Kekerasan Pada Anak Masih Marak Terjadi

 

Memasuki bulan November, terdapat beberapa tanggal yang menjadi tanggal spesial, salah satunya tanggal 20 November yang dirayakan sebagai Hari Anak Universial. Hari Anak merupakan event perayaan yang didedikasikan untuk anak, perayaan ini diselenggarakan berbeda beda di seluruh dunia, Hari Anak Internasional diperingati setiap 1 Juni, sementara PBB menetapkan Hari Anak Universal jatuh pada tanggal 20 November, dan di Indonesia sendiri Hari Anak Nasional diperingati setiap tanggal 23 Juli yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 1979 dan Keputusan Presiden No.44 tahun 1984 tentang Hari Anak Nasional.

Asal mula peringatan Hari Anak Sedunia sendiri muncul pertama kali dari Turki pada tahun 1920, kemudian beberapa tahun setelah itu tepatnya pada 1925 peringatan Hari Anak dibahas dalam konferensi negara dunia di Swiss. Tujuan utama dari perayaan Hari Anak adalah untuk melindungi hak-hak anak. Begitu pula di Indonesia, perayaaan Hari Anak Nasional diadakan dengan tujuan sebagai wahana kampanye untuk mengajak seluruh komponen warga Indonesia untuk melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya terkait perlindungan hak anak. Anak merupakan titipan dari Tuhan kepada para orang tua yang sudah sepatutnya dijaga. Selain itu anak juga merupakan aset bangsa yang sangat berharga, harapan bangsa sebagai penerus cita-cita serta pemimpin negara dimasa mendatang. Ke mana negara ini akan melangkah kelak, ada di tangan mereka. Oleh karena itu, sejatinya setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang luas untuk dapat hidup, tumbuh dan berkembang secara optimal, pendidikan yang layak, serta mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan.

Mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 mengenai Perlindungan Anak, disebutkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia.  Namun pada kenyataanya, anak-anak Indonesia masih belum sepenuhnya mendapatkan perlindungan yang seharusnya mereka dapatkan, masih banyak terjadi kekerasan pada anak terutama kekerasan seksual yang tiga tahun terakhir meningkat.

Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tercatat ada 218 kasus kekerasan seksual anak pada tahun 2015, 120 kasus pada tahun 2016, dan sampai September 2017 tercatat sudah terjadi sebanyak 116 kasus kekerasan seksual pada anak yang berhasil terungkap. Meskipun jumlah kasus terhadap anak pada tahun 2017 menurun dibandingkan tahun 2016, namun dari jumlah korban justru meningkat. Mirisnya, beberapa kasus kekerasan seksual terhadap anak ini justru terjadi di lingkungan sekolah dan rumah, kekerasan dilakukan oleh keluarga atau kerabat korban, guru atau teman mereka sendiri. Sekolah yang sejatinya merupakan tempat untuk mencari ilmu, dan rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk anak menghabiskan waktunya bersama keluarga ternyata justru menjadi tempat mereka diperlakukan tidak manusiawi.

Mengutip dari tempo.co, mantan ketua KPAI Arist Merdeka Sirait menyatakan ada 4 faktor yang menyebabkan kekerasan seksual pada anak bisa terjadi. Pertama, adanya anak yang berpotensi menjadi korban, anak yang dimaksud disini adalah anak yang cenderung penakut, berbaju ketat, dan hiperaktif. Kedua, ada anak atau orang dewasa yang berpotensi menjadi pelaku kekerasan seksual akibat dari meniru orang tua, siaran dalam televisi, video game dan film yang dilihat, ataupun kecanduan pornografi, miras, dan narkotika. Ketiga, kurangnya pengawasan dan perlindungan orang dewasa terhadap anak-anak. Keempat adalah anak yang sering dipeluk, dipangku, dan dicium tetapi tidak berani menolak membuat pelaku memanfaatkan hal itu untuk melampiaskan nafsu bejatnya.

Melihat kasus kekerasan seksual pada anak yang semakin darurat ini, pada tanggal 25 Mei 2016 pemerintah melakukan tindakan tegas dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Kekerasan Seksual Terhadap Anak. Perppu ini mengatur pemberatan pidana tambahan dan tindakan lain bagi pelaku kekerasan terhadap anak, berupa penambahan sepertiga ancaman pidana, pidana mati, seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 10 tahun dan paling lama 20 tahun serta tindakan lain berupa kebiri kimia dan pemasangan alat deteksi elektronik.

Bertepatan dengan Hari Anak Universal yang dirayakan beberapa hari lalu, kita diajak untuk merenungkan sejenak nasib anak-anak penerus bangsa Indonesia. Jika sekolah dan rumah saja sudah bukan lagi tempat yang menjamin keamanan bagi anak, lantas ke mana mereka harus pergi? Sesuai dengan pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, sesuatu yang dimulai dari hal kecil nantinya akan menjadi besar. Untuk itu kita bisa memulai dengan hal kecil, memanfaatkan hari perayaan anak ini untuk meningkatkan komunikasi bersama keluarga, agar nantinya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan terutama pada anak.

Penulis: Dian Rismayasari*

*Penulis adalah anggota tetap Lpme Ecpose

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *