Fenomena Titip Absen Ancam Moralitas Mahasiswa

Oleh : Naurah Syifa Salsabila

Illustrator: Difa/ECP/Mgg

5 Desember lalu, Herman Cahyo, Kaprodi IESP menyampaikan rasa keprihatinannya melalui grup whatsapp IESP angkatan 14-18 perihal temuan kecurangan titip absen yang marak terjadi. Sebagai tenaga pendidik, beliau menghimbau tidak akan main-main dengan pemberian sanksi “TIDAK LULUS” jika mahasiswa masih acapkali melakukan kecurangan.

Herman menekankan, “Sebenarnya dunia pendidikan yang harus ditonjolkan adalah persoalan moralitasnya bukan teknologinya”. Agung Budi Kaprodi Akuntansi, turut menyampaikan hal yang sama. “Dalam perkembangan teknologi selalu kembali dari sikap. Apabila mahasiswanya baik, ada kesempatan pun tidak mungkin dilakukan”, ujarnya. Kedua kaprodi FEB tersebut senada menekankan pada pentingnya moralitas dalam dunia pendidikan sebagai patokan dalam menentukan tindakan yang baik dan buruk bagi mahasiswa.

W. Poesprojo, penulis buku berjudul Filsafat Moral mendefinisikan moralitas sebagai acuan kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Dalam konteks akademik mahasiswa, patokan baik-buruknya perbuatan mahasiswa tercermin dari kesadaran untuk menerima dan melakukan peraturan yang berlaku di Universitasnya.

Sudah sangat jelas bahwa saat mereka mengikuti proses Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB), ditekankan mengenai etika mahasiswa UJ. Di dalam etika tersebut menyebutkan bahwa jujur tidak melakukan absensi mahasiswa lain yang diketahui tidak hadir dalam perkuliahan. Bahkan kata “jujur” berulang kali tertulis di dalam etika mahasiswa UJ.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Crown dan Spiller tahun 1998, menemukan bahwasanya kecurangan yang ditujukan untuk kepentingan akademis akan dianggap suatu hal yang wajar atau lumrah. Perihal kecurangan ini tidak lain karena kesadaran untuk menaati peraturan yang berlaku ditampik oleh presepsi mahasiswa yang menganggap titip absen adalah hal yang wajar. Fenomena yang terjadi saat ini adalah mahasiswa cenderung mengedepankan “solidaritas” sebagai bentuk “asas kekeluargaan” antara mahasiswa lainnya, dan mengesampingkan etika mereka (kejujuran) demi berbuat curang di ranah akademis seperti persoalan titip absen.

Mahasiswa memiliki fungsi sebagai “iron stock” yang diharapkan menjadi manusia-manusia berkemampuan dan berahlak mulia. Namun dengan adanya kecurangan titip absen mahasiswa seakan telah kehilangan moralitasnya. Peran moralitas dalam diri mahasiswa seolah terlupakan dan cenderung tidak dipikirkan lagi.

Pemahaman akan kerugian dari titip absen perlu ditanamkan sebagai peringatan dan efek jera. Kerugian yang dapat terjadi jika memilih meneruskan budaya titip absen adalah labelling buruk dari para dosen ke mahasiswa itu. Apabila hal ini terjadi, nilai semester mahasiswa itu yang akan menjadi taruhannya bahkan berakhir tidak lulusnya mereka.

Sebenarnya alasan mahasiswa melakukan titip absen karena mereka tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengikuti ujian, tetapi tidak diimbangi dengan kemauan untuk hadir mengikuti perkuliahan. Sebagaimana N, mahasiswa D3 Adiministrasi Keuangan 2018 mengakui hal itu. “Kebanyakan mahasiswa malas masuk kelas, tapi tidak mau kehilangan kesempatan mengikuti ujian”, ujarnya.

Padahal, nilai akademik bukanlah hal yang harus dikejar untuk meraih kesuksesan. Riset yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley dalam bukunya The Millionaire Mind kejujuran menempati urutan pertama faktor yang memengaruhi kesuksesan. Kemudian pada urutan kedua adalah disiplin keras, dilanjut mudah bergaul dan dukungan pendamping. Nilai akademik (NEM, IPK, dan rangking) hanyalah menempati urutan ke-30. Yang perlu diketahui selanjutnya adalah sepuluh faktor yang paling menentukan kesuksesan versi Stanley tidaklah dapat dijangkau oleh bagus tidaknya nilai akademik mahasiswa.

Berdasar pada penelitian Stanley, mahasiswa perlu sadar bahwa nilai akademik bukanlah segalanya. Belum tentu seorang mahasiswa yang memiliki nilai akademik kecil tidak sukses. Apabila ditunjang dengan moral mereka, seseorang akan dengan mudah mempercayai untuk memberikan tanggung jawab melakukan suatu pekerjaan. Daripada seorang mahasiswa yang hanya mengandalkan nilai akademik tanpa diikuti moral mereka.

*Penulis dan illustrator adalah seorang anggota LPME ECPOSE 2019

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *