Menguak Makna dibalik Bacaan Tabu

Judul                          : TUHAN IZINKAN AKU MENJADI PELACUR! Memoar Luka Seorang Muslimah

Penulis                      : Muhidin M Dahlan

Penerbit                    : Scripta Manent

Jumlah Halaman     : 269

Peresensi                   : Erlinda Rachmanita

Novel karya Muhidin M. Dahlan kali ini diangkat dari kisah nyata yang telah dilakukan wawancara secara mendalam beberapa minggu dengan pihak terkait oleh penulis. Berkisah tentang seorang mahasiswa baru di salah satu Universitas Yogyakarta yang mencoba untuk menjadi muslim kaffah. Tokoh utama yang bernama Nidah Kirani mulai menjejakkan kedua kakinya memasuki ruang organisasi yang menawarkan nuansa sufistik dan kemudian merambah menguasai doktrin pemikiran, hingga ia dibaiat sepenuhnya. Sebagaimana seorang mahasiswa awam, kini kepribadiannya perlahan dikoyak, dibongkar, dan dicekoki pemahaman baru.

Pada suatu ketika, Kiran dihadapkan pada satu titik dimana organisasi yang diikuti kini tak berada pada haluan yang sebenarnya dan membuat Kiran berasumsi bahwa Tuhan telah mengkhianatinya. Sehingga ia terjerembab masuk ke dalam dunia hitam. Dunia dimana ia mulai melepas jubah dan kerudung besar yang menjuluri tubuhnya, mengonsumsi obat-obatan terlarang, dan melakukan free sex. Ya, bayangan sebagai seorang muslim yang kaffah kini seakan dihempas paksa olehnya.

Novel yang menjadi booming di kalangan masyarakat Indonesia itu menuai berbagai macam kontroversi. Tema novel yang dicap tabu oleh masyarakat semakin menuai kontra yang hebat, seperti yang dikatakan Trudgill (1983: 94) “Taboo is something which is forbidden, because it’s against the religion or social custom”. Apalagi berkembang di negara bagian Timur seperti Indonesia. Dimana kepercayaan bahwa Tuhan tak pernah mengecewakan sudah mendasar untuk tetap selalu digenggam erat.

Namun, jika menelisik makna dibalik kisah tabu itu, perlu diketahui bahwasanya novel tersebut mengupas begitu gampangnya seorang mahasiswa awam terjerumus ke dalam organisasi bayangan yang mengumbar nama islam. Serta menjabarkan bagaimana kemunafikan para aktivis mahasiswa yang sering ditiduri atau meniduri Nidah Kirani, yang pada dasarnya para aktivis yang berhaluan sosialis (kiri) dan berhaluan islami (kanan) seringkali memperjuangkan makna kebajikan dan moralitas di tengah masyarakat. Bahkan kedok seorang dosen yang juga berprofesi sebagai Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dari fraksi perjuangan syariat Islam, ternyata juga menawarkan diri pada Nidah Kirani untuk menjadi germonya dalam dunia pelacuran.

Sebagai seorang mahasiswa, jika menarik pelajaran dari novel tersebut sebaiknya selalu mawas diri terhadap berbagai organisasi yang dibumbui dengan nama Islam dan tidak mudah percaya tanpa menelisik akarnya terlebih dahulu. Selain itu, mengajarkan betapa pentingnya melatih diri dengan kegiatan positif agar tak mudah terjerembab masuk ke dalam hitamnya dunia luar.

Kelebihan dari novel yang dapat mengikat pembaca tertuai ketika cerita pergolakan pikir dan hati seorang Kiran mulai berkecamuk dengan berbagai problematika yang dihadapinya. Tak dapat dipungkiri hal tersebut mulai mengaduk-aduk sisi emosional pembaca. Juga alur cerita yang tak dapat ditebak membuat pembaca ingin segera berada pada bab akhir atau menuntaskan dengan cepat aktivitas membacanya.

Tak hanya mendulang kelebihan. Novel “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Memoar Luka Seorang Muslimah” juga mengaksenkan beberapa kekurangan yang terlihat pada peribahasa metafora yang terlalu dipaksakan. Terdapat beberapa tokoh yang keberadaan dan perannya tidak mendalam seperti Midas, Dahiri, serta beberapa penggal kisah yang bisa dikatakan out of topic dalam alur cerita.

Ketika membaca novel  “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Memoar Luka Seorang Muslimah”,  disarankan memiliki kejelian untuk menafsirkan makna yang tersembunyi dalam alur kisah yang ada, guna memberi pandangan baik dan buruknya cerita untuk dijadikan suatu pelajaran berharga bagi pembaca yang dapat dipetik dari sebuah novel epic karya Muhidin M. Dahlan.

TABIK!

VERBA VOLANT, SCRIPTA MANENT.

 

Erlinda Rachmanita

Erlinda Rachmanita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *