.

Mari kita menilik ke dalam kriteria yang dicanangkan untuk menjadi sebuah universitas bertaraf internasional. Salah satu komponennya yakni jumlah lulusan pascasarjana yang mencapai 40% dari total jumlah mahasiswa[1]. Hal ini dianggap sebagai cermin peningkatan kualitas pendidikan di suatu universitas, yang dapat dilihat dari jumlah lulusan pascasarjana. Dengan semakin banyaknya lulusan pascasarjana berarti kualitas universitas tersebut semakin baik karena semakin diminati oleh mahasiswanya. Selain itu, jumlah pascasarjana yang semakin banyak akan melahirkan penelitian yang banyak pula.

Semakin banyak minat terhadap program studi pascasarjana berarti semakin banyak pula dosen bergelar profesor yang akan dibutuhkan UJ. Dosen dan mahasiswa merupakan satu ikatan dalam sebuah perguruan tinggi. Dosen yang berkualitas akan menghasilkan mahasiswa yang berkualitas pula. Oleh karena itu, dosen sangat berpengaruh dalam kemajuan pendidikan yang ada. Dengan begitu, dosen akan termotivasi untuk melakukan penelitian serta terus melanjutnya studinya untuk memperdalam ilmu.

Sebagai universitas negeri yang telah berdiri 50 tahun silam, UJ sudah tentu memiliki program studi pascasarjana. Hal ini diberikan guna memfasilitasi mahasiswa yang ingin meneruskan program pendidikannya di Strata Dua (S2) dan Strata Tiga (S3). Program pascasarjana sendiri terdiri dari 15 program sarjana untuk S2 dan 5 program sarjana untuk S3[2]. Namun dalam penerapannya ada yang berbeda dengan tahun sebelumnya, program pascasarjana yang ada di UJ kini dikembalikan ke fakultas masing-masing, setelah sebelumnya diadakan dalam satu gedung pascasarjana. “Itu dari regulasi bahwa prodi atau jurusan bisa melaksanakann pascasarjana kalo itu monodisiplin itu memang harusnya ada di fakultas, yang di running betul di pascasarjana itu adalah multidisiplin. Jadi sementara ini Unej belum punya yang multidisiplin jadi semuanya kembali ke fakultas masing-masing”, ujar Moh.Hasan selaku rektor UJ

Menindaklanjuti hal tersebut, Fakultas Ekonomi (FE) pun berbenah. Dari segi akademik yang awalnya hanya memiliki program pascasarjana S2 untuk program studi manajemen saja, saat ini telah memiliki program pascasarjana untuk studi IESP dan Akuntansi, baik untuk S2 dan S3. Hal ini telah dilakukan sejak satu tahun belakangan ini yang kemudian menjadikan FE sebagai program studi terlengkap yang ada di UJ, “kalo di FE ini adalah program studi terbanyak dan terlengkap di UNEJ…dari S0-S3 ada semua. Makanya disini terbanyak dan terlengkap. Kita punya 12 program studi, S0-S3 dan terlengkap…tapi S1 sampai S3 dipunyai Ekonomi”, terang Fathurrozi selaku Dekan FE.

Selain berbenah di bidang akademik, FE pun berupaya membenahi perwajahan infrastrukturnya. Ruang kelas untuk proses belajar mengajar ditambah dengan penambahan lantai dua di sisi barat FE yang diperuntukkan bagi mahasiswa S0 dan S1. Ruang POMA pun tak kalah ketinggalan, ruang yang semula kosong dan dapat digunakan sewaktu-waktu untuk aktivitas mahasiswa atau yudisium akhirnya disekat menggunakan tripleks, “Iya disekat pake kaya gini (tripleks, red) jadi gak utuh ditembok seperti ruang-ruang depan. Jadi itu jadi kantornya S2-S3, ditambah 2 kelas.”, terang Sony Sumarsono selaku Pembantu Dekan III (PD III) FE. Penyekatan ini dilakukan sebagai langkah pengadaan kantor administratif untuk pascasarjana yang dikembalikan ke fakultas masing-masing, “Begini ruang poma dijadikan ruang kantor pascasarjana, biasanya dipakai yudisium lalu dialihkan menjadi kantor administrasi pascasarjana”, lanjut PD III FE.

Bendera tanda mulai menuju WCU telah dikibarkan. Gerbang menuju masyarakat ekonomi ASEAN tinggal seumur jagung. Kontes menyabet rangking universitas bertaraf internasional kini di elu-elukan. Tak hanya tinggal di bibir saja, berbagai langkah taktis telah dirancang sedemikian rupa, mulai penggodokan sumber daya manusia di dalamnya hingga peningkatan mutu infrastrukturnya, meski terkesan memaksa. Siapa sih yang tak mendamba dijadikan idola?. []

 

[1] http://beasiswaunggulan.kemdiknas.go.id/mobile/profil.php

[2]     Sumber:http://pasca.unej.ac.id/index.php/akademik/program-s2 danhttp://pasca.unej.ac.id/index.php/akademik/doktor-kolom

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *