Kuliah: Bukan Sekadar Cepat

Kuliah: Bukan Sekadar Cepat

PENYUSUNAN skripsi menjadi salah satu syarat bagi mahasiswa Strata 1 (S1) agar dapat mengakhiri studinya di perguruan tinggi. Hal ini tercantum dalam peraturan yang dikeluarkan oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 60 tahun 1999 Tentang Pendidikan Tinggi. Umumnya, penyusunan skripsi menjadi momok bagi setiap mahasiswa, mulai dari pencarian topik hingga analisis data. Hal ini diakui pula oleh Agung Budi Sulistiyo, Ketua Program Studi S1 Akuntansi, saat dijumpai di ruangannya.

“Skripsi itu, bisa membuat mahasiswa cepat jadi sarjana, bisa juga membuat mahasiswa lama jadi sarjana. Bahkan bisa saja gagal jadi sarjana. Kalau kuliah pastilah selesai, tapi kalau skripsi nggak dikerjakan, nggak mungkin jadi sarjana, kan,” tutur Agung Budi. Ia menambahkan, penyusunan skripsi yang cepat otomatis akan mempercepat kelulusan mahasiswa. Oleh karena itu, ia dan pihak Jurusan Akuntansi FEB UNEJ telah mengadakan rapat dan menyepakati untuk mengadakan program percepatan skripsi yang dikenalkan dengan istilah Initial Consultation for Thesis atau ICT. Program ini telah disosialisasikan pada mahasiswa akuntansi angkatan 2015, Senin (2/4), dan akan dilanjutkan untuk angkatan setelahnya apabila berdampak baik.

Latar belakang diadakannya ICT juga tidak terlepas dari fakta bahwa rata-rata lama studi yang ditempuh oleh mahasiswa FEB UNEJ tidak memenuhi kriteria ideal. Agung Budi menyatakan bahwa rata-rata masa studi mahasiswa FEB adalah 4 tahun 3 bulan, sedangkan untuk penyusunan skripsi selama 8,7 bulan.  “Hal ini merupakan rentang waktu yang tidak ideal menurut Kemenristekdikti, di mana untuk penyusunan skripsi idealnya 6 bulan, dan untuk kelulusan tidak lebih dari 4 tahun,” jelasnya.

Lebih lanjut, Agung Budi menjelaskan bahwa program ini akan memaksa mahasiswa untuk mulai memikirkan skripsi bahkan sejak semester 5. Tujuannya, agar ketika pemrograman skripsi di semester 7, mahasiswa bisa langsung ke penggarapan bab 4 dan 5. “Setidaknya saat semester 5, mereka sudah dapat 40-50% dan ketika semester 7 tinggal proses pencarian dan analisis data.”

Selain dapat memikirkan skripsi sejak awal, mahasiswa akuntansi juga dapat memilih sendiri dosen pembimbing yang mereka kehendaki untuk diajak konsultasi. Taufik Kurrohman, sebagai salah satu dosen akuntansi yang hadir saat sosialisasi program ICT, berharap tidak ada lagi mahasiswa akuntansi yang risau hanya karena tidak cocok dengan dosen pembimbingnya.

Bukan hal yang mengherankan apabila program ini disambut baik oleh mahasiswa akuntansi yang pada semester mendatang sudah berancang-ancang untuk menyusun skripsi.  “Program ini memudahkan kita banget ya. Kita jadi bisa menyicil skripsi dan yang paling penting nggak bingung-bingung lagi soal dosen pembimbing,” terang Vania Deshinta, salah satu mahasiswa Akuntansi angkatan 2015. Senada dengan Vania, Fitri Nur Aisyah yang juga satu angkatan dengan Vania, memanfaatkan program ini untuk segera memilih dosen yang ia minati. Langkah Vania dan Fitri tidak sendiri, data dari Bagian Akademik Jurusan Akuntansi menunjukkan sudah ada 86 mahasiswa akuntansi yang mendaftar program ini sejak seminggu setelah pendaftaran dibuka. Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh mahasiswa akuntansi begitu antusias dengan program ICT.

Keberadaan program seperti ICT sangat memungkinkan mahasiswa untuk mempercepat masa studinya.  Namun hal lain yang perlu diperhatikan daripada sekadar kemudahan menyusun skripsi dan cepat lulus, adalah kesiapan mahasiswa setelah keluar dari perguruan tinggi. Agung Budi menyadari bahwa persaingan di dunia kerja semakin lama semakin ketat, sehingga mahasiswa dituntut siap dan perlu memperluas akses serta melihat peluang yang ada di luar.

Menyinggung persaingan dunia kerja, tidak lepas dari kenyataan bahwa jumlah sarjana menganggur semakin meningkat dari tahun ke tahun, sebagaimana terdata oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Parahnya, fenomena ini terjadi dalam tiga tahun terakhir. Catatan pada Februari 2017 menunjukkan bahwa sarjana menganggur mencapai 787 ribu jiwa. Jumlah ini meningkat dari catatan pada Februari 2016 yang sejumlah 695 ribu jiwa, dan catatan Februari 2015 yang menunjukkan angka 565 ribu jiwa.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mencatat, saat ini ada lebih dari 3000 perguruan tinggi swasta maupun negeri di Indonesia. Dengan jumlah perguruan tinggi tersebut, terdata bahwa setiap tahun rata-rata ada 750 ribu lulusan pendidikan tinggi baru dari berbagai tingkatan. Sungguh ironis melihat kenyataan ini, bahwa banyaknya jumlah mahasiswa lulusan perguruan tinggi belum mampu mengatasi jumlah penggangguran yang meningkat setiap tahunnya.

Lulus cepat dan tepat waktu bukanlah hal yang buruk, karena lulus ketika masih muda akan memperluas peluang mahasiswa untuk berkarir lebih. Hal ini diutarakan oleh Agung Budi, namun poin utamanya bukan terletak pada kata ‘cepat’. “Yang terpenting mahasiswa dapat lulus cepat, namun tetap berkualitas,” tutur Agung Budi.

Kualitas yang dimaksud pada akhirnya bermuara pada softskill yang dimiliki oleh mahasiswa, sehingga membuat mereka memiliki nilai lebih dibandingkan mahasiswa lainnya. Fahmi Firdaus, mahasiswa berprestasi FEB UNEJ 2017 sekaligus mahasiswa Jurusan Akuntansi ini sepakat, bahwa mahasiswa tidak bisa apabila bertumpu pada lulus cepat saja. “Di FEB, mahasiswa dengan IPK di atas 3,5 dan lulus tepat waktu itu banyak. Tapi yang membedakan antara satu mahasiswa dengan yang lain yaitu softfkill-nya,” ungkapnya.

Tak jauh berbeda dengan Fahmi, Dewi Ayu, salah satu mahasiswa Akuntansi juga setuju bahwa skripsi boleh disusun secara cepat, asalkan setelah lulus memiliki tujuan akan berbuat apa dan tidak terlalu lama menganggur. “Lulus cepat sih boleh, asal jangan jadi penambah jumlah pengangguran. Syukur-syukur kalau sarjana bisa buka usaha,” tutur Dewi.

Mahasiswa tidak melulu harus berkutat pada perkuliahannya apalagi hanya untuk mencari nilai. Lebih dari itu, softskill perlu diasah dan dikembangkan melalui kegiatan organisasi maupun kegiatan lain yang dapat menunjang keterampilan mereka. Namun permasalahan muncul saat ruang gerak mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan dibatasi oleh masa studi yang dikatakan ideal. Tentu, mahasiswa harus pandai menyesuaikan diri agar tanggung jawab kuliah dapat selesai, sekaligus softskill terasah matang untuk bersaing di dunia kerja. [Savira, Triana]

Triana Novitasari

Pimpinan Redaksi LPME Ecpose, yang saat ini sedang menempuh studi di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *