Konsep Inaugurasi yang Membudaya

Malam itu, euforia inaugurasi terasa kental di mahasiswa baru FEB UNEJ angkatan 2017.  Ya, dengan berbagai penampilan musik, bazaar, dan tata letak panggung serta lampu yang meriah, malam inaugurasi FEB UNEJ dapat dikatakan mewah.  Layaknya yang sudah-sudah, kegiatan yang dimotori oleh BEM fakultas ini masih saja identik dengan pesta dan perayaan yang besar-besaran. Sebenarnya, apa inaugurasi itu?

Inaugurasi, disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai kegiatan untuk pelantikan resmi bagi mahasiswa baru.  Hal ini serupa dengan yang diutarakan ketua panitia inaugurasi FEB, bahwa terselenggaranya kegiatan ini untuk menyambut mahasiswa baru angkatan 2017.  Agar inaugurasi dapat memberi manfaat terutama untuk mahasiswa baru  FEB, maka panitia menyiapkan serangkaian acara yang diharapk dapat mewujudkan manfaat tersebut.  Seperti pada satu sesi, inaugurasi semalam menghadirkan deretan mahasiswa FEB yang kerap membawa nama baik fakultas melalui ragam kejuaraan, sehingga fakultas berharap agar mahasiswa baru dapat termotivasi untuk dapat berprestasi. Tidak hanya sampai di situ, tema Unity in Diversity yang diusung untuk inaugurasi tahun ini pun bukanlah tanpa alasan.  Terselip harapan agar kegiatan tersebut dapat menyatukan seluruh mahasiswa di FEB tanpa memandang jurusan maupun angkatan tertentu.

Selain itu, inaugurasi juga merupakan malam puncak dari rangkaian kegiatan Pembinaan dan Pengembangan Mahasiswa Baru (P2Maba) FEB yang digelar setiap tahunnya.  Kegiatan P2Maba diserahkan ke masing-masing jurusan, sehingga termasuk inaugurasi pun diselenggarakan sesuai konsep masing-masing jurusan.  Tak heran apabila tahun-tahun sebelumnya FEB bisa sampai empat kali menyelenggerakan inaugurasi, mengingat terdapat beberapa jurusan di fakultas ini: Ilmu Ekonomi (IE), manajemen, akuntansi, dan jurusan-jurusan di tingkat Diploma 3.  Namun berbeda dengan tahun ini, sesuai dengan rekomendasi Wakil Dekan III FEB, Muhammad Dimyati, inaugurasi semua jurusan di FEB diselenggerakan dalam satu malam. Hal ini tidak lepas dari pertimbangan bahwa “budaya” kegiatan inaugurasi di FEB membutuhkan biaya tidak sedikit, sehingga ketika inaugurasi semua jurusan dilaksanakan dalam satu malam diperhitungkan dapat menghemat anggaran fakultas.

Bicara soal anggaran, total dana yang diberikan pihak fakultas untuk seluruh rangkaian kegiatan P2Maba ini sebesar 70 juta rupiah, dengan alokasi untuk malam inaugurasi sebesar 20 juta rupiah.  Berkaca pada rangkaian acara inaugurasi semalam, sangat disayangkan dana sekian puluh juta rupiah dihabiskan dalam waktu semalam hanya untuk mewujudkan tujuan yang sebenarnya kurang efektif untuk dicapai melalui acara-acara yang disajikan.  Hal ini dapat dilihat dari tujuan yang ingin dicapai, dibandingkan dengan usaha yang dilakukan penyelenggara.

Melihat dari tema yang diusung, penyelenggara berharap dapat menyatukan mahasiswa yang berbeda-beda jurusan.  Perbedaan jurusan pada malam itu disimbolkan dengan warna baju mahasiswa yang berbeda-beda sesuai dresscode yang ditetapkan tiap jurusan.  Secara fisik, mereka memang menyatu menjadi satu dalam satu lapangan, namun hati dan jiwa mereka belum tentu melebur menjadi satu.  Sebenarnya masih ada cara lain untuk menyatukan mereka, tanpa perlu menggelar acara jutaan rupiah demi mengakrabkan antar jurusan dan angkatan.  Konsep P2Maba yang mencampur mahasiswa baru dari berbagai jurusan dalam satu kelas sebenarnya sudah cukup untuk mewujudkan tujuan akrab tersebut.

Selain itu, mengenalkan mahasiswa berprestasi dengan harapan dapat memotivasi mahasiswa, nampaknya bisa dilakukan tanpa perlu mengangarkan sekian puluh juta rupiah.  Masih banyak cara yang dapat ditempuh, salah satunya saat kegiatan P2Maba sebenarnya bisa dimaksimalkan.  Mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi tersebut dapat masuk ke kelas-kelas dan mengenalkan diri kemudian saling berbagi pengalaman dengan para mahasiswa baru.  Daripada saat inagurasi, mahasiswa berprestasi tersebut hanya dipanggil ke atas panggung dan pihak dekanat membacakan deretan prestasi yang mereka torehkan.  Padahal sebetulnya lebih menarik untuk menyimak bagaimana proses mereka untuk mencapai titik tersebut daripada hanya melihat mereka berdiri, menerima bunga penghargaan, dan mendengar deretan prestasi yang dibacakan.

Secara keseluruhan, sejatinya rangkaian acara inaugurasi FEB merupakan acara hiburan.  Sebut saja penampilan musik dari paduan suara, beberapa band, hingga disc jockey (DJ) turut meramaikan langit FEB malam itu.  Melihat inaugurasi FEB, konsep yang diusung cenderung sama dari tahun ke tahun: hiburan.  Konsep yang berulang lama-kelamaan dapat membudaya dan memberi label bahwa inaugurasi selalu identik dengan hiburan.  Bukan berarti mahasiswa tidak boleh mendapat hiburan, namun ada baiknya apabila dana hiburan itu dialokasikan untuk hal lain yang lebih menunjang kegiatan bakat dan minat mahasiswa.

Kegiatan inaugurasi diakui penyelenggara menghabiskan banyak dana, namun tetap saja dilakukan dari tahun ke tahun.  Meski pada akhirnya diambil keputusan untuk menyatukan inaugurasi semua jurusan agar terkesan lebih hemat, namun tetap dengan melihat tujuan dan rangkaian acara yang berjalan, inaugurasi belum sepenuhnya efektif untuk mencapai tujuan inti.

Tidak ada surat keputusan yang mengatur kegiatan inaugurasi, semua kembali ke fakultas masing-masing hendak melaksanakan inaugurasi atau tidak, termasuk hendak mengonsep inaugurasi menjadi seperti apa. Pihak penyelenggara mungkin bisa mulai mempertimbangkan kegiatan apa yang lebih mengena pada kebutuhan banyak mahasiswa, ketimbang menyelenggarakan kegiatan hiburan yang mungkin hanya mengena pada segelintir mahasiswa.  Apabila hanya mengutamakan hiburan mahasiswa, sayang apabila sampai harus menganggarkan dana yang puluhan juta tersebut.

Triana Novitasari

Pimpinan Redaksi LPME Ecpose, yang saat ini sedang menempuh studi di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *