Menapaki Jejak Penanggulangan Masalah Kuliah Online UNEJ

Menapaki Jejak Penanggulangan Masalah Kuliah Online UNEJ

Illustrasi oleh: Dzakiyyah

Indonesia kali ini dilanda wabah Corona Virus Disease 19 (COVID-19), virus dari China yang hadir secara mendadak ini membuat seluruh penjuru sector terimbas. Tak terkecuali perkuliahan mahasiswa. Juga termasuk Universitas Jember (UNEJ).

                Pasca menghirup nafas bebas setelah usai menamatkan liburan semester gasal, kini mahasiswa UNEJ harus memendam kecewa setelah disodorkan Surat Pemberitahuan Wakil Rektor I UNEJ Nomor : 5008/UN25/LL/2020 pada tanggal 23 Maret 2020 tentang perkuliahan online melalui laman Media Manajemen Pembelajaran (MMP) UNEJ. Pelaksanaannya dimulai sejak tanggal 16 maret 2020 hingga 31 Maret 2020. Hal ini sedikit menimbulkan  problematik di kalangan mahasiswa, pasalnya umur masuk kuliah hanya 3 minggu. Namun mereka diharuskan menghadap kuliah online sebagai dampak COVID-19. Ekspetasi untuk bertemu dosen, teman-teman, dan materi di ruang kuliah kini harus dikemas paksa.

                Tak berhenti sampai disitu, COVID-19 kali ini benar-benar membuat geram dan khawatir. Hal itu karena semakin banyaknya masyarakat Indonesia yang terpapar. Alih-alih perkuliahan online akan selesai hingga 30 Maret 2020, nyatanya tidak. Pada tanggal 26 Maret 2020 UNEJ Kembali menyodorkan Surat Pemberitahuan Wakil Rektor I Universitas Jember Nomor : 5143/UN25/LL/2020 tentang perpajangan kuliah online melalui MMP UNEJ hingga 30 April 2020.

                Kebijakan kuliah online membuat seluruh awak universitas terkejut, khususnya mahasiswa serta dosen. Mau tak mau hal ini harus dijalankan. Berbagai kenyataan pun harus siap dihadapi, mulai dari persiapan psikis dimana hari-hari akan dilalui dengan menatap layar laptop atau HP, bahkan persiapan psikologis mengenai berbagai macam jenis tugas yang harus dihadapi, ditambah pula meradangnya korban COVID-19 di berbagai wilayah Indonesia membuat masyarakat was-was.

                Perlahan meniti waktu, perjalanan kuliah online mulai menuai keluh kesah baik dari pihak dosen maupun mahasiswa, berbagai kendala yang dihadapi kini menjadi kontroversi dalam kuliah online. “SISTER sering down jika digunakan seluruh mahasiswa. Serta juga hal ini membawa naiknya pengeluaran untuk membeli paket data bagi kami. ” Ujar Rendy, Mahasiswa IE’19 FEB.

                Tak berhenti pada mahasiswa saja, dosen pun turut serta merasakan masalah dalam kuliah online ini, E-Learning atau Sistem Informasi Terpadu (SISTER) UNEJ yang sering down pun masih menjadi trending permasalahan utama di kalangan dosen. SISTER, media pendukung perkuliahan yang sudah dinilai baik tersebut, ternyata masih perlu digaris bawahi. Bagaimana tidak, ketika dosen menjalankan perkuliahan, namun tiba-tiba harus terhenti karena downnya server. “Sister kadang tidak bisa diakses dengan baik pada waktu-waktu tertentu, pakai Bigbluebotton (BBB) pun masih kesulitan masuk ke Sister .” Ujar I Wayan Subagiarto, selaku dosen Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP) FEB UNEJ.

                Pasca ditelisik lebih dalam oleh pihak Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FEB dalam agenda audiensinya, nyatanya permasalahan tak hanya berkutat pada sistem saja. Melainkan juga pada masalah tugas yang menohok atau dirasa membebani, keterbatasan akses internet dan kurang efektifnya kuliah online seakan menjadi rongrongan ganas dari para mahasiswa UNEJ, khususnya di FEB. “Dari kebanyakan itu mahasiswa masih tidak setuju dan tidak puas dengan keadaan kuliah online.” Ujar Akif Mahasiswa FEB’17 selaku Kepala Departemen Advokesma BEM ketika diwawancarai.

                DPM juga menimpali terkait permasalahan kuliah online tersebut, “Untuk solusi, fakultas tidak bisa memberi keputusan karena keputusan asalnya dari rektor, kita hanya bisa menunggu rektor memberi arahan pada fakultas, harus bagaimana.” Ujar Nelles Mahasiswa FEB selaku ketua DPM ketika diwawancarai.

Lalu, bagaimana UNEJ menanggapi permasalahan kuliah online ini ?

                Pertanyaan itu kini menjadi momok di kalangan mahasiswa, hal itu karena banyak sekali keluhan atas kuliah online ini yang asalnya dari mahasiswa. Menanggapi hal tersebut UNEJ membalas dengan Surat Keputusan (SK) Rektor No. 5836/UN25/SP/2020 tanggal 8 April 2020, yang berisi bantuan cash money Rp.50000 bagi mahasiswa UNEJ yang membutuhkan. Kebijakan tersebut semata-mata dilakukan untuk membantu kelancaran kuliah online di kalangan mahasiswa.

                Tidak hanya dalam bentuk subsidi yang harus dibenahi, menurut Surat Pemberitahuan Nomor : 62/SPb/BEM-UNEJ/IV/2020 perihal diskusi serta klarifikasi BEM dan BPM UNEJ yang dilakukan pada tanggal 31 Maret 2020 dengan pemangku kebijakan, bahwasanya kegiatan perkuliahan akan dimaksimalkan pada penggunaan E-Learning guna meminimalisir pengeluaran biaya bagi mahasiswa. Serta, UNEJ akan melakukan perencanaan pengalokasian Biaya Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) dalam upaya peningkatan kapasitas server UNEJ sebesar 2 hingga 3 Milyar dalam bentuk pengadaan alat Load Balancing.

                Namun pada kenyataanya SISTER down sering dijumpai ketika perkuliahan online, maka tentu UNEJ diharapakan agar cepat tanggap dalam menjawab problematika yang terjadi. Mengingat betapa urgentnya SISTER dan E-Learning UNEJ selama perkuliahan online ini.   “Perbaiki kestabilan jaringan agar tidak error atau down saat perkuliahan berlangsung. Maintance dilakukan di luar jam perkuliahan/hari libur dan fitur/media/tool yang user friendly, harus menyertakan sosialisasi/panduan penggunaan dari masing-masing tool,” ujar Ema DP, selaku dosen manajemen FEB UNEJ.

                Seluruh Perguruan Tinggi pada saat ini juga tengah menerapkan kuliah online, namun bagaimana kuliah online tersebut dapat optimal. Tentu saja tergantung dari pembenahan yang dilakukan oleh pihak universitas mengenai cepat tanggap mengambil kebijakan. Jika kita ingin mencoba belajar. Mari, tarik sejenak Institut Teknologi Surabaya (ITS) yang selalu berupaya memperbaharui server sehingga meminimalisir terjadinya down server. Tak hanya itu penambahan web khusus ITS Clasroom, serta penggunaan media Video Learning seperti Massive Open Online Course (MOOC) pun tak luput dari pantauan.

                Tak menuntut UNEJ harus benar-benar sempurna dalam tindakan, namun berbagai pengupayaan yang dilakukan untuk menuju optimalnya sistem perlu segera digencarkan. Ini sebagai penawar segala bentuk problematika yang ada. [Erlinda, Dzakiyyah]

Erlinda Rachmanita

Erlinda Rachmanita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *