Antara UKM dan IPK

UKM adalah suatu wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan bakat dan minatnya, sehingga kemampuan yang ada dalam dirinya dapat tersalurkan. FE UJ menyediakan 17 UKM antara lain bergerak di bidang olahraga, seni, keagamaan, jurnalistik, keilmiahan, penalaran dll dengan jumlah pilihan yang lebih beragam jika dibandingkan dengan fakultas lain. Namun, permasalahan yang bisa timbul saat mengikuti UKM salah satunya adalah penurunan prestasi akademik (yang diukur melalui IPK). Jadi ikut berpartisipasi di UKM masih menjadi dua hal yang dilematis bagi sebagian mahasiswa. Memiliki IPK tinggi ataukah aktif berorganisasi?

Seharusnya mahasiswa sudah mampu mengukur skala prioritas dalam kegiatan akademik dan non-akademik, hal itu dilakukan dengan cara mempertimbangkan bobot manfaat kegiatan untuk dirinya di masa depan. Namun, saya tidak bisa memungkiri bahwa UKM telah menyumbangkan banyak manfaat. Pertama, hobi saya dapat tersalurkan dengan positif. Positif dalam arti berguna bagi diri saya sendiri dan lingkungan sekitar. Dipertemukan dengan teman-teman dengan passion yang sama akan menambah ilmu dan wawasan serta memacu daya saing. Kedua, untuk mengembangkan soft skill. Soft skill sendiri adalah kemampuan non-akademis yang mengutamakan keahlian intrapersonal seperti komunikasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, bersosialisasi, pemecahan masalah dsb. Kemampuan tersebut merupakan nilai plus yang mungkin tidak akan kita peroleh jika hanya sekedar kuliah-pulang-kulialz-pulang.

Masih banyak hal posItif yang dapat kita peroleh ketika bergabung dan aktif ber­UKM. Contohnya saja .menambah teman untuk memperluas link atau jaringan, membentuk  ideologi dan pola pikir yang positif, belajar menyampaikan pendapat dan menghargai orang lain, serta menambah pengalaman. Namun, dengan segala sisi positifnya, bukan berarti kita harus mengerahkan seluruh waktu dan tenaga kita hanya untuk UKM. Ingatlah bahwa bahu kita masih mengemban tanggung jawab sebagai mahasiswa yaitu kuliah. Melalui IPK kita dapat mengetahui tingkat keberhasilan studi yang telah kita capai berdasarkan kegiatan akademik selama masa perkuliahan. Maka dari itu tak heran jika semua mahasiswa ingin mencapai IPK tinggi, meskipun terkadang dewasa ini IPK tinggi tidak menjamin keberhasilan di dunia kerja.

Maka untuk membekali diri kita dalam jangka panjang, khususnya dalam dunia kerja dengan persaingannya yang semakin ketat, alangkah baiknya untuk menyeimbangkan hard skill (kemampuan akademis) dan soft skill yang kita miliki. Mayoritas mahasiwa sudah merasa puas dengan hanya terbekali dengan IPK tinggi, sehingga tidak menutup kemungkinan untuk menghalalkan segala cara dalam mencapainya. Oleh karena itu, dengan mengikuti UKM kita dapat mengimplementasikan ilmu kepada masyarakat secara riil untuk melengkapi teori-­teori yang kita dapat di bangku perkuliahan. Meskipun kedua hal tersebut penting, bukan suatu perkara mudah untuk tetap mencapai keseimbangannya. Diperlukan strategi cermat dalam menyusun manajemen waktu agar kita tetap mampu berprestasi di bangku perkuliahan maupun di UKM. Jika keseimbangan tersebut bisa terwujud, mahasiswa Indonesia sebagai pewaris negeri ini telah memiliki nilai plus untuk bersaing tak hanya di kandang sendiri, namun juga di dunia internasional. Sudah siapkah kita?[]

 

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *