Tridharma Perguruan Tinggi untuk Mahasiswa & Dosen

SETIAP mahasiswa di awal perkuliahan telah menerima pedoman akademik maupun pengenalan lingkungan pendidikan tinggi dalam bentuk handout dan sosialisasi terbuka. Mungkin sudah budaya, sosialisasi ya cuma sosialisasi! Sampai-sampai ada celetukan, “Masuk telinga kanan keluar telinga kin”. Kebiasaan acuh dan `tutup telinga’ tersebut membuat hanya segelintir mahasiswa yang mengetahui ataupun memahami isi dari Tridharma Perguruan Tinggi.

Tridharma Perguruan Tinggi terdiri atas tiga hal yaitu Pendidikan dan Pengajaran; Penelitian dan Pengembangan; dan Pengabdian pada Masyarakat. Berbicara mengenai poin pertama yaitu Pendidikan dan Pengajaran, perbedaan prakteknya mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi dalam rangka mentransfer ilmu yang dikembangkan lewat pembelajaran mahasiswa baik di dalam kelas, forum diskusi maupun kajian teori lainnya.

Tridharma Perguruan Tinggi mencakup civitas akademika termasuk mahasiswa dan dosen. Jika merujuk pada Pedoman Kerja Dosen dan Evaluasi Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, “Tugas utama dosen adalah nnelaksanakan tridharma perguruan tinggi dengan beban kerja paling sedikit sepadan dengan 12 (dua belas) sks dan paling banyak 16 (enam belas) sks pada setiap semester sesuai dengan kualifikasi akademik”, maka dominasi pelaku tridharma dipikul oleh dosen. Maklum saja, sebagai anggota kaum intelek prosentase mahasiswa dipandang masih bau kencur’ oleh masyarakat karena belum mengantongi uji kualifikasi di bidang konsentrasinya.

Mahasiswa, maha-nya siswa, pencapaian tertinggi dari sebuah pendidikan. Dipandang sudah tak pantas lagi untuk bermanja-manja, ‘disuapi’. Tapi, membalikkan kebiasaan saat sekolah menengah memang tak mudah. Butuh waktu untuk penyesuaian. Cepat lambatnya ditentukan oleh iklim akademik untuk menstimulasi antusiasme mahasiswa untuk melakukan riset dan pengabdian masyarakat sebagai puncak perwujudan tridharma.

Seperti halnya dalam survey yang dilakukan UB (Universitas Brawijaya) untuk meneliti capaian dan perkembangan 2006-2010 untuk persiapan World Class University (www:ub.ac.id) terjadi peningkatan jumlah riset dan pengabdian msyarakat oleh mahasiswa sebesar 70% di tahun 2008- 2009 saja. Hal ini sebagai akibat dari kebijakan UB untuk mengurangi jumlah riset dan pengabdian masyarakat oleh dosen dan penguatan infrastruktur riset dalam universitas.

Jadi, dosen punya tugas lebih dari sekedar pelaku tridharma Perguruan Tinggi. Membimbing, membentuk pola, menginspirasi, sampai mengapresiasi riset dan pengabdian masyarakat dalam rangka menularkan semangat dan menanamkan jiwa tridharma pada semua mahasiswa. Jangan sampai ada celethukan , “Dosenku ga pernah datang ngajar. Jadi aku ga tahu belajar apa.

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *