THR dan Gaji Ke-13 di Tengah PSBB, Apakah Efektif?

THR dan Gaji Ke-13 di Tengah PSBB, Apakah Efektif?

Ilustrasi oleh: Dinda Tiara

       Himbauan pemerintah mengenai larangan mudik menimbulkan kepanikan terhadap masyarakat Indonesia. Kepanikan ini juga dirasakan oleh pemerintah mengenai daya beli masyarakat menjelang lebaran 2020 yang akan mengalami penurunan, apalagi dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang lebih diperketat.

            ”Himbauan tidak mudik ini menjadikan daya beli masyarakat turun, kemudian permintaan melemah karena ekonomi berjalan lambat,” ujar Bayu Kristinamurthi, Mantan Wakil Menteri Pertanian. Melemahnya permintaan yang terjadi dapat menyebabkan sektor bisnis dan industri kehilangan konsumen dan pada akhirnya kehilangan pendapatan.  Sehingga dari hal ini, penurunan pendapatan nasional akan menyusul. Tak berhenti di situ, imbasnya juga bisa terlihat pada kemerosotan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

            Dengan merosotnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, Menteri Keuangan Sri Mulyani telah menyiapkan anggaran untuk gaji ke-13 dan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sudah tersedia di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Rencana tersebut disetujui oleh kepala negara, Joko Widodo. Akan tetapi, hanya untuk eselon 3. Sedangkan untuk eselon 1 dan eselon 2 tidak akan mendapatkan gaji ke-13 dan THR. “THR untuk ASN, TNI, dan Polri akan dibayarkan, khususnya hanya pada eselon 3 ke bawah saja,” ujar Sri Mulyani usai Sidang Kabinet Paripurna dalam video conference, Selasa (14/4/2020).

            Dengan kebijakan Sri Mulyani tersebut, maka diharapkan dengan cairnya gaji ke-13 dan THR ini dapat mendorong daya beli masyarakat yang diperkirakan akan turun saat menjelang lebaran 2020. Setidaknya dengan begitu dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi yang sekarang ini tengah melemah. Seperti saat menjelang lebaran 2019, dimana Sri Mulyani mengatakan masyarakat cenderung membelanjakan uangnya secara ekstra menjelang, hingga sesudah hari raya idul fitri dengan asumsi seluruh THR dan gaji ke-13 PNS, TNI, dan polri dibelanjakan.

            Hal tersebut didukung oleh Bhima Yudhistira, Peneliti ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) yang dilansir dari laman “tirto.id”, bahwa triliunan rupiah akan ikut mengalir ke daerah dengan masifnya kegiatan ekonomi. “Ekonomi di daerah akan bergerak karena konsumsi atau belanja uang di daerah. Baik untuk pariwisata ataupun pusat-pusat perbelanjaan,” tutur Bhima kepada reporter Tirto, Jumat (31/5/2019).

            Apabila dijabarkan lebih dalam lagi, pencairan THR dan gaji ke-13 ini lebih banyak dampak positif daripada negatifnya. Mengingat sekarang ini masyarakat dihadapkan dengan situasi serba rumah dan menjelang lebaran, maka sebuah kelompok keluarga sangat bergantung pada sumber pendapatan yang pasti. Dengan sumber pendapatan yang pasti itu, masyarakat akan tetap terdorong untuk melakukan daya beli di tengah pandemi  corona. Hal inilah yang dibutuhkan agar roda perekonomian tetap berjalan setelah tekanan yang tinggi selama pandemi corona berlangsung, apalagi muncul himbauan untuk tak mudik dari pemerintah.

            Menurut ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal mengatakan bahwa pemberian THR dan gaji ke-13 bagi PNS tetap mutlak dilakukan seperti biasa. Justru, sambungnya, kebijakan ini seharusnya dijalankan dengan tanpa keraguan mengingat kondisi ekonomi tengah tertekan pandemi corona. “Seharusnya normal saja. Sebab di jangka pendek, pandemi corona masih membuat pelemahan demand konsumsi. Inflasi di bulan Maret yang rendah, padahal sebulan sebelum puasa. Tidak seperti sewajarnya dan itu indikator bahwa ekonomi lagi turun,” jelasnya.

            Melihat kondisi saat ini, physical distancing yang lebih diperketat menjadi PSBB menyebabkan kegiatan ekonomi tidak dapat berjalan seperti biasanya. Kemudian mengakibatkan kegiatan konsumsi masyarakat juga akan terhambat pula. Maka timbul lah pertanyaan, apakah akan membuat daya beli masyarakat meningkat dengan adanya gaji ke-13 dan THR tersebut? Tentu saja secara kasat mata pun daya beli masyarakat tetap akan turun. Lalu, bagaimana gaji ke-13 dan THR itu akan dipergunakan sebaiknya, guna membantu roda perekonomian Indonesia tetap berjalan? Selain dipergunakan untuk konsumsi, ada dua pilihan lain dari pendapatan itu. Yakni investasi dan saving.

            Jika dilihat dari sisi uang untuk berinvestasi oleh masyarakat, yang mana sebelum berinvestasi kita harus melihat suku bunga yang berlaku dengan rate of return saat ini. Dilansir dari website Bank Indonesia (BI), untuk tingkat suku bunga sekarang berada diangka 4,5%, sedangkan untuk rate of return juga sebesar 4,5%. Apabila kedua hal tersebut dibandingkan, maka suku bunga dan rate of return adalah sama besar. Ini merupakan waktu yang tepat bagi investor untuk bertahan, karena tidak ada kerugian yang didapat. Namun juga tidak ada return untuk jangka pendek. Melihat kondisi ekonomi yang sekarang turun karena pandemi corona, maka memang membawa return investasi turun. Hal ini dapat dilihat dari beberapa perusahaan yang menurunkan jumlah produksinya, sehingga berimbas pada posisi investasi.

           Jika dilihat dari waktu investasi jangka pendek hingga jangka panjang, maka jangka panjang inilah yang akan memiliki risiko lebih kecil. Dimana jika jangka panjang, keputusan investasi tergantung pada keuangan investor. Ada tujuan untuk apa uang tersebut hingga 5 tahun kemudian. Sedangkan untuk investasi jangka pendek, risiko akan lebih besar karena kondisi saat ini yang extraordinary. Hal tersebut dilihat pada saat ini banyak penjualan yang loss aversion, atau irrasional karena tindakan agen ekonomi yang dilandasi emosi tanpa logika, sehingga menyebabkan pilihan untuk asset investasi tidak ada. Dengan begitu, maka lebih baik dalam jangka pendek ini untuk investor dapat mengurangi untuk tidak memperbesar investasinya, tetapi dapat mempertahankan asset investasi yang telah dimilikinya demi mempertahankan roda perekonomian Indonesia.

            Sedangkan untuk melakukan saving dari gaji ke-13 dan THR disituasi saat ini, masyarakat bisa melakukannya dengan didukung oleh penurunan tingkat suku bunga. Idealnya dengan diturunkannya suku bunga tersebut masyarakat bisa melakukan saving secara besar-besaran karena bunga yang ditawarkan oleh bank rendah, sehingga potongan uang yang ditabungkan di bank juga akan kecil. Namun, bagi para household apabila melakukan saving secara besar-besaran dalam situasi pandemi ini tentu tidak efektif. Hal ini dikarenakan jika saving yang dilakukan semakin banyak, tentu daya beli mereka berkurang karena efek kebocoran.

            Oleh karena itu, dapat disimpulkan untuk konsumsi masyarakat saat ini yang pasti akan turun walaupun gaji ke-13 dan THR cair karena dengan adanya pemberlakuan PSBB secara ketat. Lebih baik uang dari gaji ke-13 dan THR tersebut digunakan untuk investasi jangka panjang. Seperti pada krisis tahun 2008, investasi jangka panjang dapat berjalan dengan baik tanpa adanya risiko yang besar setelah  bencana ekonomi krisis itu mereda. Selain itu, dapat juga uang tersebut digunakan untung saving pada tingkatan tertentu demi memanfaatkan tingkat suku bunga yang sedang rendah.

Fatma Anisa

Fatma Anisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *