Memanusiakan Manusia

Namanya Tarendra. Laki-laki tampan dengan alis tebal yang selalu terlihat di teras mushola sehabis sholat Ashar. Orang-orang biasa memanggilnya Taren. Ia lebih sering terlihat bertukar cerita dengan perempuan-perempuan seumurannya daripada ikut bermain sepak bola di lapangan depan musholla. Aku tidak tahu mengapa, tapi kata orang, Taren ini laki-laki yang bukan ‘laki-laki’.

“Boleh aku duduk disini?”

Taren mendongak ketika laki-laki itu mendengar suaraku. Ia tersenyum kecil sembari mengangguk dan menyingkirkan tumpukan bukunya agar aku bisa duduk disamping laki-laki itu.

Keheningan menyelimuti kami. Banyak sekali yang ingin aku tanyakan padanya, namun hanya tertahan diujung lidah. Akan sangat aneh jika aku melempar pertanyaan ketika sore ini adalah saat pertama aku duduk disampingnya.

Aku tidak tahu mengapa orang-orang menyebut Taren bukan ‘laki-laki’ padahal kriteria fisik laki-laki itu menjelaskan sebaliknya. Aku masih ingat punggung tegap Taren yang sering kulihat ketika tidak sengaja bertemu di tempat wudhu atau ketika mendengar suaranya yang tegas dan berat.

Aku tidak menemukan sesuatu yang membuatku melihat Taren bukan sebagai laki-laki, meski secara kepribadian aku belum benar-benar mengenalnya. Namun buatku, semua laki-laki adalah laki-laki. Tidak peduli bagaimana kepribadiannya, lemah lembut atau kaku sekalipun. Stereotipe-stereotipe sosial seringkali menekan laki-laki untuk menjadi pribadi kuat.

“Aku sering lihat kamu, tapi kita nggak pernah benar-benar berkenalan ya?”

Taren mengulurkan tangan kanannya padaku, lengkap dengan senyumnya yang hangat. Aku bisa mencium aroma lavender  ketika Taren mencondongkan tubuhnya padaku.

“Aku baru menemukan seseorang yang nggak melihatku dengan aneh,” ujar Taren setelah kami bertukar nama. Laki-laki beraroma lavender ini tersenyum kecil melihat wajah kagetku sebelum mengalihkan tatapannya.

Aku menatap Taren lagi dan menyadari bahwa laki-laki disampingku ini berlipat-lipat lebih tampan dari yang biasa aku lihat. Entah, mungkin karena aku melihatnya dari dekat dan bisa menilik satu-persatu keindahan pada wajahnya. Sampai saat ini, aku masih tidak menemukan apa yang harus dibenci dari sosok disampingku ini. Dia tampan dan ramah pada siapapun, aku sering melihat caranya berinteraksi dengan orang lain. Ibu bilang padaku bahwa Taren juga siswa yang cerdas. Lalu apa yang membuatnya dibenci?

“Aku nggak punya alasan untuk melihat kamu aneh,”

Aku tidak tahu apa motif laki-laki itu mengatakan hal yang terlalu tabu ketika kita masih baru saja berkenalan. Entah karena memang Taren seterbuka itu atau dia hanya ingin memberitahuku bahwa dia berbeda.

“Orang bilang aku bukan laki-laki karena aku suka pakai parfum lavender, aku nggak bisa main sepak bola karena kulitku bisa kebakar kalau kena panas matahari tanpa sunblock, dan aku merasa lebih nyaman ngobrol bareng perempuan,” jelas Taren dengan suara baritonnya. Laki-laki itu tersenyum kecil ketika tatapannya bertemu dengan mataku. Dia menjelaskannya dengan gamblang seolah hal tersebut telah menjadi asupannya sehari-hari.

“Ren, aku tahu kedengarannya akan sangat menggurui, tapi definisi maskulin nggak harus seperti laki-laki kebanyakan. Hanya karena kamu mengadopsi perilaku perempuan, lantas harus disebut ‘seperti perempuan’ juga?”

Taren menatapku lagi. “Aku nggak pernah mempermasalahkan apapun yang orang pikirkan tentangku, itu hak mereka karena aku paham nggak semua orang bisa menerima aku yang seperti ini. Tapi anggapan-anggapan mereka tentangku kadang buat aku mikir, apa memang aku salah dengan berperilaku seperti perempuan? Lalu mengapa perempuan tomboy dianggap keren, sedangkan laki-laki ‘melambai’ sepertiku dianggap aneh?”

“Nggak ada yang salah dari cara berperilaku selama itu baik dan nggak mengganggu siapapun, kamu punyak hak untuk membentuk diri kamu seperti apa yang kamu mau. Buatku, figur maskulin seorang laki-laki nggak hanya dinilai dari apakah dia cukup untuk disebut ‘laki-laki’.”

Taren tidak membalas ucapanku. Tatapannya menerawang. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya selama ini yang dikelilingi anggapan-anggapan negatif, dan bagaimana sakitnya menelan anggapan-anggapan tersebut.

“Buatku, kamu hebat,” ucapku lirih. Tapi aku tahu dia mendengarnya dengan jelas.

Taren tidak membalas ucapanku, tetapi matanya tidak lepas menatapku.

“Kamu hebat karena kamu berani menjadi diri sendiri, karena kamu berani berpikir bahwa nggak semua yang kita lakukan akan diterima oleh orang lain dan kamu tetap melakukannya. Banyak orang yang nggak bisa menjadi dirinya sendiri karena terlalu takut dengan anggapan-anggapan sosial yang terlalu membatasi.  Aku tahu akan berat buatmu menerima anggapan-anggapan itu, tapi itu bagian dari pendewasaan diri kan?”

Taren mengangguk dan melempar senyum kecil. “Aku nggak tahu apa niat kamu mengatakan ini padaku, tapi terima kasih karena kamu tidak menyudutkanku hanya karena aku bukan seperti laki-laki kebanyakan. Aku hampir nggak punya teman yang bisa benar-benar kuanggap teman, jadi.. mari berteman?”

Alih-alih tersinggung dengan ucapan Taren, aku malah tidak kuasa menolak ajakannya.

Mari berteman, Tarendra.

***

Yulita Ayu Trisnani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *