Nasib Fasilitas Publik

Ilustrasi Oleh: Naurah Syifa

Corona Virus Desease 19 (Covid-19) merupakan pandemi baru dari negara China yang kini tengah gencar menyerang Indonesia. Tak hanya berimbas pada sektor ekonomi, pada nyatanya virus ini juga menghidupkan kembali budaya Indonesia yang telah lama tergerus kemajuan zaman. Budaya untuk mencuci tangan, kini bangkit kembali semata-mata untuk mengupayakan pencegahan penyebaran rantai Covid-19.

Masyarakat seakan baru saja tersadar bagaimana pentingnya mencuci tangan di tengah pandemi Covid-19. Padahal, budaya mencuci tangan sudah ada sejak dahulu. Dimana berbentuk petuah dan mitos dalam budaya Jawa yang berasal dari “sesepuh” terdahulu. Dulu acapkali ketika datang bepergian si mbah selalu bertutur, “Ayo nduk, cuci tangan dan kaki biar nggak diikuti setan”. Ya, petuah yang diselimuti oleh mitos tersebut terbilang ampuh untuk membudidayakan cuci tangan, jauh sebelum Covid-19 meradang di Indonesia.

Kali ini, di suasana pandemi Covid-19. Pemerintah turut andil dalam mencegah penyebaran rantai virus ini dengan cara menyediakan fasilitas cuci tangan yang dilengkapi dengan wastafel dan sabun cuci tangan di sejumlah lokasi keramaian. Pemerintah kota (Pemkot) merupakan pihak yang secara langsung bertindak dalam hal ini, dengan menyiapkan anggaran khusus untuk Covid-19. Contohnya saja seperti Pemkot Bandung, Jawa Barat, menyiapkan anggaran sebesar 75 miliar rupiah untuk memenuhi berbagai kebutuhan penanganan Covid-19. Khususnya untuk penyediaan fasilitas cuci tangan dan hand sanitizer.

Kota lain, Pasuruan yang sudah tergolong red zone, dimana Pemkot Pasuruan menyediakan 140 fasilitas cuci tangan yang tersebar di jalan protokol. Pemasangan ini dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Pasuruan, di 12 lokasi jalan utama, beberapa diantaranya adalah jalan Pahlawan, Balaikota, Niaga, Nusantara, Hayam Wuruk, Slagah, Dr Wahidin Sudiro Husodo, Untung Suropati, dll.

Dibalik upaya pemerintah untuk mencegah penularan Covid-19, masih terdapat pihak tak bertanggung jawab yang membuat ulah. Faktanya saja tak selang beberapa minggu beberapa dari fasilitas di kota Pasuruan hilang, mulai dari sabun cuci tangan dan tong air yang kini tak lagi berada ditempatnya, dilansir dari sosial media Instagram @seputarpasuruan yang memposting hilangnya fasilitas cuci tangan di salah satu jalan protokol kota Pasuruan.

Kehilangan dan kerusakan fasilitas cuci tangan ternyata tak hanya terjadi di Kota Pasuruan, melainkan juga di Kota Surabaya. “Paling banyak yang tidak ada di tempat adalah tempat sabun dan wastafel, ada juga yang krannya patah,” ucap Robben selaku Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang, Surabaya.

Fenomena yang tergolong miris tersebut seharusnya tidak terjadi di tengah pandemi Covid-19 di Indonesia. Masyarakat seharusnya bersama-sama menjaga fasilitas cuci tangan yang diberikan baik dari pihak Pemkot ataupun pihak yang secara sukarela memberikan fasilitas cuci tangan tersebut. Tindakan yang tidak wajar jika fasilitas publik tiba-tiba lenyap dari tempatnya. Bagaimana bisa mendukung kinerja pemerintah, jika masih ada pihak yang mencari keuntungan di tengah pandemi Covid-19.

Kesadaran untuk menumbuhkan rasa menjaga fasilitas yang telah disediakan secara bersama-sama seharusnya telah terpatri di dalam pribadi masyarakat masing-masing. Masyarakat bisa menjadi agent of change dalam tindakan pencegahan penyebaran rantai virus ini. Bukan malah menjadi agen perusak.

Antara Pemerintah dan Masyarakat Harus Bersinergi

Untuk menanggulangi fenomena ini, tidak hanya masyarakat yang harus selalu menjaga fasilitas di ruang publik tersebut, tetapi pemerintah juga harus siap siaga berkontribusi di dalamnya. Bukan hanya dalam bentuk give facility melainkan juga protect facility. Hal tersebut bisa saja dilakukan dengan mengerahkan pihak berwajib, contohnya saja Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dalam menjaga dan memantau kondisi fasilitas tersebut dalam beberapa waktu pemantauan, mungkin juga sembari menegakkan peraturan dalam membubarkan masyarakat yang masing tetap saja berkumpul di keraimaian tanpa tujuan.

Sinergi. Kata yang tepat untuk menggabungkan kekuatan pemerintah dan masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Sinergi bisa saja dilakukan dengan cara bergotong-royong daalam upaya penanggulangan penyebaran rantai Covid-19. Dintinjau dari pemerintah yang memberi fasilitas cuci tangan dan mengerahkan pihak berwajib untuk pemantauan, serta masyarakat yang harus menjaga fasilitas tersebut agar tetap baik dan melakukan pelaporan pada pihak terkait jika timbul kendala dari fasilitas tersebut.

Erlinda Rachmanita

Erlinda Rachmanita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *