Simpang Siur Aturan Stempel

Kalo barang-barang (red: perlengkapan PKKMB) itu diwajibkan. Cuma kalo membelinya, terserah mereka (red: maba) beli dimana,” ungkap Muhammad Anugerah Mauludi selaku Ketua Panitia PKKMB. Aturan membawa perlengkapan PKKMB seperti produk dan atribut merupakan kewajiban bagi Mahasiswa Baru (Maba) 2016. Ketentuan pembelian perlengkapan, maba dibebaskan, hanya saja panitia menyediakan alternatif seperti paket tiga puluh lima ribu rupiah. Namun, ada yang membedakan pembelian di luar dengan pembelian di panitia PKKMB. Pada paket tiga puluh lima ribu rupiah berisi tiga minuman kemasan, map plastik bening, pulpen, blocknote, dan kertas manila putih lengkap dengan cap stempel. Sedangkan pembelian diluar panitia/di toko, maba tidak mendapatkan cap stempel. “Bukan diwajibkan beli di BEM tapi kalo beli diluar ga dapet stempel buat name tag padahal itu dibuat tabel pelanggran. Yah ga papa kalo beli diluar, tapi ada hukumannya sendiri karena ga ada stempelnya.” jelas Anugrahayu Andira selaku Pendamping Kelompok (PK) 5.

Menurut keterangan Anugerah, cap stempel memiliki fungsi legalitas. “Pada name tag kalo misal ga ada stempelnya otomatiskan palsu, stampel itu menunjukkan bahwa name tag mereka (red: maba) itu asli,” jelasnya. Hal berbeda disampaikan Darmawan Jaya Negara PK 5, “Stempel dijadikan acuan agar Maba membeli paketan 35 itu. Tapi tetep kami PK disuruh menggunakan bahasa promosi,” terangnya. Senada dengan Darmawan, Wida Tri Rahayu PK 4  mengungkapkan jika pembelian paket 35 ribu adalah bentuk imbauan. Ada syarat yang akhirnya mengharuskan Maba membeli di panitia.  “Ada hal yang mengikat mereka (red: maba) sehingga harus membeli di BEM. Hal yang mengikat itu adalah stempel yang diberikan panitia ospek pada kertas manila yang maba terima itu,” jelasnya.

Maba jurusan S1 Akuntansi 2016, Syeril Rizka Aryani, menyatakan bahwa kelompoknya berencana membeli perlengkapan PKKMB diluar panitia dengan alasan hemat biaya. Namun, rencana itu digagalkan lantaran ketentuan stempel. “Tapi karena ada pemberitahuan kalau yang beli di panitia ada stempelnya jadinya beli di panitia, biar terlihat kompak karena takut kalau tidak kompak di hukum,” ungkapnya. Hal Berbeda dengan Sauqi Hilaman Khoiri, Maba Jurusan S1 Akuntasi yang menyatakan alasan utamanya membeli di panitia karena kepraktisan.

Perihal tujuan stempel yang ditetapkan panitia, Eunike Citra, PK 22 mengungkapkan ketidaktahuannya soal tujuan stampel. “Aku kurang tau. Mereka (red: panitia PKKMB) gak bilang ke PK,” jelasnya. Disisi lain juga tidak ada kejelasan aturan pembelian perlengkapan PKKMB dengan adanya stampel. “Lah itu masih rancu. Masih abu-abu. Antara boleh dan enggak (red: aturan pembelian di luar panitia dengan adanya stampel),” jelas Darmawan. Namun, menurut Hermin, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), mengatakan bahwa pembelian perlengkapan oleh maba di luar panitia nantinya bisa meminta stempel secara terpisah. “Mau beli diluar monggo, kita tidak memaksa kalau ada anak yang kesini minta stempel ya kita stempel,” jelasnya.

 

Putu Ayu D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *