KKL Butuh Pedoman

KKL Butuh Pedoman

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) jelas bukan suatu “hal baru” di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember (FEB UJ).  Kegiatan KKL adalah rutinitas tahunan yang akan diselenggarakan setiap jurusan di FEB UJ.

6 April mendatang, jurusan Ilmu Ekonomi akan melaksanakan KKL. Disusul oleh jurusan Akuntansi pada 12 April, dan jurusan Manajemen pada 27 April. Ketiganya mengusung destinasi KKL yang sama yaitu Pulau Dewata untuk memproyeksikan bagaimana komparasi realita dengan teori yang dipelajari di bangku perkuliahan.

“KKL itu kunjungan langsung ke lapangan, berkunjung ke suatu lembaga dan mendapat materi full satu hari dari pagi sampai sore. Sisanya dihabiskan di perjalanan”, ujar Tri Yuni Redita Holvi mahasiswa S1 Ekonomi Syariah. Lain halnya dengan Syakir mahasiswa S1 Akuntansi saat ditanya tentang apa itu KKL, ia hanya menjawab singkat, “liburan terselubung”.

Dua jawaban di atas meski berbeda, tetap masuk akal. Tri Yuni menjawab lewat segi esensi KKL sebagai suatu kegiatan pembelajaran di lapangan. Sedangkan Syakir menjawab melalui segi realita KKL yang notabene lebih banyak melakukan kunjungan wisata daripada instansi perusahaan. Namun saat ditanya seberapa jauh pemahaman mereka terkait KKL, jawaban mereka senada, “masih kurang paham”. Padahal  sosialisasi KKL yang mempertemukan antara mahasiwa, pihak travel, Kepala Jurusan, dan Kepala Program Studi sudah dilakukan sebanyak satu kali. Sebegitu tidak efektifkah sosialiasi KKL yang ditujukan sebagai ruang bagi mahasiswa untuk memahami seluk beluk KKL?

Kegiatan KKL kali ini adalah tahun kedua semenjak dimasukkannya KKL dalam Satuan Kredit Semester (SKS). Dikutip dari terbitan lpmecpose.com, Muhammad Miqdad, Dekan FEB UJ, pada 15 Agustus 2017 silam, menyatakan bahwa pemberian SKS pada KKL ditujukan untuk membuat KKL menjadi lebih baik, serta dapat menunjang dan mendukung kompetensi mahasiswa. Namun hingga tulisan ini dibuat, kegiatan KKL masih belum memiliki landasan jelas dalam prosedur dan pelaksanaannya.

Zainuri, Wakil Dekan I FEB UJ menjelaskan sejak dulu belum ada pedoman untuk kegiatan KKL. Ia mengakui FEB UJ baru memproses pembuatan pedoman untuk Program Pascasarjana sejak sebulan lalu, dan akan dilanjutkan pembuatan pedoman untuk S1 dan D3 termasuk KKL, PKL, dan sebagainya. Apabila meninjau statement Miqdad, bagaimana mahasiswa dapat ditunjang kompetensinya jika mereka tidak mengetahui sistematika kegiatan KKL dari segi dasar hukum, perencanaan, pelaksanaan, pelaporan dan evaluasi  yang umumnya tercantum di dalam sebuah pedoman kegiatan?

Pelaksanaan KKL kini tinggal menghitung hari. Apakah KKL kali ini akan berwujud seperti penuturan Tri Yuni  yang berdasarkan esensi? Ataukah seperti anggapan Syakir lewat segi realitasnya dalam menilai KKL?

Selamat menikmati…

Ilham Faurizal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *