Kebebasan Bagi Perempuan Perokok

Kebebasan Bagi Perempuan Perokok

“Malam ini pesta kretek, tiada hari tanpa kretek!” salah satu kawan berseru lantang ditengah diskusi ‘Perang Kretek, Babak Baru Polemik Tembakau’di pawon (warung kopi). Diskusi yang dilaksanakan pada peringatan hari anti tembakau sedunia ini, mengajak kaum terpelajar, mahasiswa, dan beberapa aktivis pro tembakau berdialog dan bertukar pikiran menyikapi hari tanpa tembakau secara berlawanan. Jika organisasi besar kesehatan dunia atau WHO mengkampayekan dampak negatif rokok seperti merusak kesehatan, memiskinkan perokok hingga penggunaan tembakau sebagai ancaman terhadap pembangunan, maka malam itu kamu beranggapan lain.

Kami mengkritiki anggapan negatif soal tembakau dan rokok yang telah berkembang di masyarakat.  Kawan-kawan peserta diskusi bersuara bahwa rokok dan tembakau tidaklah buruk dari segi kesehatan, perekonomian maupun gender. Hal menarik bagi saya pada diskusi saat itu adalah kajian mengenai stigma yang  terbentuk di masyarakat Indonesia terhadap perokok perempuan. Bagi masyarakat, laki-laki merokok dianggap wajar dan biasa.Secara budaya dan lingkungan laki-laki lebih diterima karena anggapan bahwa merokok adalah simbol kejantanan disisi lain juga menampilkan imaji kebebasan, tantangan dan keberanian. Nicther berpendapat, iklan rokok punya andil membentuk imaji tersebut, mencicilnya sebagai konstruk di masyarakat bahwa yang pantas merokok hanyalah laki-laki.

Hal berbeda ditemui ketika perempuan merokok, pandangan aneh tak jarang cibiran akan muncul bagi kebanyakan masyarakat yang melihatnya. Saya jadi teringat, kawan perempuan saya begitu tidak leluasa saat merokok di ruang umum khususnya di depan orang-orang baru. Tak jarang ia bertanya “Menurutmu, apakah perempuan merokok apalagi sedang memakai jilbab itu aneh?”. Dari pertanyaan tersebut, dia merasa tak percaya diri. Penilaian buruk akan mungkin terjadi di tengah masyarakat, seperti ketidakpantasan, penyamaan dengan perempuan nakal, dijustifikasi sebagi perempuan salah pergaulan, dsb.  Salah satu tulisan dalam buku Perempuan Berbicara Kretek berjudul Rokok dan Jilbab karya Des Christy, memaparkan tanggapan informanya terhadap perempuan berjilbab dan merokok. Rata-rata berucap bahwa perempuan merokok itu tidak pantas terlebih mereka yang memakai jilbab. Bagi Christy ini semua adalah beyond reality, adanya stigma yaitu penilaian negatif yang melebihi realitanya.

Stigma tersebut melabeli perempuan-perempuan perokok mengalami degradasi moral dan ketidaksesuaian budaya dimana perempuan baik seharusnya berperilaku bak seorang perempuan berdasarkan konsep patriarki, yaitu sopan, santun, lemah lembut, menjaga sikap dan ucapan. Barraclough menyebutkan perempuan di Indonesia tidak merokok dalam jumlah besar karena adanya ketidaksetujuan budaya yang kuat mengenai perilaku merokok pada perempuan. Sementara  pada  saat  yang bersamaan, merokok  di  kalangan  pria  dianggap sebagai   budaya. Anehnya mengapa wajar untuk laki-laki tapi tidak untuk perempuan. Padahal jika, mengingat sejarah perempuan merokok sudah lama ada. Saat zaman kerajaan Mataram kuno perempuan merokok dijadikan simbol perlawanan dan pemberontakan bagi kesewenang-wenangan kerajaan yang ingin menjadikan mereka selir.

Tak hanya secara moral, dari segi kesehatan, rokok dinyatakan buruk untuk rahim dan janin perempuan. Maka ada larang perempuan untuk merokok, namun ada kontradiksi saat menyaksikan film Mereka Yang Melampaui Waktu. Beberapa perempuan usia baya perokok kretek ditampilkan, menunjukkan bagaimana sampai usai tuapun perempuan perokok kretek masih sehat bugar dan kuat. Kemudian mengapa hingga saat ini, perempuan seolah didiskriminasi hanya karena menikmati rokok/kretek. Bukankah merokok itu asasi setiap individu terlepas dari dia laki-laki, perempuan, lesbian, ataupun gay. Mengutip perkataan Ganesya Hari Mukti salah satu penulis materi diskusi saat itu, beranggapan bahwa merokok merupakan tindakan eksistensial diri dan perempuan berhak untuk itu, tidak lagi terjebak stigma negatif bentukan patriarki. So, menurut saya perempuan berhak untuk merokok karena itu adalah bentuk pengekspresian diri, setiap individu perokok punya cara masing-masing untuk memaknai fungi merokok. Studi yang dilakukan oleh Hsia dan Spruitjt-Metz (2008) tentang makna perokok pada mahasiswa Asia-Amerika menyebutkan laki-laki lebih memaknai merokok secara sosial, sedangkan perempuan secara lebih pribadi. Seperti yang dikatakan kawan perempuan saya, ia memaknai merokok sebagai ketenangan dan peredam stres.

Diskusi saat itu berjalan hingga dini hari, asap rokok mengepul di udara kemudian hilang terbawa angin. Hal menarik yang saya amati saat diskusi berlangsung adalah para perokok tak hanya laki-laki tapi juga perempuan muda dan tua. Mereka semua saling berbagi dan bertukar kretek/rokok, menyulutnya dan menikmatinya. Tidak ada kecanggungan disisi perempuan termasuk kawan saya yang akhir-akhir ini mulai menunjukkan kebiasaannya merokok di depan umum. Saya harap perempuan perokok tidak dilabeli dengan sebutan negatif lagi, dan mereka bisa menggunakan hak asasi pribadi dengan semestinya.

Tabik!

Putu Ayu D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *