Sistem Presensi Kecolongan, Sanksi TA Perlu Dipertegas

Oleh : Erlinda Rachmanita


Illustrator: Figi/ECP/Mgg

Sister For Student (SFS) yang telah diterapkan Universitas Jember (UJ) sejak tahun 2018 kini berkembang dengan baik. SFS hadir sebagai presensi online yang menggantikan sistem tanda tangan perkuliahan di kertas absen manual. Sistem presensi ini cukup mudah, hanya bermodalkan scan QR code di kelas masing-masing pada SFS di HP, kehadiran mahasiswa di kelas sudah tercantumkan. Namun sayangnya kemajuan teknologi tersebut digunakan oleh mahasiswa untuk melakukan kepicikan presensi, yaitu titip absen (TA) dengan berbagai dalih yang dilontarkan. Rasa malas mengikuti perkuliahan karena dosen yang monoton pun menjadi salah satu alasan Raden, mahasiswa D3 Manajemen Perusahaan 2017, untuk memilih TA. “Titipkan HP saja ke teman nanti diabsenkan” sambungnya ketika diwawancarai.

Permasalahan TA harusnya tidak boleh menjadi budaya yang mendarah daging di kalangan mahasiswa UJ. Kesadaran mahasiswa akan pentingnya kuliah dan bagaimana tanggung jawabnya sebagai mahasiswa yang mengumbar-umbar kesucian Tri Dharma perguruan tinggi seharusnya diterapkan, bukan malah dihempas secara perlahan. Generasi milenial yang katanya cerdas dan menguasai IPTEK seharusnya memiliki kesadaran untuk bersikap jujur dan menggunakan kecanggihan teknologi untuk memperbaiki kualitas diri sebagai modal siap menggempur majunya zaman.

Menanggapi fenomena titip absen pihak Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu Universitas Jember (LP3M) angkat bicara. “Kita himbau untuk setiap dosen di akhir perkuliahan mengechek kembali presensi mahasiswa.” Tutur Bambang Marhaenanto selaku sekretaris satu LP3M ketika diwawancarai. Menurut pendapatnya pula untuk menindaklanjuti fenomena ini, pihak UPT Teknologi Informasi dan Komunikasi (UPTTI), rektor, dan LP3M perlu mengadakan rapat terlebih dahulu.

Masalah Titip Absen Perlu Sanksi Lebih Tegas

Sistem presensi online yang diberlakukan oleh UNEJ sudah cukup banyak mengalami perubahan guna mengantasipasi celah kecurangan yang dilakukan mahasiswa. Pihak UPTTI mengonfirmasi terkait fenomena TA yang kini marak terjadi. “Kami sudah batasi Imei pada masing-masing HP, ada rekam jejak waktu bagi presensi mahasiswa.” Tutur Dedy Trisaksono selaku kepala divisi aplikasi dan perangkat lunak. Tak hanya itu ia pun menyampaikan bahwa UJ telah meluncurkan SFS baru dengan fitur lengkap yang bertemakan SFS Next Generation, yang akan diresmikan rektor UJ pada acara Acquisition, SuperApps, Insight & Decision Support di auditorium UJ pada 14 desember.

Mekanisme pengawasan kehadiran melalui rekam jejak presensi, dan pencegahan pembatasan Imei HP guna meminimalisir kecurangan yang terjadi sejatinya sudah mencerminkan penanganan sistem yang baik. Namun saat ditanyakan mengenai pemberian sanksi atas TA, pihak UPTTI menyerahkan sepenuhnya kepada dosen pengampu mata kuliah. Beberapa dosen yang menangkap basah mahasiswa yang TA melarang mengikuti UAS serta memberikan nilai E. Sayangnya tak semua dosen memberlakukan sanksi tersebut. “N” mahasiswa angkatan 2017 yang tak ingin namanya disebutkan menyatakan tidak semua dosen memberikan sanksi tegas bagi mahasiswa yang ketahuan TA. Mereka dapat mengikuti UAS dan tidak memperoleh nilai E jika meminta maaf kepada dosen pengampu mata kuliah.

Pemaafan yang dilakukan oleh dosen atas mahasiswa yang ketahuan TA sejatinya memiliki tujuan baik agar tak mengulangi kesalahan yang dilakukan. Sayangnya hal tersebut dapat berdampak pada tidak adanya efek jera atas sanksi yang diberikan. Sebuah sistem yang seharusnya dipatuhi setiap ketentuannya akan menjadi cacat tanpa pemberlakuan sebuah sanksi yang jelas. Hal inilah yang perlu dijadikan pekerjaan rumah (PR) para pemangku kebijakan Universitas Jember guna terciptanya lingkungan akademisi yang baik kedepannya.

*Penulis dan illustrator adalah seorang anggota magang LPME ECPOSE 2019

Redaksi ECPOSE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *