Referensi untuk Lembaga Pers Masa Kini

Judul          : Bisnis Media dan Jurnalisme di Persimpangan

Penerbit    : Dewan Pers

Edisi           : 15 – November 2017

ISSN           : 2085-6199

Peresensi  : Shofiahtu

Pada tahun 2017, dunia sempat ramai dengan revolusi industri 4.0 atau yang identik dengan perkembangan teknologi informasi. Penggunaan teknologi informasi khususnya berbasis internet mampu mengubah pola perilaku manusia menjadi berperilaku secara digital. Misalnya dalam bidang pemasaran, seseorang atau pelaku bisnis dapat mempromosikan produknya hanya melalui gawai atau komputer miliknya tanpa perlu bekerjasama dengan penyedia jasa pengiklanan. Selain itu, masyarakat kini dapat melakukan transaksi jual beli tanpa perlu keluar rumah. Dalam hal ini, mudah dan murah menjadi poin unggulan dari penggunaan media digital.

We Are Social bekerjasama dengan Hootside, menunjukkan hasil riset bahwa telah terjadi peningkatan pengguna internet di dunia termasuk Indonesia pada tahun 2020. Indonesia berada pada peringkat ketiga pertumbuhan pengakses internet di dunia yaitu sebesar 17% dalam satu tahun terakhir. Terdapat 64% penduduk Indonesia merupakan pengakses internet dengan rata-rata penggunaan selama 7 jam 59 menit. Di lain sisi, rupanya hal ini telah memberikan peluang sekaligus ancaman bagi beberapa organisasi yang bergerak di bidang jurnalistik. Kehadiran media online telah memunculkan “generasi baru” jurnalistik, yakni jurnalistik siber. Jurnalistik ini menimbulkan berbagai permasalahan mulai dari masalah etik, nama media, hingga perilaku wartawan yang mengaku dari media siber, dan lain-lain.

Dewan Pers Indonesia melalui jurnal edisi 15 yang berjudul “Bisnis Media dan Jurnalisme di Persimpangan” mencoba menjelaskan bagaimana lembaga pers menghadapi tantangan di era digital. Apakah lembaga pers harus mengikuti perkembangan zaman seperti menggunakan media-media online atau tetap menggunakan koran dan majalah (paper base) sebagai media terbitan?

Perpindahan bentuk penerbitan dari cetak ke sepenuhnya digital menjadi tantangan yang harus dihadapi para penerbit media cetak. Pertama, aspek sumber daya manusia (SDM) menghadapi perubahan kultur dari cetak ke budaya paperless. Kedua, gaya penyajian konten pada media cetak jelas berbeda dengan media online atau digital. Aspek ketiga, sinergi kerja dan konten menjadikan kerja jurnalis serta awak media non redaksi menjadi ganda (multitasking). Seorang jurnalis kini dituntut mampu mengolah kontennya menjadi dua produk untuk versi cetak dan digital sekaligus. Selain itu, di dalam jurnal ini penulis juga memberikan contoh bagaimana lembaga pers seharusnya mampu bertahan di era digital. Sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang pemberitaan, apa saja kemampuan yang harus dimiliki lembaga pers?

Perjalanan National Geographic Society (NGS) dapat menjadi model, bagaimana pemberitaan berorientasi kepentingan publik. Walaupun di satu sisi, pada tahun 1999 pendapatan langganan NGS pernah menurun secara signifikan, dari 284 juta dolar AS di tahun 1999 menjadi 211 juta dolar AS di tahun 2009. Namun setelah membuat taruhan besar pada berbagai bentuk media, di Internet, film, TV, pemrograman kabel, NGS mampu kembali bertahan dalam eksistensinya selama ratusan tahun.

Mekanisme bisnis informasi NGS terlihat selalu mengutamakan tata kelola informasi multimedia, multitasking, multiplatform, dan multichannel, yang bersanding dengan kebutuhan, keinginan sekaligus kepentingan publik. Secara manajemen telah menerapkan sistem teknologi informasi multimedia, kemudian multitasking dari sisi kinerja wartawan, multiplatform dari alur kerja semua unit pemberitaan, dan multichannel dari sisi penyebaran berita dari kelompok media massanya.

Secara keseluruhan tulisan pada jurnal ini sangat mudah dipahami. Karena selain penyajian alur penulisan yang enak dibaca, tulisan ini juga menyajikan data-data secara aktual baik itu primer ataupun sekunder. Hanya saja, penjelasan yang sangat mendetail serta penyajian data-data yang cukup banyak seputar fakta-fakta yang terjadi membuat tulisan didalam jurnal ini terkesan membosankan. Di dalam jurnal ini, Dewan Pers membedakan tulisan ke dalam empat kolom, yaitu fokus utama, potret, analisis dan pernak-pernik. Kolom pernak-pernik menjadi kolom yang menarik karena pada kolom ini tulisan disajikan dalam bentuk yang berbeda dari tulisan sebelumnya yaitu bentuk resensi.

Dari segi tampilan, pada gambar halaman cover cukup mengilustrasikan isi dari jurnal. Dewan Pers mencoba mengenalkan para penulis pada setiap tulisan dengan menampilkan gambar disertai identitas penulis. Seperti jurnal pada umumnya, bentuk tampilan layouting yang begitu padat dengan kata-kata, minim gambar dan penggunaan warna pada setiap halaman membuat jurnal ini terlihat monoton.

Shofiahtu Adita

Shofiahtu Adita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *