Cerpen Suara USU Bukan Karya Pornografi

Cerpen Suara USU Bukan Karya Pornografi

“Justru, sebagai sebuah kontribusi intelektual di tengah masyarakatnya, teks sastra memang perlu dengan jujur mengangkat dan mempersoalkan realitas yang ada di masyarakat, termasuk yang ada kaitannya dengan seksualitas.”

Katrin Bamdel

Kutipan di atas kiranya dapat menjawab tudingan Runtung Sitepu, Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) atas terbitan cerpen Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Suara USU. Cerpen berjudul “Ketika Semua Menolak Kehadiranku di Dekatnya” dianggap Runtung tidak pantas terbit di kalangan akademisi USU. Ia juga beranggapan cerpen tersebut bermuatan pornografi,  LGBT, serta mencoreng nama baik USU. Atas dasar itu Runtung memutuskan pemecatan seluruh awak redaksi Suara USU.

Saat dihubungi oleh reporter Tempo pada Kamis, 21 Maret 2019 Runtung mengaku belum membaca secara langsung cerpen Suara USU. Namun ia menganggap isi cerpen mendukung kelompok LGBT berdasarkan laporan Wakil Rektor 1 dan akan mencabut SK penerbitan UKM Suara USU. Bagaimana bisa seorang pemimpin tertinggi kampus akan memutuskan pencabutan SK tanpa verifikasi langsung terkait isi cerpen yang dipermasalahkan.

Dilansir dari Tirto.id, Runtung berujar bahwa USU menjunjung tinggi moral, etika, dan agama. Sehingga menilai cerpen tersebut tidak sesuai dengan visi dan misi USU. Sayangnya Runtung mungkin lupa jika tindakannya sendiri tidak mencerminkan isi dari poin pertama misi USU yang memuat tentang alternatif penyelesaian masalah haruslah berlandaskan kajian ilmiah, moral, dan hati nurani.

“Kau dengar? Tidak akan ada laki-laki yang mau memasukkan barangnya ke tempatmu itu. Kau sungguh menjijikkan. Rahimmu akan tertutup. Percayalah sperma laki-laki manapun tidak tahan singgah terhadapmu,”

Mari kita membahas pengertian pornografi agar dapat melihat adakah unsur pornografi seperti yang dituduhkan Runtung. Sedayu (2006:1-2) menjelaskan bahwa pornografi diartikan sebagai penyajian tindakan cabul yang sengaja ditunjukkan untuk menimbulkan nafsu birahi atau seksual. Sedangkan di dalam cerpen yang dipermasalahkan adalah penggunaan kata seperti rahim dan sperma.

Kata “barangnya” dan “tempatmu” merupakan eufemisme yang berarti penggunaan ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar, dianggap merugikan atau tidak menyenangkan. “Barangnya” merujuk pada kemaluan laki-laki dan “tempatmu” adalah kemaluan perempuan yang jika dituliskan secara eksplisit akan terlihat terlalu “mentah”, sehingga dapat menyinggung pembaca. Pada kalimat selanjutnya penulis menggunakan kata sperma dan rahim namun tidak ditujukan untuk menimbulkan nafsu birahi pembaca seperti pengertian dari pornografi. Disini penulis berusaha menggunakan gaya bahasa sarkasme dan sinisme untuk menggambarkan kondisi sosial seorang perempuan yang mencintai sesama jenis namun dicerca dan ditentang oleh lingkungannya.

Sastrawan dan budayawan Umar Kayam berpendapat  bahwa dalam membaca suatu karya sastra, pembaca agar tidak tergesa-gesa menjatuhkan vonis, cabul, atau melanggar nilai-nilai kesusilaan sebelum mencoba mengerti tentang “motif” dan “kedudukan” penulisnya. Dalam hal ini, penulis cerpen “Ketika Semua Menolak Kehadiranku di Dekatnya” adalah Yael Stefani Sinaga, mahasiswi jurusan Antropologi Sosial USU. Yael mengaku tujuannya menulis cerpen tersebut untuk melawan proses diskriminasi yang terjadi terhadap golongan minoritas. Kelompok LGBT diangkat hanya untuk menjadi contoh saja. Lalu janggalkah seorang mahasiswi Antropologi Sosial menulis cerpen tentang dinamika lingkungan sosialnya?

Ilham Faurizal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *