Alarm Lanjutan Untuk Sinetron Indonesia

Ilustrasi Oleh: Devidia

Beberapa waktu telah berlalu, kita lewati bersama pandemi Corona Virus Disease 19 (COVID-19) serta beragamnya kebijakan yang ada. Mulai dari pembatasan sosial hingga pelonggaran kembali atau yang biasa disebut New Normal. Walaupun saat ini pelonggaran telah digencarkan, beberapa kaum muda tetap tidak dapat beraktivitas pada sekolah dan kampus dengan semestinya. Sebagaimana bentuk kebijakan new normal pendidikan yang tetap memasifkan sekolah dan kuliah online pada beberapa zona yang tidak aman. Hal ini membawa aktivitas di rumah saja bagi kaum muda tak terelakkan adanya hingga mendorong semakin dekatnya pada akses film atau juga drama.

Hallyu atau gelombang Korea di Indonesia pun semakin melebarkan sayap. Ditambah dengan keadaan drama Korea yang banyak menjadi trending topic di media sosial, hallyu tidak hanya mewakili penggemar lama dari Korean Pop (K-pop) atau juga Korean Drama (K-Drama). Trending topic tentang drama Korea membawa beberapa orang menjadi hallyu baru dadakan.

Mirisnya dilain sisi, sinetron Indonesia belum mampu memanfaatkan momen ini. Peminat sinetron Indonesia semakin teralih. I-flix sebagai salah satu penyedia film dan drama online melalui riset terbarunya menyatakan bahwa di Indonesia per bulan Mei 2020, jumlah peminat pada K-drama tetap dominan daripada sinetron Indonesia. Padahal kuantitas antara keduanya disediakan dalam jumlah yang tidak timpang.

Sebenarnya fakta ini bukan kali pertama yang ada, bahkan telah ada sebelum kedekatan antara masyarakat dan film di tengah pandemi ini terjadi. Sinetron Indonesia sudah berulang kali mendapatkan semacam alarm untuk menyesuaikan diri. Mulai dari tersaingi dengan tayangan India, hingga lelucon yang ramai dibawakan warga pengguna internet berbahan sinetron Indonesia. Misalnya adegan kesedihan yang dibawakan Naysila Mirdad “Aku jijik sama mas, aku benci,” yang banyak diplesetkan. Juga beberapa skema pemasangan alat medis yang dianggap tidak realistis, kecelakaan mobil yang lukanya selalu ada di jidat padahal posisi kecelakaan di kaki, serta beberapa hal lain yang lagi-lagi menjadi bahan lelucon kaum muda di internet Indonesia.

Seharusnya fenomena ini perlu dikaji dan dipertimbangkan. Terlebih hal ini juga menjadi saksi perjalanan menuju kerasionalan dari para penonton Indonesia khususnya kaum muda yang aktif dalam nonton film dan drama online. Mulai ada pemilah-milahan mana tontonan yang realistis, tidak membosankan, dan berkualitas baik. Pada alarm untuk sinetron Indonesia yang kesekian ini, melalui pandemi dan keberpihakan masyarakat pada tontonan K-Drama, maka sinetron Indonesia harus melakukan inovasi atau pembaharuan. Baik dari sistem penyusunan sinetron maupun penyusunan alur cerita.

Sebagai contoh, mari kita menelisik salah satu drama korea terkini yang tengah mencuri hati masyarakat Indonesia, The World of The Married. Jika ditelisik, jenis cerita yang ditawarkan tidak jauh berbeda dari tayangan sinetron Indonesia. Menampilkan seputar kisah keluarga dan prahara rumah tangga ketika orang ketiga hadir. Sinetron Indonesia pun juga banyak dengan tema yang demikian. Lantas, mengapa masyarakat cenderung memilih K-Drama ini, dibanding sinetron Indonesia. Ada hal menarik dari K-drama yang bukan hanya pada paras wajah para pemeran atau suguhan kiss scene saja. Terlepas dari fakta bahwa, K-Drama The World of The Married paling banyak menyuguhkan adegan dewasa, hingga selama penayangan di Korea pada akhirnya diberikan batasan umur untuk tayangan ini.

K-drama, termasuk serial The World of The Married memiliki sistem penyusunan melibatkan kekonsistenan para tim kreatif, penulis, pengambil gambar hingga editor. Kekonsistenan yang dimaksudkan ialah konsep cerita yang dibawakan tidak berubah-ubah dan dipatenkan sebelum saat teknis syuting dijalankan (CNN News). Hal ini membuat pembawaan karakter dari pemeran dapat disesuaikan dan dimaksimalkan. Alur cerita yang dibuat dari K-drama juga selalu menambahkan konflik di setiap akhir episode, yang membuat penonton penasaran akan kelanjutan ceritanya. Serta konflik yang disusun tidak terlalu menjauhi keadaan realita. Intinya K-Drama The World of The Married ini sangat related dengan kehidupan sehari-hari dan tidak membosankan karena konflik meningkat dari tiap episodenya.

Penggarapan The World of The Married ini sesuai dengan konsep penggarapan tayangan yang ideal. Dimana melibatkan kekonsistenan tim kreatif serta pemaksimalan kinerja penulis. Termasuk penyusunan naskah,  wajib memiliki alur kerja yang baik hingga pada tahap riset konflik dan kerealistisan cerita (Prananto, 2003). Hal tersebut menjadi kesulitan tersendiri jika diterapkan di sinetron Indonesia yang tersistem stripping atau syuting harian dengan penayangan di layar kaca yang juga setiap hari. Juga dengan fakta yang ada bahwa pembuatan naskah dalam sinetron Indonesia digarap secara harian. Syuting untuk malam hari, cerita dibuat pada pagi hari. “Hal inilah yang membuat sinetron Indonesia jeleknya minta ampun.” Ucap Nafa Urbach, salah satu artis tanah air.

Jika tidak mampu memenuhi konsep penggarapan film atau tayangan yang baik dengan konsistensi tim kreatif, termasuk riset pematangan cerita, seharusnya sinetron Indonesia tidak stripping. Hal ini berpengaruh pada kualitas yang dibawakan dari cerita. Juga pembawaan karakter pemeran yang ada. Kesuksesan The World of The Married ini seharusnya dapat menjadi benchmarking. Mengingat sinetron cukup menjadi teman baik bagi beberapa masyarakat Indonesia, maka cerita yang berkualitas, dengan pesan yang baik akan memberi kontribusi pembentukan daya pikir masyarakat juga.  Selain itu, jika dibiarkan sinetron Indonesia tanpa inovasi di tengah berjalannya kerasionalan pola pikir penonton Indonesia, kerugian biaya produksi sinetron dan pengurangan peminat, kedepan akan selalu menjadi ancaman nyata.

Devidia

Devidia

One thought on “Alarm Lanjutan Untuk Sinetron Indonesia

  1. Pemaparan opini yang menarik mengenai sebuah komparasi sinema Indonesia dengan sinema luar negeri yakni drama Korea, namun ada hal yang cukup menarik perhatian saya yakni mengenai generasi muda yang seolah olah sangat tertarik dan cinta dengan sinema drama atau apalah itu namanya, mungkin perlu ditekankan lagi jika dalam kemajuan teknologi atau modernisme masa kini tontonan yang kurang memiliki sisi pedagogis sejatinya sudah merajalela dan tidak bisa kita hindarkan, seperti contoh dalam beberapa dekade belakangan banyak sekali sinema dari luar negeri yakni dari Negara India yang menginvasi jagad pertelevisian tanah air, lalu kemudian masa sinema India tersebut mungkin sudah tergerus dalam citranya sehingga menimbulkan titik bosan dan akhirnya hal tersebut direspon dengan menyajikan drama korea ke tanah air. Drama sejatinya sarat akan sebuah settingan manis dan konflik yang membuat para pemirsanya terbelanga dan betah untuk menyaksikan hingga akhir episode, memang tidak bisa dipungkiri menonton drama merupakan suatu keasyikan fantasi yang tidak bisa digambarkan, hasrat serta emosional terkadang muncul kala menonton sinema semacam itu, yang menjadi kacau jika hasrat serta konstruksi emosional dari sinema tersebut diaplikasikan dalam koridor sosialnya. Seseorang yang terdoktrin dengan sebuah sinema dan drama akan menganggap kehidupan sosialnya hanya sebuah setinggan dan seolah olah tidak perlu menerapkan etika sosial dan norma sosial dalam konstalasinya sebagai seorang insan. Apalagi hal ini dilakukan oleh remaja yang rata rata (tidak semuanya) menyaksikan drama dengan berbagai intrik, tidak bisa dibayangkan jika remaja terpapar hal hal emosional yang terkandung dalam sebuah drama, saya rasa jika melihat realitas sosial tentu tidak itu saja bahayanya ada juga yang sampai menurunkan tingkat produktivitas remaja yang seyogyanya diproyeksikan dalam estafet kepemimpinan di bangsa ini. Entah bagaimana jika drama drama tersebut semakin menjadi jadi kemudian membuat karakter remaja yang militan akan sebuah pengetahuan menjadi loyo dan mudah pasrah jika menghadapi situasi sulit. Mungkin itu tanggapan saya terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *