Bukan Sekedar Janji Manis Tetapi Harus Realistis

Badan Eksekutif Mahasiswa atau biasa dikenal dengan sebutan BEM merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan resmi intra kampus yang menjalankan tugas dan wewenangnya sebagai lembaga eksekutif di tingkat universitas, institut, maupun fakultas. BEM ini dipimpin oleh seorang ketua umum atau yang biasa dikenal dengan presiden yang dipilih secara langsung melalui pemilihan umum (Pemilu). Secara struktural, anggota BEM terdiri dari mahasiswa yang aktif yang berasal dari universitas, institut, atau fakultas yang memiliki jiwa dengan didukung kemampuan yang baik dalam berorganisasi. Mereka adalah para mahasiswa yang ingin berkontribusi secara nyata untuk sesama civitas akademika dan juga masyarakat di sekitarnya. Adanya rasa kepedulian tersebut, anggota BEM berusaha untuk menjadi agent of change yang selalu bersedia mnghadapi berbagai macam perubahan kondisi dan juga siap membantu yang lain.

Seperti pada acara Debat Kandidat Ketua dan Wakil Ketua BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember (FEB UNEJ) pada 27 Desember 2017 lalu.  Riska menyampaikan bahwa acara debat kandidat tersebut bukan hanya memperkenalkan calon Ketua dan Wakil Ketua BEM periode 2018, tetapi juga menjabarkan visi dan misi dari masing-masing paslon serta mengetahui program kerja.  Kemudian, Shofiahtu Adita selaku koordinator Sie Acara juga mengatakan jika tidak ada acara seperti ini, melainkan hanya sekedar melakukan kampanye atau pemilihan saja, yang ada dari setiap masing-masing paslon hanya mengumbar janji manis-manis saja. Namun dengan adanya acara ini, paslon belajar berpikir cepat untuk menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan dari para audien kepada para paslon. “Semoga bagi paslon yang nantinya menjadi Ketua dan Wakil Ketua BEM bisa melaksanakan apa yang telah disampaikan dalam acara debat kandidat ini,” ujar kedua Sie acara tersebut.

Pendapat mahasiswa mengenai janji BEM bukanlah harapan belaka. Peran BEM dalam instusi mahasiswa dipandang penting, karena sebagai wadah bagi seluruh mahasiswa untuk mengembangkan berbagai potensi yang mereka miliki. Pasalnya, BEM berhubungan langsung dengan tidak lanjut dari aspirasi, saran, dan kritik mahasiswa. Beragam sekali pandangan mahasiswa mengenai BEM, ada yang positif dan ada juga yang negatif. Memang tidak jarang ada beberapa mahasiswa yang mengatakan BEM kurang berperan dan kurang optimal dalam mengemban tugas serta tanggung jawabnya. BEM sebagai lembaga yang menampung aspirasi dari mahasiswa, sebagai lembaga fasilitator, sebagai lembaga yang representatif seharusnya bisa mengimplementasikan fungsi tersebut, tetapi pada akhirnya tidak didengar dan menjadi sia-sia belaka.

BEM merupakan sebuah organisasi untuk mahasiswa karena memang mahasiswa membutuhkan wadah untuk belajar berorganisasi, berkegiatan di dalam dan di luar kampus maupun fakultas, menyuarakan pendapat mahasiswa, dan belajar untuk peka terhadap perubahan-perubahan kondisi yang ada saat ini. Dengan demikian, pihak civitas akademika berharap BEM menjadi organisasi yang benar-benar bisa mengemban tugas yang telah diamanahkan dengan bekerja keras, berkomunikasi dengan baik, dan berkomitmen dengan sungguh-sungguh dan juga bisa merangkul semua mahasiswa dalam setiap misi yang akan dilakukan karena ujung tombak dari seluruh mahasiswa di Indonesia tidak lain adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

“Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang bisa kamu berikan untuk negaramu.” (John F. Kennedy)

 

Penulis: Muwafikul Hoyr (Anggota Tetap LPME Ecpose)

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *