Mempertanyakan Arah Terbang Telegram

Mempertanyakan Arah Terbang Telegram

“Rek, kok saiki di SISTER kudu daftar ID Telegram sek?”

Mungkin masih terngiang di telinga mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) komentar-komentar kecil saat mengetahui, bahwa mulai semester ini mereka harus memasukkan nomor identitas (ID) Telegram dahulu pada Sistem Informasi Terpadu (SISTER) UNEJ agar dapat mengaksesnya.  Kewajiban meng-input ID Telegram tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa, namun juga berlaku pada para dosen.  Kebijakan yang berjalan sejak Januari 2018 ini, sontak mengundang berbagai pertanyaan mengenai alasan universitas memanfaatkan aplikasi messenger buatan Rusia tersebut.

Sebagaimana diketahui, Telegram layaknya aplikasi pengirim pesan seperti WhatsApp (WA), Line, Black Berry Messenger (BBM), dan lain sebagainya.  Adapun yang membedakan Telegram dengan aplikasi lain yakni adanya fitur channel atau semacam official account dari Universitas Jember.  Alhasil, warga UNEJ yang telah mendaftarkan ID ke channel tersebut dapat menerima pemberitahuan resmi dari UNEJ.  Hal inilah yang menjadi salah satu pertimbangan universitas untuk memanfaatkan Telegram, yakni sebagai sarana komunikasi dan informasi resmi antara universitas dengan mahasiswa.

Kampus Tegal Boto dan Pemanfaatan Teknologi Informasi

Pada abad 21 seperti ini, integrasi antara pendidikan dengan teknologi informasi bukan menjadi barang baru.  Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohammad Nasir, pun mengharuskan agar pendidikan tinggi di Indonesia dapat memanfaatkan teknologi yang berkembang, karena teknologi informatika menjadi tumpuan pembangunan bangsa Indonesia ke depan (liputan6.com, 8/1/2018).

Maka tak heran apabila sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia sudah memanfaatkan teknologi informasi, tak terkecuali Universitas Jember.  Pemanfaatan teknologi informasi di UNEJ ditunjukkan dengan dibentuknya Sistem Informasi Akademik Terpadu atau SISTER.  Sistem ini mengintegrasikan segala kegiatan akademik mahasiswa maupun dosen dalam satu sistem, sehingga UNEJ akan lebih mudah dalam melakukan pengolahan data maupun penyebaran informasi.

SISTER mulanya hanya dapat diakses melalui browser dan tampil responsif apabila dibuka melalui PC/laptop.  Hal ini mengakibatkan kurang fleksibelnya pengguna dalam mengakses SISTER karena harus membuka PC/laptop terlebih dahulu.  Oleh karena itu, UNEJ membuat SISTER dalam versi aplikasi bernama Sister For Student (SFS) yang dapat diunduh di Play Store.  Melalui aplikasi yang dikembangkan sejak tahun 2015 ini, mahasiswa UNEJ dapat lebih fleksibel memonitor kegiatan akademiknya.  Selain itu, SFS juga memberikan notifikasi kepada mahasiswa apabila universitas memiliki pemberitahuan tertentu.

Beranjak dari tahun 2015 ke tahun 2018, perkembangan teknologi informasi telah membawa UNEJ untuk menambah jalur informasi dan komunikasinya, yakni melalui aplikasi Telegram.  Meski sama-sama bisa digunakan untuk penyaluran informasi, namun tetap ada pembeda antara keduanya.  SFS dalam penyebaran informasinya tidak memandang fakultas/prodi, semua mahasiswa mendapat informasi yang sama sekalipun informasi itu ditujukan untuk fakultas/prodi tertentu.  Nah, dengan Telegram informasi yang disampaikan dapat dispesifikkan pada fakultas/prodi tanpa harus semua mahasiswa menerimanya.

Melihat alasan penggunaan Telegram, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan SFS, yakni sebagai sarana transfer informasi dari universitas kepada mahasiswa.  Sejak diresmikannya Telegram menjadi jalur komunikasi resmi antara universitas dengan mahasiswa, fungsi dari Telegram belum terlalu kentara, selain memberikan notifikasi bahwa pemrograman mata kuliah atau Kartu Rencana Studi (KRS) telah disetujui oleh Dosen Wali.  Padahal untuk pemberitahuan semacam ini, sebenarnya selama ini sudah tersedia di SFS.

Mengenai pemaanfaatan Telegram, UNEJ bukan satu-satunya perguruan tinggi yang memanfaatkan aplikasi tersebut Adalah Universitas Budi Luhur (UBL), perguruan tinggi lain yang juga memanfaatkan Telegram.  Sebagaimana tercantum di website resminya, universitas yang terletak di Jakarta Selatan ini memanfaatkan Telegram untuk melakukan kegiatan KRS.  Hal tersebut dilakukan karena UBL belum memiliki sistem informasi akademik yang terintegrasi seperti SISTER UNEJ, sehingga keberadaan Telegram benar-benar bermanfaat untuk menunjang kegiatan akademik di sana.

Selain itu, ujung tombak dari pemanfaatan teknologi informasi adalah pengguna.  Sebaik apapun sistem dan aplikasi yang dikembangkan, akan menjadi sia-sia apabila penggunanya gagap dalam pengoperasian.  Pada kebijakan pemanfaatan Telegram, mau tidak mau setiap warga UNEJ harus memilliki akun di aplikasi tersebut.  Padahal yang juga harus menjadi catatan adalah, tidak semua warga UNEJ adalah pengguna smartphone, dan tidak semuanya cepat menyesuaikan diri dengan teknologi baru.  Banyaknya inovasi teknologi informasi pada dunia pendidikan, secara tidak langsung juga menuntut pengguna untuk cepat menyesuaikan diri dengan setiap perubahan yang terjadi.

Pengguna memang harus selalu siap pada kemajuan teknologi informasi, namun hal lain yang juga semestinya diperhatikan adalah pihak-pihak yang memutuskan untuk mengadopsi teknologi informasi tersebut.  Akan sangat bijak apabila sebelum memutuskan akan memanfaatkan teknologi informasi yang baru, konsepnya benar-benar digodok matang.  Apabila tidak, dikhawatirkan ragam inovasi teknologi informasi yang diterapkan pada suatu perguruan tinggi hadir hanya karena tuntutan zaman, tanpa konsep yang berdasar atas kebutuhan mahasiswa maupun dosennya.

Begitu pula dengan keputusan penggunaan Telegram.  Jika selama ini kebutuhan informasi dan komunikasi telah terpenuhi dengan adanya SFS, ada baiknya pihak universitas bisa memberikan alasan yang kuat mengapa harus mengadopsi teknologi informasi yang lain lagi.  []

Triana Novitasari

Pimpinan Redaksi LPME Ecpose, yang saat ini sedang menempuh studi di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *