Posisi Mahasiswa Dipertanyakan (?)

MENJADI seorang mahasiswa merupakan suatu impian bagi siswa SMA dan sederajat. Pandangan mengenai status tertinggi yang akan disandang hendaknya dibarengi dengan peran dan tanggung jawab yang tinggi pula di dalam masyarakat. Tanggung jawab ini nantinya akan dibuktikan dengan adanya program dan kontribusi yang diberikan.

Perguruan Tinggi negeri masih menjadi badan penyelenggara pendidikan tinggi favorit pilihan siswa SMA yang ingin melanjutkan jenjang pendidikannya. Berdasarkan data statistik Kemendiknas dari tahun 2007 s.d 2009 di provinsi Jawa Timur, jumlah pendaftar. PTN meningkat dari 37.158 orang menjadi 118.100 artinya terjadi peningkatan lebih dari 3 kali lipat hanya dalam jangka waktu 3 tahun.

Predikat mahasiswa di sebuah PTN menjadi gengsi tersendiri di kalangan masyarakat umum. Prosedural memasuki gerbang PTN apapun rela dilakukan, dari jalur beasiswa sampai jalur mandiri yang terbilang mahal demi mendapatkan sebuah kursi di PTN yang bersangkutan. Jadi apa sebenarnya fungsi status mahasiswa itu?

Mahasiswa dengan sebutan “maha” merupakan pelajar berkedudukan tertinggi dalam tataran pendidikan. Sebagaimana yang diamanahkan dalam Pancasila dan Tri Dharma Perguruan Tinggi diharapkan menunjukkan kedewasaannya dalam cara berfikir, bersosialisasi dan mengembangkan disiplin ilmu untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Sesuai penggalan pasal 13 dalam Undang-Undang Pendidikan Tinggi Negeri (UU PT), “Mahasiswa sebagai anggota Sivitas Akademika diposisikan sebagai insan dewasa yang memiliki kesadaran sendiri dalam mengembangkan potensi diri di Perguruan Tinggi untuk menjadi intelektual, ilmuwan, praktisi, dan atau profesional.”

Selain itu, istilah agent of change disematkan kepada mahasiswa di era transisi Orde Baru ke Reformasi. Mahasiswa menjadi pelopor sekaligus eksekutor pengontrol kekuasaan elit politik yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada hak asasi masyarakat. Hal ini diekspresikan dengan tragedi Trisakti di era kekuasaan Presiden Soeharto yang dinilai sangat otoriter.

Tidak hanya itu, mahasiswa juga dituntut untuk mampu bersikap positif dalam menyikapi keadaan disekelilingnya. Bersikap positif dapat dilakukan dengan menyalurkan dan menerapkan Pancasila dan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sehingga posisi mahasiswa dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap masyarakat.

Sekarang bagaimana posisi mahasiswa di masyarakat? Menjadi bagian dan menerapkan ilmu yang dimiliki ataukah hanya bersatu dengan masyarakat tanpa tahu apa yang harus dilakukan? Lalu, dimana posisi kita sekarang jika setelah mendapat gelar sarjana kita hanya sebagai orang yang merengek-rengek pada pemerintah tanpa bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain ?.

 

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *