Polemik KKL yang Tak Berujung

Polemik KKL yang Tak Berujung

Pada acara Hearing and Open Talk atau HOT (23/5) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember (FEB UNEJ), Muhammad Miqdad selaku dekan FEB UNEJ menjelaskan akan membuat tim evaluasi Kuliah Kerja Lapang (KKL) untuk memecahkan permasalahan-permasalahan terkait KKL yang dikeluhkan mahasiswa. Pelaksanaan KKL di FEB UNEJ terbilang cukup statis, salah satunya dalam pemilihan obyek KKL di beberapa tahun terakhir yang tidak ada perubahan. Menurut data Buldokc Edisi 60, KKL tiga tahun terakhir yaitu tahun 2012, 2013, dan 2014 semua jurusan memilih Bali sebagai obyek KKL. Senada dengan tahun-tahun sebelumnya, KKL angkatan 2015 yang dilaksanakan pada April tahun 2017 ini Bali masih menempati peringkat pertama dalam pemilihan obyek KKL yang dilakukan di tiap jurusan.

Mekanisme pemilihan di tiap jurusan berbeda-beda. Namun, untuk jurusan manajemen dan jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) tetap memiliki kesamaan yaitu semua persiapan pelaksanaan KKL ada di bawah kendali program studi dan jurusan. Perbedaan mekanisme kedua jurusan hanya terletak pada daftar pilihan obyek KKL. Jurusan manajemen dan IESP memberikan pilihan antara Malang, Bali dan Yogyakarta dengan tambahan Surabaya sebagai pilihan keempat untuk jurusan IESP. Penambahan Surabaya dalam daftar pilihan didasarkan pada kesepakatan mahasiswa jurusan IESP sebelum ada voting resmi yang dilakukan pihak jurusan. “Pengurus HMJI (red: Himpunan Mahasiswa Jurusan IESP) angkatan 2015 menginisiasi untuk melakukan gathering pada Bulan Maret di GOB (red: Gedung Ormawa Bersama), dari gathering tersebut intinya ada beberapa hal yang jadi pertimbangan yang pertama masalah destinasi, kemarin temen-temen itu menginginkan tujuan KKL itu ke Surabaya.” ungkap Yoga, Wakil Ketua Umum HMJI. Namun, menurutnya pihak jurusan tidak menyanggupi perencanaan pelaksanaan KKL di Surabaya sehingga sebagian besar mahasiswa IESP memilih Bali sebagai obyek KKL.

Menanggapi persoalan pemilihan obyek KKL di jurusan IESP, Regina Niken selaku Ketua Program Studi S1 IESP mengatakan, “Sekarang mau milih mana? Surabaya? Surabaya sama, BI (red: Bank Indonesia) nya sama, BPS (red: Badan Pusat Statistik) nya sama, nggak usah jauh-jauh kalau seperti itu. Kita kan jurusan IESP lebih ke perencanaan, kalau Bali lebih ke pariwisatanya lalu dia welcome.” Regina juga menambahkan dasar pemikiran memilih Bali yang pertama yaitu tempat wisata seperti Bali  pasti mau menerima kunjungan dalam jumlah besar, sedangkan di Surabaya  belum tentu enam destinasi dapat diselesaikan dalam waktu satu hari dengan bus yang sangat banyak. Pertimbangan kedua yaitu kemampuan kapasitas aula kantor untuk menampung 80 sampai 800 mahasiswa.

Berbeda dengan Jurusan Manajemen dan IESP, jurusan Akuntansi tetap melimpahkan wewenang KKL kepada pihak HMJA seperti beberapa tahun terakhir. “Karena ini untuk kepentingan mereka (red:mahasiswa), kita tentu memantau perusahaan mana yang mau dikunjungi karena ada dana yang ditanggung universitas yang besarannya saya nggak tahu, itu masuk ke UKT kalian (red:mahasiswa).” jelas ketua program studi S1 Akuntansi, Yosefa Sayekti.

Esensi dan Kenyataan Kuliah di Lapang        

Pelaksanaan KKL semua jurusan di FEB hanya memberikan porsi waktu dua sampai tiga jam untuk kunjungan perusahaan atupun instansi pemerintahan dari tiga sampai empat hari pelaksanaan KKL. Beberapa mahasiswa merasa jika porsi kunjungan tersebut belum menghasilkan manfaat yang maksimal. Esensi kunjungan ke perusahaan ataupun instansi pemerintahan masih tertutup dengan euforia liburan yang dirasakan. Fery Bastiyan mahasiswa jurusan manajemen 2015 mengatakan, “Yang aku dapat sedikit ilmu bagaimana mengolah suatu potensi daerah buat dijadikan lahan usaha atau pendapatan buat daerah, selebihnya biasa aja, jalan-jalan kuliner sama wisata mungkin kali ya.” Tidak jauh berbeda dari Fery Bastiyan, M. Jazuli sebagai mahasiswa jurusan S1 Akuntansi angkatan 2015 berpendapat bahwa KKL hendaknya lebih mengutamakan esensi dan meminimalkan hiburan sehingga ada perbedaan antara KKL dan study tour.

Semua pihak di FEB seakan menganggap lumrah tentang KKL sebagai liburan yang membudaya.  Rahayu Iga Mawardi, Ketua Umum HMJA mengungkapkan ada dosen jurusan Akuntansi yang menyadari bahwa KKL di Bali tidak jauh dari istilah liburan dan mahasiswa akan lebih memikirkan liburan daripada esensi KKL itu sendiri. Namun, pihak jurusan tetap menyetujui Bali sebagai obyek KKL dengan alasan uang yang digunakan KKL merupakan uang mahasiswa sehingga pihak jurusan tidak bisa memaksa. Begitu juga dengan Dekan FEB UNEJ, Miqdad yang menjelaskan bahwa KKL juga dianggap sebagai momentum kebersamaan mahasiswa dan dosen yang jarang dilakukan. Menurut Miqdad, ketika menjabat sebagai ketua program studi S1 Akuntansi ia pernah melakukan diskusi dengan HMJA dan mahasiswa tentang respon mahasiswa terkait KKL, mahasiswa masih menginginkan KKL asal ada transparansi dan akuntabilitas.

Di sisi lain, Amelinda sebagai mahasiswa jurusan manajemen angkatan 2015 menyatakan bahwa ia tidak masalah dengan pemilihan obyek KKL yang dilakukan jurusan. Hanya saja untuk jurusan manajemen kurang dalam sosialisasi dan transparansi biaya yang harus dibayar satu minggu sebelum pelaksanaan KKL dengan besaran Rp 1.000.000. “Ya walaupun kita tahu bakal ada KKL, tetep berasa berat aja kalau baru dikabari mepet banget, apalagi deadline pelunasan pembayarannya.” ungkapnya.

Menanggapi beberapa penjelasan mahasiswa terkait obyek dan sistem KKL di FEB, Zulfikar selaku Wakil Rektor I UNEJ menjelaskan bahwa sebenarnya KKL masuk dalam komponen UKT meskipun dengan jumlah yang tidak besar yaitu Rp35.000 tiap mahasiswa. Mahasiswa hanya perlu mencari obyek KKL yang sesuai dengan dana yang ada. Wakil Rektor I menambahkan jika KKL bukanlah ajang untuk jalan-jalan tetapi harus ada target atau kompetensi yang dicapai ketika mahasiswa melakukan KKL. “Dengan KKL itu muncul kompetensinya, nah rencana yang kita lakukan Rp35.000 itu untuk mencapai kompetensi itu tidak mesti di luar kota.” jelas Zulfikar. [Elma, Putu, Triana, Inten]

Elma Ariella

Redaktur Pelaksana I di LPME Ecpose yang saat ini tengah menekuni bidang tulis menulis. Sedang menempuh pendidikan di FEB UNEJ, sebagai mahasiswi semester empat jurusan S-1 Manajemen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *