Komersialisasi Pendidikan

PENDIDIKAN di Indonesia saat ini secara pengelolaannya tediri atas swasta dan pemerintah. Swasta dan milik pemerintah adalah dua hal yang sangat berlawanan dalam hal pengelolaan sebuah lembaga terutama pendidikan. Swasta, wajar bila dalam pengelolaan operasionalnya membebankan seluruh biaya pada orang tua murid dengan tujuan mencari laba. Hal yang tak lazim bila lembaga pendidikan milik pemerintah atau yang lebih dikenal sebagai lembaga pendidikan negeri tak lagi memegang prinsip nirlaba. Lalu, dimanakah letak perbedaan negeri dan swasta? Di mana letak keberpihakkan negara terhadap masyarakat?

Mengacu pada UU ’45 pasal 3, pemerintah wajib menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang berorientasi pada hak pendidikan warga negara dan pemerintah wajib membiayainya. Lebih lanjut, dalam pasal 31 ayat 4 negara memprioritaskan minimal 20% dari APBN­nya untuk penyelenggaraan pendidikan nasional. Jika demikian seharusnya kewajiban negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bisa dilaksanakan secara murah dan efektif.

Pertanyaan besar kemudian muncul. Apakah visi dan misi yang sedemikan ideal untuk Indonesia tersebut telah dilaksanakan? Nyatanya berdasarkan hasil survei yang dilakukan UNESCO tahun 2011 sebanyak 527.850 anak atau 1,7% dari 31,5 juta anak sekolah dasar putus sekolah. Kondisi demikian membuat peringkat Indonesia turun dari posisi 65 ke 69 dari 127 negara untuk urutan indeks pembangunan pendidikan suatu negara.

Faktor ekonomi, kesadaran peranan pendidikan dan kendala infrastruktur pendidikan menjadi faktor utama penyebab angka putus sekolah yang tinggi. Pendidikan berkualitas terbaik di Indonesia masih tergolong mahal. Hal tersebut biasa dikatakan sebagai komersial pendidikan karena pendidikan dijadikan ladang pencarian keuntungan oleh pihak-pihak tertentu.

Komersialisasi pendidikan tidaklah salah bahkan terkadang sangat diperlukan demi berlangsungnya proses pendidikan. Tetapi ketika dalam proses pendidikan yang menjadi tujuan utamanya adalah mencari keuntungan dengan kata lain hal yang menonjolnya adalah komersialisasinya saja. Maka esensi daripada proses pendidikan tidak akan lagi dirasakan dan tersampaikan kepada peserta didik

Idealnya, dunia pendidikan harus mampu menjalankan fungsinya sebagai pusat kebudayaan dan peradaban. Ke depannya dunia pendidikan diharapkan melahirkan generasi­generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual tapi juga cerdas secara emosional, spiritual dan sosial. Dengan adanya pendidikan yang menjadi tempat agent of change tak seharusnya dunia pendidikan dijadikan tempat mencari keuntungan atau bersifat komersil. [Redaksi]

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *