Pemutaran Film Istirahatlah Kata-kata: Ada Hutang Sejarah yang Harus Dibayar

Pemutaran Film Istirahatlah Kata-kata: Ada Hutang Sejarah yang Harus Dibayar

Dewan Kesenian Jember (DKJ), Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian (UKMK), dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ideas menyelenggarakan pemutaran film dan diskusi “Istirahatlah Kata-kata” pada Sabtu 20 Februari 2018 di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) UNEJ. Acara yang dimulai pukul 18.00 ini, dihadiri oleh Wahyu Susilo selaku saudara dekat Widji Thukul (tokoh utama yang diceritakan dalam film), Ikhwan selaku dosen FIB Unej, dan Bambang Teguh selaku ketua panitia. Dalam sambutannya sebelum acara diskusi dimulai, Bambang mengapresiasi banyaknya jumlah pengunjung yang hadir, meskipun sebagian besar datang terlambat sehingga ia menawarkan untuk pemutaran film di sesi kedua jika memang diinginkan.

“Pemutaran film ini bertujuan sebagai media pembelajaran untuk kita bersama, bahwa ada satu karya bangsa yang memotret satu sosok inspiratif Widji Thukul yang keberadaannya saat ini masih antah berantah,” tutur Bambang. Menurutnya ada sesuatu hal besar yang melatarbelakangi hilangnya sosok Widji Thukul. Oleh karena itu dia merasa perlu menyebarluaskan edukasi yang ada dalam film tersebut.

“Film ini adalah sebagai bukti bahwa ada hutang sejarah yang masih harus diselesaikan,” ujar Wahyu selaku naraumber diskusi. Senada dengan Wahyu, Ikhwan memperjelas bahwa film ini sebagai pintu masuk terhadap warisan-warisan sejarah yang masih terbengkalai hanya karena alasan keamanan, ketertiban, bahkan atas nama Pancasila.

Menanggapi pemutaran film tersebut, Sugab, mahasiswa FKIP, menyatakan pemutaran film ini dinilainya bagus, namun juga rawan menimbulkan salah paham pada orang awam yang masih belum mengenal siapa sosok Widji Thukul. “Akhirnya kalo melihat dari film ini seakan-akan Widji Thukul adalah seorang yang pelari, ketakutan dan sisi perlawanannya kurang.” Ia menambahkan bahwa film ini masih kurang dalam menggambarkan bagaimana perlawanan yang dilakukan Widji Thukul tetapi sudah cukup baik untuk edukasi bahwa pada era dulu ada aktivis-aktivis yang hebat berjuang. []

Ilham Faurizal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *