Secuil Asa di Bukit Duabelas

Secuil Asa di Bukit Duabelas

 

Sutradara            : Riri Riza

Produser             : Mira Lesmana

Pemeran             : Prisia Nasution, Rukman Rosadi, Nadhira Suryadi, Nungsang Bungo

Distributor          : Visi Lantas Film

Tahun Rilis          : 2013

Durasi                : 90 menit

Bahasa               : Indonesia

Peresensi            : Elma Ariella Khoriqul Hayumi

 

Dua puluh satu April selalu diperingati sebagai hari kelahiran salah satu pahlawan nasional yang mengibarkan bendera emansipasi wanita, Raden Ajeng Kartini. Meskipun Kartini telah tiada sejak seratus tahun lalu, darah perjuangannya untuk mencerdaskan anak bangsa tetap mengalir dalam diri wanita Indonesia. Saur Marlina “Butet” Manurung, adalah salah satu contoh wanita yang memaknai emansipasi wanita dengan baik.

Butet Manurung rela turun ke pelosok Jambi untuk mengajar anak-anak rimba yang tidak mengerti baca tulis. Pengalaman selama mengajar ia tuliskan dalam sebuah buku berjudul Sokola Rimba, yang kemudian menarik duo sineas Indonesia, Riri Riza dan Mira Lesmana, untuk mengangkatnya ke layar lebar pada November 2013 lalu. Film yang berjudul sama dengan bukunya ini menggaet Prisia Nasution untuk memerankan tokoh Butet Manurung, serta mengajak penduduk lokal untuk turut serta dalam memerankan beberapa peran.

Selama 90 menit, film ini akan mengisahkan hidup Butet ketika mengajar baca tulis dan hitung kepada anak-anak rimba hulu Sungai Makekal. Tepatnya di Bukit Duabelas,  Butet  dipertemukan dengan salah satu anak rimba yang bernama Nyungsang Bungo. Bungo yang pernah menolong Butet ini memiliki keinginan kuat untuk bisa membaca. Ia tidak ingin orang-orang rimba dibodohi oleh para pencari keuntungan yang memanfaatkan kebutaaksaraan kepala adatnya dalam membaca isi perjanjian untuk menebang pohon di hutan. Bungo ingin belajar baca tulis agar dapat membaca isi perjanjian itu. Namun, perjalanan Butet untuk menyelamatkan Bungo dan anak-anak rimba dari buta aksara tidaklah mulus. Konflik mulai terjadi ketika kelompok rombong Bungo menentang kehadiran Butet untuk belajar bersama anak-anak, karena menganggap bahwa belajar dapat mendatangkan petaka.  Bahkan konflik kian bertambah ketika Butet dihadapkan pada polemik dalam pekerjaannya.

Film Terbaik peraih Piala Maya 2013 ini, ideal untuk berbagai kalangan usia. Selain mendapatkan pemahaman tentang kehidupan masyarakat marjinal Bukit Duabelas, film dengan rating 7,6 menurut situs IMDb  ini dapat meningkatkan kebanggaan penonton pada keanekaragaman Indonesia. Petualangan Butet Manurung divisualisasikan secara apik dengan bumbu adat yang masih kental, sehingga dapat menginspirasi generasi muda khususnya wanita. Berkaca pada perjuangan Butet Manurung yang turun ke pelosok hutan untuk membantu mencerdaskan generasi penerus bangsa, membuktikan bahwa perempuan adalah sosok yang gigih dan bukan lagi kaum lemah.

Selamat menonton, semoga terinspirasi.

Elma Ariella

Redaktur Pelaksana I di LPME Ecpose yang saat ini tengah menekuni bidang tulis menulis. Sedang menempuh pendidikan di FEB UNEJ, sebagai mahasiswi semester empat jurusan S-1 Manajemen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *