Peringati Hari Perempuan Internasional Melalui Pemutaran dan Diskusi Film “Miss Representation”

Peringati Hari Perempuan Internasional Melalui Pemutaran dan Diskusi Film “Miss Representation”

Memperingati Hari Perempuan Internasional, komunitas Sebuah Project mengadakan diskusi dan pemutaran film Miss Representation pada Rabu (08/03), di Barista Sector XXVII Jalan Bengawan Solo 27, Jember.  Acara ini menghadirkan pembicara Prita Hw, yang kesehariannya sebagai penulis dan blogger, ditemani Dwi Pranoto, seorang penulis.  Selain karena Hari Perempuan Internasional, Tammy sebagai salah satu penyelenggara mengatakan alasan diadakannya acara ini karena mereka ingin menunjukkan bagaimana wanita dipandang dari sudut pandang media.

Sebagai moderator, Tammy langsung membuka acara ini dengan pemutaran film dokumenter Miss Representation.  Film dokumenter berdurasi 85 menit ini menampilkan sosok perempuan dari kacamata media televisi, majalah, atau internet yang diperlihatkan sebagai sosok yang cantik.  Namun, cantik di sini lebih mendominasi pada sisi sexisme industri yang dibutuhkan oleh korporasi hiburan dan iklan.  Tidak jarang, perempuan yang dirinya tidak seperti apa yang ditampilkan pada media, seringkali merasa minder dan tidak luput dari perundungan.

Pemutaran film kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi.  Dwi Pranoto sedikit memaparkan tentang isi film, dengan mengatakan bahwa Miss Presentation ini memang diniatkan untuk melakukan perlawanan terhadap hegemoni atau kekuasaan patriarki.  Hal ini ditunjukkan dari gambar-gambar yang ditampilkan di film dan bagaimana film ini diarahkan untuk memberikan gambaran kepada penonton bahwa beginilah dunia perempuan yang dipersepsikan oleh media. Apa yang dilawan dari film ini adalah media-media memberlakukan perempuan layaknya sampah dan barang tidak berguna, karena perempuan hanya dianggap sebagai seonggok daging yang menggiurkan dan menggairahkan.

Menanggapi Dwi Pranoto, Noni, salah satu peserta,  menjabarkan pendapatnya.  Ia mengatakan bahwa wanita seharusnya diberi kesempatan yang sama dengan lelaki, baik dari sisi leader (pemimpin, red), tulang punggung atau yang lain. Menurutnya, istilah woman dan man (wanita dan pria, red) adalah manusia sendiri yang menciptakan, tetapi Tuhan menciptakan semua sama.

Dwi Pranoto menanggapi, bahwa ada dua pandangan dalam bersikap.  Pertama bahwa manusia berkehendak bebas dan kedua bahwa manusia tidak bebas.  Ketidakbebasannya adalah karena manusia berada di dalam konstruksi sosial sehingga norma itu berlaku sebagai pengendali. Apabila mengacu pada yang kedua, maka manusia harus mematuhi norma yang berlaku di masyarakat agar tidak dikeluarkan dari lingkup masyarakat tersebut.

Pada akhir diskusi pukul 22.30, moderator menyampaikan kesimpulannya.  Bahwa sesama perempuan harus maju bersama, untuk empower (memberi kuasa, red) pada diri masing-masing, jangan sampai sesama perempuan saling menjatuhkan. Tammy berharap dari diskusi ini bisa membuka pikiran para peserta dan kemudian hari bisa mengadakan acara serupa.

Inten Tamimi

Gadis kelahiran Pasuruan ini banyak menghabiskan waktu untuk berekspresi melalui media puisi. Saat ini sedang menjabat sebagai Redaktur Pelaksana I di LPME Ecpose, dan sebagai mahasiswa semester empat S-1 Manajemen FEB UNEJ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *