Simpang Realita yang Tak Kunjung Usai

Simpang Realita yang Tak Kunjung Usai

Bali neh, lak nang bali aku ra usah melu wes. Bali itu paling kalian jalan- jalan tok, gak bakal mikiri KKLnya (red: Bali lagi, kalau di Bali aku tidak jadi ikut. Bali itu paling kalian jalan-jalan saja, tidak akan memikirkan KKL-nya),” cerita Rahayu Iga Mawardi, ketua umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (HMJA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember (FEB UNEJ) tentang komentar Alwan, salah satu dosen jurusan Akuntansi saat mendapat kabar bahwa objek KKL tahun ini lagi-lagi jatuh pada Pulau Bali.

Sejak enam tahun terakhir, dari 2012 sampai  2017, pelaksanaan KKL selalu di Bali. Seolah seperti langganan menggiurkan untuk dikunjungi, entah kebetulan atau sudah terjadwal, pelaksanaan KKL masih saja di Bali. Bukan bosan, namun persoalan ini membuat kulit jidat mengerut mempertanyakan apa sebenarnya fungsi KKL.  Belum lagi mahasiswa yang mengaku tidak mampu harus merogoh kocek orang tua lebih dalam, dan membuat panitia pelaksana memutar kepala untuk membantu menyelesaikan permasalahan mereka.

Adanya pelaksanaan KKL dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai praktik dari mata kuliah yang diberikan dalam perkuliahan. Mahasiswa dapat melakukan pengamatan untuk membandingkan antara mata kuliah dan realita di lapang. Nah, gambaran praktik tidak semata-mata didapat dari sekedar datang, melihat, dan mendapatkan data seadanya untuk melaporkan kegiatan KKL yang telah dilaksanakan. Sejatinya, kegiatan yang sekedarnya tersebut merupakan manifestasi dari ungkapan kata formalitas saja.

Menyinggung fungsi KKL, harusnya capaian yang ditentukan setiap jurusan di FEB UNEJ mampu menjadi garis batas pelaksanaan KKL. Apalagi realita pelaksanaan yang sudah bertahun-tahun lamanya ini seyogyanya tidak akan membudaya jika evaluasi pasca pelaksanaan benar-benar dilakukan. Tidak sekedar obrolan santai mengkoreksi keterlambatan keberangkatan. Lebih dalam lagi, jika yang dibandingkan adalah capaian yang sudah ditentukan dengan pelaksanaan yang rupanya bergeser dari fungsi KKL, misalnya.

Sesuai dengan jadwal keberangkatan KKL yang setahun sekali ini rupanya berbanding lurus dengan pro kontra dari mahasiswa. Obrolan sana sini memprotes biaya yang ditetapkan, hotel yang akan ditinggali, atau bahkan bus yang digunakan hanya mampu terlontar dari mulut ke mulut. Mau tidak mau, lantaran sertifikat KKL merupakan syarat skripsi, maka menjadi momok mengerikan untuk tidak diikuti. Tidak peduli apakah manfaat yang didapat sepadan dengan kepentingan mengerjakan skripsi.

“Karena momentum kebersamaan selama lebih kurang empat tahun antara dosen dan mahasiswa hanya ada pada saat Kuliah Kerja Lapang atau KKL,” ujar Miqdad, selaku dekan FEB UNEJ.  Pernyataan ini ia simpulkan saat menjabat sebagai ketua program studi S1 Akuntansi, yaitu pada saat melakukan diskusi dengan HMJA dan mahasiswa. “Ternyata mereka (red: mahasiswa) itu masih menginginkan (red: KKL) asal ada transparansi dan akuntabilitas,” simpulnya lagi. Keinginan mahasiswa ini menjadi pertanyaan besar.  Jika yang diinginkan adalah momen kebersamaan antara dosen dan mahasiswa, lantas mengapa harus dipadukan dengan kepentingan KKL? Pertemuan di kelas saat kegiatan mengajar pun sudah dikatakan kebersamaan.  Kebersamaan seperti apa yang dimaksud sebenarnya, sepertinya kebersamaan berdiskusi dan bekerja sama sudah cukup menjadi syarat kebersamaan. Beda lagi jika yang dikejar adalah momen bersenang-senang, atau dengan alasan refreshing. Bukankah sebenarnya bisa dibedakan antara refreshing dengan momentum KKL yang lumayan menguras isi kantong ini.

Sudah barang tentu biaya KKL jauh dari kata murah untuk tiga sampai empat hari pelaksanaan. Ditambah lagi uang saku untuk mampir ke toko oleh-oleh.  Akan lebih beruntung apabila uang saku mempertebal isi dompet, bisa berbelanja sana-sini membeli koleksi baju Bali di almari. Hingga akhirnya durasi waktu dua sampai tiga jam yang ditentukan untuk kunjungan ke perusahaan tidak sebanding dengan biaya keberangkatan dan asal muasal fungsi KKL.  Mengkhawatirkan sekali jika pelaksanaan KKL ditahun 2018 nanti masih tetap saja sama.

 

 

Nayla Rizqi K

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *