JIKA BAPAK BUTUH TEMAN DISKUSI

JIKA BAPAK BUTUH TEMAN DISKUSI

Ilustrasi oleh: Devidia

Bapak negara, Jokowi butuh teman diskusi. Pada periode kali ini beliau menyampaikan akan mengajak beberapa anak muda untuk menemani kerjanya. Maka dengan bangga pada hari itu (21/11), ia memperkenalkan staff khusus (staffsus) yang kini tampil baru dengan embel-embel millenial. Sayangnya, negara pada akhirnya diramaikan dengan kinerja para staffsus millenial yang nyeleneh. Bekerja tidak sesuai tupoksi, melanggar aturan hingga beberapa indikasi memperkuat bahwa yang bersangkutan memanfaatkan momen untuk katebelece, atau kongkalikong elit ala kepemimpinan Suharto dahulu. Dengan tujuan, cuan.

Tak lama pasca ramainya kinerja nyeleneh yang diperbuat para staffsus, Andi yang sempat memberi edaran kerja sama ber-kop kenegaraan pada seluruh camat di Indonesia untuk melawan COVID-19 dengan Amartha, financial technology (fintech) kepunyaannya. Dan Belva si pemilik aplikasi Ruang Guru yang kemudian perusahaannya ditunjuk dalam program kartu prakerja. Pada akhirnya yang bersangkutanpun mulai berguguran silih berganti. Dua orang staffsus, Andi dan Belva mengundurkan diri(24/4). Belum lagi penyimpangan staffsus yang tidak ditindak lanjuti dengan pencopotan jabatan. Kasus cuitan Billy yang mengaku ia sebagai staffsus sebanding dengan menteri lewat media sosial twitter, salah satunya.

Beberapa hal mendasari menyimpangnya kinerja staffsus millenial presiden ini, mulai dari ketidakpahaman akan tugas, hingga overlapping atau tumpang tindih kepentingan. Mengingat staffsus presiden ini bukan dari kalangan biasa, sebagian besar ialah ia yang menjadi founder perusahaan. Maka ada dua kepentingan yang dibawa oleh para staffsus, yakni kepentingan pribadi/perusahaannya dan kenegaraan sebagai posisinya di staffsus.

 Idealnya, seperti yang diungkapkan jokowi tentang kebutuhan teman diskusi. Fungsi staffsus ini, tentunya pembawa argumen dalam diskusi dengan presiden dan rekan staffsus lain. Tidak ada tindakan praktis yang menjadi hak seorang staffsus, termasuk itu staffsus milenial. Apalagi wewenang untuk memberi kebijakan layaknya seorang menteri. Hal ini sudah tertera dalam Peraturan Presiden 39 Tahun 2018 perihal wewenang staffsus.

Sesuai dengan konsep diskusi, beberapa orang yang terlibat di dalamnya ialah dia yang dapat membawakan pikiran dan argumen berbeda-beda tentang satu kasus yang dibahas bersama. Gagasan tersebut yang pada akhirnya dipersilangkan dalam diskusi dan melahirkan gagasan baru yang lebih kuat terhadap sebuah kasus atau isu khusus. Intinya, ada pemecahan masalah setelahnya (Uzer, 2005). Seperti ini jugalah yang harusnya terjadi pada kinerja staffsus yang dirancang untuk diskusi membahas isu yang dirasa genting.

Maka atas tupoksi idealnya ini, staffsus tentu dituntut memiliki kepekaan dan jiwa kritis akan masalah sekitar. Dengan melibatkan kekritisan pemikiran beberapa orang, maka diskusi tersebut tidak akan bergulir layaknya perbincangan biasa. Mungkin masih ada salah arti dalam menyikapi sikap kritis dan cerdas dalam pemilihan staffsus. Alasan pengangkatan tujuh staffsus presiden lebih didominasi kecerdasannya, termasuk latar belakang pendidikannya yang notabene lulusan kampus terbaik di dalam maupun luar negeri. “Mereka adalah anak muda cerdas, brilliant dan berprestasi.” Ujar Jokowi pada saat pengenalan staffsus. Atas hal ini, pengamat kebijakan publik Agus Pembagio ikut mengomentari bahwa penunjukan staffsus millenial lebih sebatas unjuk gigi saja karena latar belakang yang dimiliki.

Sangat penting untuk di-highlight bahwa, cerdas dan kritis memiliki perbedaan yang tajam. Cerdas ialah keadaan seseorang yang mampu memahami konsep teori dan pengaplikasiannya. Sedangkan kritis, ialah ia yang memahami konsep teori serta yang ada diluar teori termasuk gap(masalah) nya (Butler A. H, 2012). “Tak jarang bahkan, tindakan bodoh lebih banyak dilakukan oleh orang cerdas. Karena jarang adanya konsep pemecahan masalah di pikirannya ketika pengambilan keputusan.” Heather A. Butler.  Maka kiranya tidak perlu lagi ada bayangan semu untuk membedakan cerdas dan kritis, serta mana yang paling dibutuhkan untuk mengidealkan suatu kinerja.

Kini pertanyaannya, sudah tepatkah staffsus millenial terpilih untuk menjadi teman diskusi Jokowi? Apa yang mereka miliki selain latar belakang pendidikan luar negeri dan founder perusahaan? Mudah saja mengetahui apakah staffsus terlibat memiliki jiwa kritis dan mampu menopang jalannya diskusi. Orang yang berpemikiran  kritis dapat dikenali salah satunya dari banyak kontribusinya pada penelitian, critical literacy. Karena pada penelitian, melibatkan tindakan menganalisis masalah dan menghasilkan pemecahan objektif atau berdata (Sitta Thamar Van Bemmelon, Pengamat Gender). Setelah masalah yang terjadi, harusnya ada tahap evaluasi pada satffsus yang bersangkutan. Evaluasi memastikan kemampuan para staffsus millenial yang bertahan, pada critical literacy yang dimiliki. Dengan memperhatikan baik-baik rekam jejak termasuk seberapa banyak jejak penelitian yang diikutinya. Jika dirasa tidak mumpuni, keputusan pencopotan jabatan harus dilakukan tanpa ragu. Hal ini demi memaksimalkan kinerja staffsus. “Evaluasi dari tatanan staffsus milenial, hingga fungsi dan keberadaannya.” Alvin Nicola, Researcher Transparency International Indonesia.

Evaluasi ini sangat penting, mengingat gaji staffsus tidak kecil. Tercatat sebesar 51 juta rupiah setiap bulannya, belum lagi fasilitas lainnya. Angka yang besar untuk anggaran negara, yang sayang sekali jika tidak membuahkan kontribusi tepat. “Bisa membawa adanya pengeluaran besar negara yang tidak sebanding produktivitasnya.” Refly Harun, Pakar Hukum Tata Negara.

Jika sudah begini, masalahnya berimbas pada high cost of economy atau pemborosan  budget negara. Mengingat juga pada konsisi seperti saat ini, anggaran negara ialah hal yang urgent. Ada hal lain yang perlu difokuskan yakni salah satunya anggaran untuk memutus rantai COVID-19. Tentu kesejahteraan para staffsus millenial akan limpahan gaji ini, perlu ditegaskan. Karena kesejahteraan bukan hanya dibutuhkan para elit staffsus millenial.

Devidia

Devidia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *