TV ECSTASY dan EGOISME KEDEWASAAN

Sebuah foto demonstran memegang tulisan “Korean Film are in Danger” dimuat dalam  salah satu rubrik ‘KOREA’  tabloid Asian Star sekitar bulan Oktober 2005.  Para demostran yang berlatar belakang pekerja entertainment Korea mulai artis sampai sutradara memprotes keras tindakan Pemerintah Korea Selatan jika mensetujui Kebijakan Amerika Serikat untuk membatasi distribusi film ke beberapa negara terutama Amerika Serikat Sendiri.

Hal ini terkait kekhawatiran perfilman Hollywood yang mulai menghawatirkan embrio hallyu (Korean Wave) effect. Seorang simpatisan, sutradara Telenovela Meksiko waktu itu mengatakan, jangan sampai Pemerintah Korea Selatan mengalah mengenai hal ini agar tidak bernasib seperti negaranya.

Itu kali pertama saya mengenal istilah Hallyu. Bagi saya, waktu itu berita tentang artis korea tak begitu penting sekalipun setiap bulan saya menyisihkan uang jajan untuk membeli Edisi terbaru tabloid Asian Star. Tapi ketertarikan saya bukan karena negara Korea, melainkan semua hal-hal yang berbau kata Japanse alias J. mulai dari J-Anime, J- rock, J-Pop, dorama (sebutan drama Jepang) sampai info cosplay (Costum Palyer). Kegemaran ini merupakan efek domino atas ulah seorang teman yang menjejali saya dengan komik Jepang. Dari hal ini, kegemaran saya terhadap komik mulai sedikit naik dosisnya. Mungkin karena sedikit akumulasi dari kerinduan memori masa anak-anak di era 90-an yang memang mendapatkan masa anak-anaknya.

Sekitar tahun 1994-1996, acara anak-anak di televisi sangat beragam, mulai dari Music Show anak-anak , seperti Tralala-Trilili,  Ceria Anak dan Ci-Luk-Baa sampai sinetron anak seperti “Keluarga Cemara”. Apalagi jika hari Minggu tiba, sejak bangun tidur hingga siang hari siaran kartun anak ditayangkan berurutan. Alhasil saya sampai hafal jadwal tayangnya.

Memasuki usia sekolah dasar, sedikit-demi sedikit tayangan anak negeri mulai berkurang dan menghilang perlahan, Menyisakan tayangan kartun anak dengan tema kompetisi, sebut saja Bakuso Kyodai Let’s n’ Go dan Beyblade. Kartun ini juga sempat  booming di kalangan anak-anak. Bahkan setiap anak laki-laki pasti di sekitar saya rela merengek untuk dibelikan mobil balap tamiya atau gasing Beyblade lengkap dengan accesoris-nya untuk diadu dengan milik temannya.

Tahun 1998-1999. Tayangan televisi mulai melupakan anak-anak. Telenovela asal Meksiko, Venezuela dan Kolombia mulai saling tayang di beberapa stasiun TV swasta. Telenovela Amigos juga menjadi buah bibir di kalangan anak-anak. Sayang, tayangan ini juga masih harus di bawah pengawasan orang tua.

Memasuki 1999-2000an. Perfilman India mulai memasuki Indonesia dengan konsep Bollywood. Sebelumya, film India juga sudah masuk ke layar kaca TV Indonesia. Tapi, alur ceritanya masih klasik, percintaan dibumbui balas dendam pada penjahat. Ck! Sejak Bollywood masuk anak-anak juga tak luput dari imbasnya. Soundtrack Bollywood diputar dimana-mana, di radio sampai acara pernikahan. Tak sampai di situ, iramanya yang mirip musik dangdut akhirnya membuat sebuah ladang baru bagi industri musik untuk mengubahnya liriknya menjadi lagu dangdut koplo atau bahkan campur sari. Otak anak-anak akhirnya juga dijejali dengan musik seperti itu.

Tahun 2001, demam film drama remaja Cina-Taiwan mulai melanda. Kawan sebangku saya, Neny bercerita tentang drama Meteor Garden dengan antusias tiap hari Selasa pagi. Saya hampir hafal semua nama pemainnya tanpa menontonnya langsung. Maklum saja, aturan jam tidur saya di bawah jam tayang acara ini.

Pertengahan  tahun 2003, drama Korea mulai masuk. Sebut saja My Love Patzzi, Endless Love, dan All About Eve. Porsi tayangannya masih seimbang dengan drama Taiwan dan dorama yang ada.  Lembaga Sensor Indonesia juga masih sangat peduli muncul sebelum tayangan ini.

Awal tahun 2004, aroma persaingan jelang pemilu 2004 mulai mencul. Anak-anak mulai akrab dengan lambang partai. Di mana-mana kampanye, anak-anak juga diajak mengikuti kampanye. Padahal jelas, hal ini melanggar aturan kampanye. Tapi apa pedulinya partai? Yang penting massanya banyak.

Beranjak remaja, di sekolah menengah tahun 2005, porsi dorama mulai mengalami menghilang dari layar kaca Indonesia. Menyisakan K-Drama dan Taiwanese Drama. Namun perhatian saya malah tercuri oleh si J. Dari yang awalnya sekedar membaca komik tiap akhir pekan, menjadi gandrung dengan Anime. Dari anime suka Soundtrack-nya. Dari soundtrack suka vokalisnya. Dari vokalisnya suka gaya berbusananya. Dari busananya belajar budayanya, bahasanya, sejarahnya sampai ingin pergi ke negaranya. Singkatnya pada masa ini saya mulai menjauhi TV. Akibat menghilangnya dorama, saya mulai mencari jejaknya lewat media cetak.

Sekedar iseng, mulai berlangganan tabloid Asian Star seharga 6500-8000 rupiah. Isinya ternyata tak hanya entertainment Jepang, tapi juga entertainment Korea Selatan dan Mandarin. Tapi, rubrik Jepang tak sampai sepertiganya dari total 1 tabloid. Alhasil sedikit banyak saya mulai mengenal perkembangan Entertaiment Korea dan Mandarin secara mendalam. Saat itu isu Oprasi Plastik di Korea masih dianggap tabu.

Pertengahan tahun 2007, mulai libur dari hal-hal sejenis ini untuk konsentrasi Ujian Nasional. Lama tak bergaul dengan TV ternyata tren mulai bergeser ke Korea Selatan. Bak permen fantasi dari pabrik Willy Wonka. Oompa-Lompa mulai sedikit membius remaja sebaya saya untuk terus menyesap produk Hallyu. Kebetulan saat itu, saya bukan termasuk penikmat sejati permen Hallyu. Saya sedang kecanduan permen yang lain, seni tari tradisi Jawa. Sayang akasesnya terbatas. Jadi susah mendapatkannya. Ini membuat saya tak bisa sepenuhnya berhenti dari permen Hallyu.

Komoditas Hallyu Ectasy

Entertaiment Korea Selatan mulai mengubah strategi bisnisnya. Tak sekedar penghibur, idol Korea Selatan juga dijadikan mannequin bisnis. Mulai dari bisnis tarik suara, bisnis perfilman, bisnis gadget, bisnis fashion, bisnis pariwisata sampai bisnis bedah plastik. Simpelnya Korea menjual kebudayaannya dengan mannequin ini.

Perusahaan Manajemen artis benar-benar menjalankan fungsinya hingga sahamnya sangat bepengaruh di Korea. Idol yang dipilih benar-benar dipilih dengan standar skill dan penampilan yang ketat. Butuh sekitar 2-5 tahun untuk memolesnya sebelum debut.

Pembentukan Hallyu sebagai soft power Korea Selatan melibatkan unsur-unsur seperti sumber soft power, aktor yang terlibat (“referees” dan “receivers”) serta agenda setting dan attraction yang disertai dengan faktor-faktor pendukung daya tarik soft power.  Menurut Nye, soft power suatu negara bersumber dari tiga hal, yakni kebijakan luar negeri, nilai-nilai dan kebijakan domestik, serta kebudayaan[1].

Tabel  Hallyu sebagai Soft Power Korea Selatan

Sumber Soft Power dalam  Hallyu Referees/rujukan untuk kredibilitas dan legitimasi Soft Power Recievers/Penerima Soft Power Agenda Setting Attraction Faktor-faktor yang mendukung daya tarik Soft Power
 

Pop culture

Pemerintah, media (televisi, internet), industri produk budaya (industri drama televisi, musik, film, animasi, games), industri produk komersial (MNC seperti Samsung dan LG) Publik/masyarakat negara-negara Asia (Cina, Taiwan, Jepang, Vietnam, Kamboja, Thailand, Singapura, Malaysia, Indonesia) dan beberapa negara di Eropa dan Amerika[2]

 

Agenda peningkatan perekonomian Korea Selatan pasca krisis ekonomi melalui pembentukan profil Korea Selatan dalam Hallyu  Produk budaya populer Korea Selatan (drama televisi, K-Pop, film, animasi, games) yang diekspor ke berbagai negara ·   Dukungan anggaran finansial untuk perkembangan promosi budaya Korea Selatan ke luar negeri

·   Kebijakan liberal pemerintah mendukung kreativitas budaya populer Korea Selatan

·   Nilai konfusianisme dan modernitas yang direpresentasik an dalam kebudayaan Korea Selatan

·   Kreativitas produksi produk budaya populer Korea Selatan (lokalisasi dan penggunaan multibahasa)

·   Pemanfaatan media internet untuk mempromosikan drama televisi dan K-Pop

 

Bisa dibilang untuk mengembangkan sebuah komoditas Hallyu butuh campur tangan pemerintah dan masyarakat dengan perencanaan strategi yang matang. Efek candu pada masyarakat sengaja diciptakan untuk membuat sebuah pangsa pasar berbau fanatisme (fans). Fans nantinya akan sangat loyal untuk mengeluarkan segala biaya demi kecintaannya. Jika seperti ini, Korean film bukan lagi “are in danger” tapi “are the most dangerous”.

Sisanya, sebuah PR untuk Indonesia. Butuh sentuhan rasa bisnis untuk menciptakan pangsa pecinta seni tradisi asli Indonesia. Siapkah kalian ikut serta?

Referensi :

  • Suryani, Ni Putu Elvina (2012). Korean Wave sebagai Soft Power dalam Memperoleh Keuntungan Ekonomi bagi Korea Selatan, FISIP-UI.
  • http://egiboro.blogspot.com/2013/02/31-fakta-mengejutkan-tentang-artis-dan.html

[1] Nye, J.S. (2008), Op. Cit.

[2] Data berdasarkan pembentukan kantor cabang KTO di beberapa negara di wilayah Asia, Eropa dan Amerika dalam http://kto.visitkorea.or.kr/eng/overview/howto/overseas.kto diakses pada tanggal 18 Mei 2012 pukul 02.34 WIB

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *