Pemilu Raya Minim Antusias

Pemilu Raya Minim Antusias

“Dari keseluruhan jumlah mahasiswa di FEB, hanya 1:10 yang menggunakan hak pilihnya,” jelas Kurnia, salah satu Panitia Pemungutan Suara (PPS) pada Pemilihan Umum Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Jember (Pemilu Bem UNEJ) yang diselenggarakan Kamis, (02/11) lalu. Perbandingan ini ia peroleh saat perhitungan hasil Pemilu setelah Tempat Pemungutan Suara Fakultas Ekonomi dan Bisnis (TPS FEB) ditutup. Mengaca pada hasil tersebut, ia menduga hal ini merupakan pengaruh dari antusias mahasiswa yang sangat minim.

Afif, salah satu panitia KPUM juga mengatakan bahwa penyebab minimnya antusiasme pemilih karena mahasiswa FEB masih belum minat dengan proses demokrasi kampus dan terbatasnya akses ke TPS yang disediakan. “Sehingga ketika akan nge-vote males, melihat banyaknya antrian,” duganya. Pasalnya TPS yang disediakan untuk ± 4000 pemilik hak suara hanya satu. (Baca juga: Terapkan Sistem Baru, E-TPS Pemilu Raya Alami Gangguan). “Akses informasi kurang diperhatikan juga oleh mahasiswa,” tambahnya menegaskan penyebab sedikitnya peminat pemilu.

Alasan tidak diperhatikannya informasi oleh mahasiswa dibuktikan dengan keterangan salah satu mahasiswa Manajemen 2014 yang tidak ingin disebutkan namanya, ia mengaku tidak tahu mengenai jadwal Pemilu. “Jadi belum tahu ya mau milih atau nggak, soalnya saya ke kampus niatnya mau ketemu dosen pembimbing, nanti kalau saya ke sana terus dosennya datang gimana,” jawabnya saat ditanya mengenai hak suaranya. Berbeda dengan Erika Julianti mahasiswa Ilmu Ekonomi (IE) 2016 yang mengetahui informasi pemilu melalui grup angkatannya di sosial media, yang pada hari H pemilu ia juga menggunakan hak pilihnya. “Karena dari BEM ini teman saya sendiri,” tuturnya saat ditanya alasan berpartisipasi.

Dalam hal informasi, Azhar Adabi, Mahasiswa Manajemen 2013 yang menjabat sebagai koordinator lapangan dalam Pemilu Raya mengkritisi proses publikasi pemilu yang kurang maksimal. ”Harusnya KPUM menyediakan satu event, jadi tiap Paslon (Pasangan Calon, red) itu kampanye bareng ke tiap-tiap fakultas. Mereka hanya melakukan kampanye akbar satu kali, selanjutnya hanya diserahkan ke fakultas masing-masing,” protesnya. Kurangnya koordinasi dengan pihak dekanat juga membuat pubilkasi ini tidak maksimal. Selain itu, panitia KPUM aktif di fakultas yang jumlahnya hanya dua atau tiga orang, sehingga dirasa tidak sebanding dengan kemampuan menjangkau seluruh mahasiswa aktif FEB yang ada. Di sisi lain ia memaklumi ketidakmaksimalan dalam publikasi, lantaran Pemilu yang secara langsung dapat dipilih oleh seluruh mahasiswa ini baru pertama kalinya dilakukan di UNEJ. ”Kepengurusan BEM Universitas sebelumnya kan diambil dari pengurus BEM yang ada di fakultas,” jelasnya.

Hal lain dari riuhnya Pemilu, rupanya ketidaktahuan mahasiswa akan fungsi dan peran BEM juga mempengaruhi minat mahasiswa untuk datang ke TPS dan memilih. Mahasiswa Manajemen 2014 yang juga tidak ingin disebutkan namanya mengatakan keengganannya untuk datang dalam Pemilu lantaran kurang mengetahui fungsi dari keberadaan BEM Universitas. “Soalnya dulu waktu jadi pengurus di UKM pusat, aku nggak merasakan perannya. Tapi kalau kita mau ngadain kegiatan harus lewat mereka dulu, dan itu ruwet,” jelasnya. Azhar Adabi juga mengamini tidak merasakan adanya peran BEM secara pasti, namun ia tetap menggunakan hak pilihnya karena beranggapan bahwa keberadaan kedua lembaga ini sebenarnya penting dan perlu sebagai jembatan antara mahasiswa dan dekanat atau rektorat. “Cuma mungkin aparaturnya atau pengurusnya ini yang belum paham Tupoksinya (Tugas Pokok dan Fungsi, red), sehingga keberadaan mereka juga nggak terasa,” tegasnya.

Nayla Rizqi K

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *