Harga dan Takdir di Sepenggal Kisah Penyadap Nira Karangsonga

Judul : Bekisar Merah

Penulis : Ahmad Tohari

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman : 312

Peresensi : Devidia

“Tangan gurita itu makin tangguh melembaga, orang lemah hanya bisa pasrah dan bilang bahwa ini sudah nasib.”

Harga yang stabil, hal yang didambakan oleh berbagai pihak. Tuntutan sana-sini bisa dilontarkan jika harga melonjak, demi penormalan. Bahkan kadang kondisi kebablas rendah, sering diharapkan. Dalam novel ini kita akan dihadapkan gambaran yang terjadi jika harga merosot, seperti yang dialami warga Karangsonga yang notebene menggantungkan hidup dari hasil panen nira atau air getah. Harga yang jatuh rendah merupakan masa sulitnya karena penghasilan tidak lagi mampu diperbelikan satu kilo beras. Sayangnya, mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain angguk pada alasan para pengepul yang seyogyanya tidak terlalu dipahami perihal “terjadi pengurangan permintaan dari pihak atas”. 

Lasi, istri seorang penyadap nira juga demikian. Berapapun yang Darsa, suaminya berikan dari hasil panen nira, itulah yang wajib diterima. “Seorang istri harus narima”, begitulah paten para sesepuh Karangsonga yang juga dijunjung tinggi Lasi. Termasuk menerima ketika Darsa jatuh dan mengalami kelumpuhan akibat pekerjaannya. Lumpuh, bencana yang masih ringan dibanding dengan mati karena jatuh dari pohon dan badan terbelah arit yang dibawa. Badan terhunus pohon kecil apalagi, sudah biasa bagi penyadap nira Karangsonga. Lika-liku kehidupan terus saja menghampiri Lasi. Hingga ia dipertemukan dengan kondisi kota, di mana apapun bisa dijual, termasuk paras cantik dan tubuh molek. Bahkan dengan harga jual yang bukan main melebihi harga nira yang selalu memiliki bahaya mengintai saat panennya.   

Novel Bekisar Merah ini memiliki gambaran yang baik pada masalah kompleks yang dialami warga desa. Baik itu masalah politik, sosial, budaya, maupun ekonomi yang tergambar pada lika-liku hidup Lasi. Karya Ahmad Tohari si sastrawan sekaligus budayawan ini telah diterbitkan dalam berbagai bahasa, Jepang, China, Belanda dan Jerman. Meski termasuk sastra lama, masalah yang diangkat masih cukup relevan dengan keadaan yang ada saat ini dengan bahasa yang juga mudah dipahami.

               Selamat membaca dan lebih dekat dengan masyarakat kelas bawah, tak lupa juga dengan, masalahnya. 

Devidia

Devidia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *