Ramadhan, Maafkan Diriku

Ilustrasi Oleh: Naurah Syifa

Tik… tok… tik… tok…

Apa yang sudah aku lakukan hingga detik terakhir dia akan meninggalkanku. Aku bisa mengatakan, dari lubuk hati terdalamku, aku tidak berbuat apa-apa. Ramadhan, bulan itu masih dengan senang hati datang kepadaku dan pemilikNya, masih mengizinkanku untuk melewatinya. Walaupun, aku terus mengabaikan dan meninggalkannya. Tugas-tugas yang menumpuk, profesionalisme dipertanggungjawabkan, dan ujian kewarasan tiap harinya.

“Persetan dengan semua itu! Ini semua salah si virus, bukan diriku!” geramku sambil meringkukkan badan. Aku masih ingat dengan jelas. Setahun yang lalu, di tempat yang sama – rumahku. Aku masih bisa melaksanakan tarawih di mushola dekat rumah. Bertemu dan bertegur sapa dengan tetangga yang sudah aku kenal selama 13 tahun. Aku bisa dengan leluasa jalan-jalan bersama sahabat karibku. Menghabiskan waktu dengan canda tawa dan cerita – bisa dikatakan lelucon garing kami, hingga menjelang berbuka puasa. Aku merindukan kenangan itu.

KANDAS. HANCUR. Ramadhanku kali ini hanya dilalui dengan setumpuk tugas yang semakin menggila tiap harinya dan kegiatan serba online yang sangat membosankan. Terlebih lagi aturan konyol yang sangat mengekang jiwa ekstrovertku, demi si virus “gila” itu tidak semakin berulah. SIAL. Virus itu sudah meregut semua rencana dan harapanku! Sedih, marah, kecewa – rasa itu kian berkecambuk dan menjadi satu dalam diriku.

Air mata. Hanya itu jawaban yang aku bisa berikan dari setumpuk rasa dalam benakku. Aku berusaha mengusap tiap tetes air mata yang jatuh, bahkan tisu dalam tasku sudah tidak mampu mengusap hingga tetes terakhir. DILEMA. Aku tidak bisa egois hanya menyalahkan si virus. Aku harusnya bertanya pada diriku sendiri, “Apa kamu, sebagai manusia, tidak merasa bersalah? Apa kamu belum sadar, dirimu yang dilabel sebagai manusia berakal, sudah kah memanfaatkan potensi itu? Atau justru, lebih lucu lagi, apa kamu menyalahgunakan potensi itu dalam bertindak dan hanya mementingkan ego bodohmu itu?!” Sudah cukup aku bertaruh nasib di duniaku. Aku tidak ingin bertaruh juga dengan akal pikirku.

Aku tidak ingin menghitung hari demi hari dan meratapi dosa-dosaku kepada Ramadhan. Aku hanyalah manusia biasa, memiliki akal dan nafsu. Mirisnya, akalku sering kali kalah dengan nafsuku. Aku bukanlah malaikat yang bisa mengetahui list dosaku. Aku bukanlah robot yang serta merta diberi perintah kemudian melakukannya. Aku manusia, juga memiliki rasa. “Naif sekali dirimu menulis pembelaan, tapi di lain sisi kamu justru menyalahkan si virus,” gumamku.

Ahh…

Aku bertele-tele sekali. Apakah sikapku ini menunjukkan aku ingin menghindar atau lari lagi dari kenyataan? Sudah, cukup.

AKU MINTA MAAF, RAMADHANKU!

Tulisku dalam sebuah note kecil. Sayangnya, harga diriku, tidak! Egoku ini masih sangat tinggi untuk secara lugas mengatakan satu kalimat itu kepadamu. Bahkan aku menyimpan note itu dalam tasku. Hanya aku, kamu, dan diriNya saja yang mengetahui. Ahh… satu kalimat itu cukup membuatku seperti orang mabuk, bahkan hanya untuk mengucapkan – lebih tepatnya, menulisnya. “Aku berharap kamu dan aku dapat bertemu kembali. Semoga diriNya masih mengizinkanku bertemu dengan. Ah, mainstream sekali diriku!” Tulisku sebagai epilog dalam note kecilku.

Naurah Syifa Salsabila

Naurah Syifa Salsabila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *