Ijinkan Aku Amnesia

Oleh : Fatma Anisa

Bukan tentang senja dan pula hujan. Tetapi, semua ini tentang kerinduan dan kebencian. Dua hal itu pula bersamaan dengan pria yang aku temui di Madiun saat perjalanan kereta api menuju Surabaya Gubeng. Dua hal tentang itu, aku berusaha menyingkirkan dari otakku yang menjadikan amat pening jika untuk diingat. Dua rasa bertolak belakang yang menyatu dan bertemu dalam satu tempat.

Madiun. Tempat itulah yang menjadi saksi bisu kerinduan, tetapi juga menjadi sebuah kebencian. Rindu tentang pertama kali bertemu, tetapi benci tentang sebuah harapan yang pupus. Ada pertemuan pasti akan ada perpisahan Semua hal itu menancapkan pisau berkarat yang teramat pedih. Menggoreskan luka yang amat mendalam.

Luka itu terkadang akan tertutup jika aku selalu mengingat tentang pertemuan. Tepat dua tahun yang lalu aku bertemu kau. Saat kau menaiki kereta. Kau adalah sosok pria jangkung berkumis tipis yang duduk berhadapan dengan ku. Sapaan lembut dan balutan bibir dengan senyuman semanis gula membuatmu semakin mempesona.

Aku terperangkap olehnya. Saat melihatnya, detak jantungku menjadi tidak beraturan. Akan tetapi, aku mencoba tenang agar terlihat seperti orang biasa. Selama perjalanan kita membicarakan berbagai macam hal. Hanya dalam tiga puluh menit kita bisa menjadi sangat akrab sekali. Perasaan nyaman mulai muncul dalam diriku. Apakah ini yang dinamakan cinta?

Sejak saat itu, sudah menjadi kebiasaan kita untuk naik kereta yang sama. Selain karena sejalur, aku bisa sekalian menyelam minum air alias modus. Dan semenjak itu pula, bunga-bunga di dalam hatiku semakin hidup bermekaran. Membuat otak dan mulutku nekat untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya.

Namun, apa yang terjadi. Hatiku benar-benar hancur dan harapanku seakan lenyap. Sosok yang selama ini aku harapkan dan aku rindukan, akan menjadi milik orang lain. Di balik undangan pernikahan berwarna emas yang kau julurkan kepadaku tertulis nama “Syifa dan Dias”. Dan aku hanya bisa tersenyum saat aku menerima undangan itu.

Bunga-bunga di dalam hatiku mulai berguguran seiring dengan hancurnya harapanku. Ketika perjalanan cinta seperti sebuah drama yang berada dalam lembaran kosong berisi sandiwara, sehingga menjadikan ada rasa sayang yang terpenjarakan yang tidak dapat tersampaikan.

Keluh kesah rindu yang aku rasakan selama ini seakan tidak bermakna sama sekali. Rasa cinta yang menggebu bagaikan disayat oleh tajamnya pedang samurai. Dengan debaran jantung bagaikan tertusuk duri yang teramat tajam selama ini. Memasukan perasaan ku yang terpendam selama ini ke dalam jurang yang amat dalam dan seakan hanyut dalam kebencian.

Cukup. Aku ingin menghentikan semua sandiwara yang telah aku lakukan. Aku tidak ingin tersakiti yang amat mendalam seperti ini. Biarkan kau dapat hidup bahagia bersama pilihanmu. Karena aku tidak ada hak untuk membatalkan pernikahanmu. Kita hanya adalah sepasang teman peneman di kereta. Jika aku boleh meminta kepada Tuhan, tolong ijinkan aku amnesia. Agar aku dapat melupakan segalanya tentang kau dan cerita singkat kita di kereta.

*Penulis adalah seorang anggota magang LPME ECPOSE 2019

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *