KKL Berjalan Tanpa SKS

KKL Berjalan Tanpa SKS

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember (FEB UNEJ) setiap tahunnya selalu mengadakan Kuliah Kerja Lapang (KKL) untuk mahasiswa S1 dan D3 yang sudah menginjak semester 4. Marmono Singgih selaku Sekretaris Jurusan Manajemen FEB UNEJ mengatakan, “Mereka (red: mahasiswa) harus mengikuti KKL karena sesuai dengan buku pedoman. Selama buku pedoman itu belum berubah maka ini menjadi bagian proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh pengelola.” Tujuan diadakannya KKL ini menurut Marmono adalah untuk mengimplementasikan kurikulum yang terdapat pada buku pedoman, karena itu merupakan standard pokok aturan yang harus ditaati bersama. Selanjutnya adalah bisa melihat praktik kerja lapang secara langsung.

Adanya KKL diharapkan dapat memberikan gambaran pada mahasiswa tentang dunia lapangan pekerjaan sebenarnya, sehingga terdapat kompetensi atau capaian yang harus dipenuhi mahasiswa.  Capaian yang harus dipenuhi mahasiswa ini kemudian diukur dengan Satuan Kredit Semester atau biasa disebut dengan SKS.  Sebagaimana tertera pada buku pedoman akademik UNEJ bahwa minimal 1 (satu) SKS dibebankan pada pembelajaran praktikum, praktik studio, praktik bengkel, praktik lapangan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan/atau bentuk pembelajaran lain yang setara, dengan 160 menit per minggu per semester.

Melihat dengan yang terjadi di FEB, pelaksanaan KKL di FEB berjalan tanpa SKS.  Handriyono selaku Ketua Jurusan Manajemen menuturkan bahwa meski KKL adalah 0 SKS, namun kegiatan ini sifatnya wajib.  Hal ini berkaitan dengan sertifikat KKL yang diterima mahasiswa setelah selesai mengikuti kegiatan, dan sertifikat ini digunakan sebagai syarat untuk mengikuti ujian skripsi maupun tugas akhir.  Menanggapi KKL di FEB yang berjalan tanpa SKS, Zulfikar selaku Wakil Rektor 1 Universitas Jember, mengatakan bahwa seharusnya KKL itu memiliki minimal 1 SKS. “Harusnya iya minimal 1. Nah itu tidak saya temui di ekonomi (red: FEB). Saya sudah nyuruh kurikulumnya diganti, sehingga itu nanti muncul kompetensi, kalau 0 SKS bisa nggak ada kompetensinya,” ujar Zulfikar.

Menanggapi hal itu, Muhammad Miqdad selaku Dekan FEB menjelaskan tentang KKL yang tidak diberikan SKS.  “SKS itu kan seharusnya ada pertemuan dan durasi waktu, sehingga kalau itu diberi SKS, tidak mungkin.  Kalau ada SKS, berarti harus ada pengampu mata kuliah dan pertemuan, kalau 3 SKS ya per SKS 50 menit,” tutur Miqdad.  Selain itu, jumlah SKS sudah ada yang menentukan sehingga pemberian SKS akan memperbesar beban mahasiswa. “Karena begini, jumlah SKS sudah ditentukan oleh Dikti (red: Kemenristekdikti). Kalau ditambahkan SKS maka akan semakin besar jumlah SKS-nya, sedangkan di Dikti ada jumlah minimal dan maksimalnya. Dari dulu memang tidak diberi SKS, sejak saya kuliah tahun 80-an itu memang nggak ada SKS,” ujar Regina Niken, selaku Kaprodi Jurusan Ilmu Ekonomi.

Berbeda dengan FEB, pelaksanaan KKL di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) sudah mencantumkan SKS pada kurikulumnya.  “Kegiatan kuliah kerja lapang disini ada SKS-nya, yaitu 1 SKS.  Jika tidak ada SKS maka tidak ada kewajiban bagi mahasiswa untuk mengikuti, sehingga sifatnya adalah opsional.  Itu menjadi pemahaman kami, sehingga KKL diberikan beban 1 SKS karena disana ada proses perkuliahan dan ada tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa” ujar Akhmad Sofyan, Dekan FIB UNEJ.

Melihat apakah KKL di FEB ini dapat diberikan SKS, Miqdad menuturkan bahwa hal ini masih menjadi pertimbangan dan perlu dimusyawarahkan lagi dengan para dosen. Miqdad menambahkan, yang menjadi permasalahan pada mahasiswa saat ini yaitu KKL yang menjadi syarat untuk mengikuti ujian skripsi padahal sifatnya yang 0 SKS.  “Oleh karena itu nanti saya perbaiki, apakah KKL bersifat opsi atau wajib. Dan pastinya dia (red: KKL) bukan bagian dari kurikulum karena jika mengikuti pedoman di pusat, 0 SKS itu tidak benar,” tutur Miqdad.

Miqdad pun juga mengatakan akan segera memperbaiki beberapa hal yang tidak sesuai dalam KKL ini.  “Saya dengar ada beberapa mahasiswa yang ke Warek (red: Wakil Rektor) I  menanyakan tentang KKL, sehingga Warek I mengingatkan saya.  Tapi ini akan saya perbaiki, intinya awal tahun depan harus selesai, paling tidak memuaskan,” ujar Miqdad. [Inten, Putu, Triana]

Inten Tamimi

Gadis kelahiran Pasuruan ini banyak menghabiskan waktu untuk berekspresi melalui media puisi. Saat ini sedang menjabat sebagai Redaktur Pelaksana I di LPME Ecpose, dan sebagai mahasiswa semester empat S-1 Manajemen FEB UNEJ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *